Hati Pengganti Sang Dokter

Hati Pengganti Sang Dokter
Part 1


__ADS_3

...****************...


Drap


Drap


Drap


Langkah kaki yang terdengar keras dan cepat itu membuat siapa pun di depan mereka langsung menyingkir, "Bagaimana keadaan pasien?"


"Dari laporan ambulance tekanan darah sangat rendah, luka tusuk sedalam 5 centimeter, luka di kepala, dan patah tulang pinggul"


"Pasien dua mengalami syok hipovolemik, terdapat patah tulang iga yang menusuk paru-parunya"


"Dokter bedah aktif apa hanya aku?"


"Ada dokter Tata dan Dokter Sita"


"Panggil Sita, Tata baru saja shift malam"


"Baik Dok!" salah seorang Perawat itu langsung berbalik dan berlari menuju ruangan Dokter Sita.


"Alf siapkan ruang operasi"


"Baik Dok" Perawat berbadan kecil itu langsung berjalan cepat menuju tempat yang Dokter itu katakan.


Setelah beberapa jam operasi pada dua pasien itu berlangsung, akhirnya dua Dokter itu keluar dengan salah satu Dokter berantakan dimana darah berada hampir di seluruh pakaian operasinya.


"Keluarga Tuan Faris?" panggil Dokter perempuan dengan darah dimana-mana itu.


"Saya istrinya, bagaimana keadaannya Dok?"


Dokter itu tersenyum, "Suami anda selamat, tapi masih perlu dipantau karena keadaannya yang masih belum stabil. Sementara kami tempatkan Tuan Faris di ICU agar mudah di pantau, jika anda masih ingin bertanya tentang keadaannya anda bisa menemui saya di ruangan" jelas Dokter perempuan itu seraya menunduk, "Saya permisi" pamit Dokter itu yang melepas pakaiannya yang penuh dengan noda darah.


"Wah hebat juga kau bisa menyelamatkan nyawa yang mustahil itu ya, Aly?" celetuk Dokter cantik, sambil menatap Dokter yang dipanggil Aly tadi dengan tatapan tidak suka.

__ADS_1


"Aku hanya menjalankan tugasku, kau urus saja pasien milik mu, Sita" balas Aly seraya meninggalkan Sita yang kesal dengan jawaban acuh Aly.


Diruangannya Aly menatap sebuah kalung dan foto sampai terbengong, "Jadi pahlawan lagi hm?" suara seorang laki-laki membangunkan Aly dari kegiatan melamunnya.


Aly POV


Aku menatap tajam pria yang bersandar di ambang pintu ruangan ku. Jika saja dia bukan teman ku, sudah ku hapuskan dia dari dunia ini.


Dia berjalan dan duduk di sofa ruanganku, "Lys, dengar kau jan…"


"Jika kau kemari hanya untuk berceramah, lebih baik kau pergi saja" potong ku yang kemudian meninggalkan dia.


Ah iya perkenalkan nama ku Alyssa Mustika Arikinan. Biasanya aku di panggil Aly atau Lysa. Seperti yang kalian lihat, aku seorang Dokter Bedah dan hebatnya aku baru menginjak umur 20 saat aku sudah bekerja sebagai Dokter seperti sekarang. Kini aku tinggal sendiri di kota yang bisa dibilang sedikit terpencil. Ini dikarenakan aku mengambil tugas sebagai Dokter Bedah cadangan di rumah sakit ini. Tadinya ada 4 Dokter Bedah senior di rumah sakit ini, tetapi sekarang hanya ada 3.


Aku adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Adik pertamaku masih kuliah dia hanya berbeda satu tahun dariku. Dan yang satunya baru berusia 10 tahun, bisa di bilang selisih kami cukup jauh, 12 tahun.


Dokter berbadan cukup besar dengan kacamata tadi bernama Arif. Dia adalah sahabat sekaligus teman satu kampus ku dulu di luar negeri. Tapi seperti yang kalian lihat juga, dia sedikit menyebalkan.


"Oh, lihat siapa yang ada disini?" celetuk kan seorang perempuan berkerudung biru lengkap dengan stetoskop yang di kalung kan di lehernya, bersama seorang perempuan berpakaian Perawat dengan rambut di cepol satu.


Aku hanya bisa melihat mereka datar, "Puas menghina ku?".


"Tapi emang wajah mu terlihat mengerikan, Ly" aku menatap tajam perempuan lebih tepatnya Asisten Perawat ku dengan tatapan tajam dan menusuk, "Kenapa?".


"Kau itu membela ku atau mereka sih, Alf?".


Suster itu tertawa kecil, "Aku netral aja deh, daripada buat masalah sama kamu".


Mendengar jawabannya, dua orang di depan ku juga ikut tertawa puas. Ah iya Dokter tambun itu bernama Ayda, dia adalah teman baik ku di rumah sakit ini. Di sebelahnya adalah Iza, dia Asisten Perawat milik Ayda dan juga sahabatnya sejak SMA, entah bagaimana bisa mereka terus bersama sampai sekarang. Si kecil dan mini di sampingku ini Asisten Perawat ku, Alfi namanya. Walau begitu kami bisa dibilang sudah seperti sahabat yang mengerti satu sama lain.


Setelah puas mengejek diriku, kami berpisah karena berbeda ruangan kontrol pasien.


"Aly, kau ingin pergi ke ruangan sekarang?" tanya Alfi sambil melihat data pasien kami.


Aku yang tadi sedang mengecek handphone menjadi menatapnya bingung, "Ho'oh, paling aku mau nyantai dulu. Ada apa?"

__ADS_1


"Sepertinya kau harus terus pantau handphone malam ini, pasien yang bernama Bakhtiar sedikit meresahkan dari pagi tadi" jelas Alfi sambil menyerahkan data pasien tadi.


Aku mengangguk dan memberikan Alfi data-data tersebut, "Katakan pada koas yang jaga untuk tetap pantau dia, dan katakan pada Anis untuk datang lebih awal besok" Alfi mengangguk dengan semua perkataan ku.


...~...


Baru saja aku akan menidurkan kepalaku di meja ruangan ku, pintu terbuka dengan paksa. Aku berdecih pelan dan menatap Ayda yang tersenyum manis.


"Tau gak tadi aku ngeliat cowok keren banget, kalo diliat-liat dia seumuran sama aku, terus…" aku tidak mendengarkan semua perkataan Ayda dan memilih memejamkan mata, "Ditambah dia keknya…Ly? Astaga Aly, kamu gak dengerin aku ya?!"


Aku hanya bergumam dan melanjutkan tidurku yang tadi terganggu, "Aly!" teriak Ayda tepat di telingaku dan membuatku terkejut, sehingga…


Bugh.


Aly pov end.


Klek.


"Lys, kita di panggil…kalian sedang apa?" Arif terdiam mematung sambil memegang handle pintu dan melihat dua manusia bergender perempuan itu seperti sedang adu gulat.


"Minggir gak usah ikut campur, kuda nil ini menantang aku"


"Aku kan cuma mengagetkan mu saja"


"Ya Hyang Widi, Lysa Ayda please jangan kek anak kecil"


"Diam"


"Dah" Ujar Arif sambil melewati dua perempuan itu dan mengambil Ice Cream dari dalam kulkas Aly, "Atasan manggil kita, katanya ada hal penting" lanjutnya sambil menyekop Ice Cream kedalam mulutnya.


"Ice Cream ku!"


"Oh maaf, Ice Creamnya manggilin"


"Arif!"

__ADS_1


...****************...


__ADS_2