Hati Pengganti Sang Dokter

Hati Pengganti Sang Dokter
Part 17


__ADS_3

...****************...


Tyno PoV


Sejak awal aku kenal dia memang terlihat mencurigakan. Aku terus menatap kepergian Dokter bernama Arif itu dengan tatapan tajam, 'Bahkan dia juga menyeret Perawat milik Alyssa' pikirku sambil terus menatap tajam arah keluar mereka. Lirikan ku berpindah pada Alfan yang tengah mengepalkan tangannya kuat, kemudian menatap Ekgita yang juga menatap tajam kepergian Arif.


"Kalian sepemikiran dengan ku?" celetukku yang membuat Ekgita menatapku datar, sedangkan Alfan dia tak menatapku sama sekali, "Daripada menduga lebih baik bergerak" ujar ku sambil menepuk pundak Alfan.


Alfan menatapku tidak percaya, begitu juga Ekgita yang menatapku dengan wajah penuh keterkejutan, "Kenapa? Kau tidak curiga? Tidak khawatir dengan Perawat itu?"


Mendengar semua penuturan ku, dia menatapku dengan senyuman licik, "Kau memang yang terbaik Kapten" ujarnya yang lalu meninggalkan ku dengan Ekgita.


"Setidaknya khawatirlah kalo dia membuat kekacauan" celetuk Ekgita yang duduk di bangku sebelah ranjang Alyssa.


"Lagian kau pikir dia akan diam saja melihat orang yang dia sukai diperlakukan seperti tadi? Tidak, dia itu terlihat soft dan tidak menyakinkan tetapi terdapat bakat yang tersembunyi" jelasku yang bersandar pada ranjang kosong sebelah ranjang Alyssa.


"King pada Big boss" ht ku berbunyi.


"Yo?"


"Anda harus kemari, Komandan disini"


"Hiss, ****" umpatku kesal saat mendengar kata komandan.


Ekgita melempar gulungan perban padaku, "Bahasa kau!"


"Yang pentingkan aku gak tekan!" kesal ku yang akhirnya menekan tombol untuk berbicara, "Aku segara ke sana" ujarku sambil berdiri, "Aku titip Alyssa"


"Sungguh anugrah melihat mu bisa se soft ini" ledek Ekgita yang membuatku muak dan meninggalkannya.


Tyno Pov End


Ekgita tersenyum sampai Tyno keluar dari tenda. Tetapi senyuman itu hilang seketika saat erangan Aly membuatnya gesit mengecek keadaan Aly.


"Aly?!"


...~~...


Alfi mendelik terkejut saat Tyno mengatakan alasan mengapa Aly bisa tiba-toba pingsan. Tatapan tajam langsung menusuk mata Alfi yang menatap Arif. Ekspresi marah dan takut melanda wajah Arif. Sekarang Arif tengah menyeret tubuh kecil itu dan melemparnya ke sebuah bangku plastik. Dia menumpukan tubuhnya ke pegangan kursi itu.


"Kau tahu kan kenapa aku menyeret mu kemari?" ujar Arif dengan tatapan marah, "Tugas mu hanya menjaganya agar aman, tapi kenapa dia bisa pingsan?". Alfi terdiam dan menunduk karena takut menatap mata Arif, "Jawab!"


Alfi sedikit tersentak, "A...Aku tidak tahu" jawab Alfi dengan gugup dan singkat.


"Kau harus aku apakan agar bisa tetap menjaga rahasia itu?"


Alfi menatap Arif terkejut, "Aku bilang aku gak tahu, dan aku...aku juga tidak mengatakan apapun tentang rahasia itu"


Arif menyentuh pipi Alfi, "Belum bukan tidak!" seru Arif yang berniat menampar Alfi.


Alfi menutup matanya bersiap merasakan sakit pada pipinya, tapi sudah 3 detik dan dia belum merasakan sakit. Saat matanya terbuka, Alfi hanya mendelik terkejut. Tangan Arif tertahan di udara, sebuah tangan lainnya menahan tangan Arif.


"Berani sekali kau melukai perempuan ha?!" teriak pria yang menahan tangan Arif.


Arif menarik tangannya dan memukul pria itu tepat di wajahnya.


"Alfan!"


Arif mendekati Alfan yang tersungkur di tanah. Ujung bibirnya berdarah, "Bisa tidak jangan ikut campur urusan kami?!" tanya Arif dengan geram sambil menarik kerah kemeja yang Alfan pakai.


Alfan tersenyum tipis, "Kau berniat memukulnya, dan tindakan mu tadi membuktikan seberapa memalukan dan pengecutnya dirimu" ujar Alfan sambil tersenyum meremehkan.


"Kau!" Arif berniat memukul Alfan lagi.


"Alfan!"


Tinju Arif terhenti tepat di depan wajah Alfan. Tinju itu tertahan oleh tangan Alfan sendiri. Alfan melakukan gerakan membanting, dan membanting tubuh Arif yang memiliki tubuh sedikit lebih besar dari dirinya kearah belakangnya.


"Pecundang tetaplah pecundang" sarkas Alfan yang berjalan gontai kearah Alfi, "Kau tak apa kan?" tanyanya sambil memegang kedua pipi Alfi lembut.


Alfi mengangguk dengan wajah sendu. Alfi melihat Arif bangkit dan berniat menyerang Alfan dari belakang, "Alfan awas!" peringat Alfi saat Arif akan memukulnya.


Alfi menarik Alfan dan membuatnya berputar menggantikan posisi Alfan. Pukulan Arif tepat mengenai bagian belakang Alfi.


"Alfi!" seru Alfan saat Alfi jatuh tepat di dalam pelukannya, "Kau!" teriak Alfan yang sudah kalut pada amarahnya.


"Ja...jangan" pinta Alfi lirih sebelum kesadarannya benar-benar hilang.


Alfan berniat menaruh tubuh Alfi di tanah, tetapi sebuah serangan berhasil membuat Arif kembali terjatuh ke tanah. Alfan melihat siapa yang melakukannya dan menatapnya tajam.


"Dokter, sudah waktunya pemeriksaan pasien" celetuk orang itu santai sambil memasukkan tangannya ke rompi medisnya. Orang itu mendekati Alfan, "Bawa Alfi pergi sekarang" pinta orang itu dingin.


Alfan menggendong Alfi ala Bridal style, "Kau David kan? Terimakasih" Alfan berjalan cepat keluar dari tenda kosong itu.


"Dokter" David hanya menengok belakang tanpa berbalik, "Kau butuh pelajaran" ujar David sambil menghentakkan kakinya ke dada Arif, "Itu untuk Alfi dan..." David menendang perut Arif cukup kuat, "Itu untuk menyadarkan mu"


Tanpa sepatah kata lagi, David meninggalkan Arif yang berusaha duduk. Arif memegang dadanya yang terasa nyeri.


"Cih, apa yang sebenarnya terjadi?" gumam Arif yang memegang perutnya yang terasa panas, "Ternyata begitu" monolog Arif yang berusaha bangkit.

__ADS_1


...~...


Aly Pov.


"Bodoh! Kejar dia!"


'Ini...aku?...ini kejadian itu?' pikirku yang kemudian terjatuh karena terkejar oleh dua pria itu.


"Hoho, sudah lelah bermain kejar-kejarannya, Dokter?" seorang pria bertopeng putih polos menyeret kaki ku dan sekuat tenaga aku berusaha melepaskan tangannya itu.


Bugh


Sebuah tendangan berhasil membuat pria bertopeng putih itu tersungkur cukup jauh.


"Lysa! Ayo!"


'Dia...Zakra?' pikirku sambil menggapai tangannya. Dia menggendongku dan berusaha lari dari tempat itu.


Dor.


Bersama suara tembakan itu, tubuh Zakra perlahan tumbang.


'Hentikan' pikir ku yang terjatuh bersama Zakra.


Dor.


'Hentikan!'


Bugh.


Sring.


"Jangan kau pikir bisa mendekati mereka berdua" teriak seorang yang muncul entah darimana.


Mataku membulat sempurna saat melihat siapa yang membantu kami, 'A...Arif?'


"Lys, dengarkan aku" Zakra menatapku dengan penuh kasih sayang, "Setelah ini kau harus terus hidup, walau itu tanpa ku" ucapnya sambil menggendong ku ala bridal style, "Dan temukan kebahagian yang sesungguhnya"


"Tinggalkan saja aku"


Aku berbicara?


"Kau terluka Zak, kau tahu itu?!"


Ah! perkataan itu.


"Dasar menyusahkan!" suara perempuan itu membuatku menatapnya, "Harusnya kau mati saja daritadi" lanjutnya yang menodongkan pistolnya pada Zakra.


"Ha...haha, takdir ku memang menyedihkan" ujar lirih Zakra, "Alyssa, jangan lupa! Aku selalu mencintaimu!" teriak Zakra, "Kau akan bahagia! Ingat ini Alyssa. Dia, yang akan mempertaruhkan nyawanya untuk mu, seperti diriku saat ini!" lanjutnya sambil tersenyum padaku, "Jadi tetaplah hidup, Sayangku"


Dor.


Aly pov End.


"Aly?!" teriak panik Ekgita saat nafas Aly tiba-tiba memberat.


Ekgita berusaha melakukan CPR dan akhirnya Aly bisa bernafas lebih tenang. Walau masih belum beraturan.


"Astaga Aly kau buat aku takut" ujar Ekgita sambil memeluk Aly yang masih berusaha mengatur nafasnya, "Apa kau bermimpi buruk?" tanya Ekgita sambil merapikan anakan rambut Aly.


'Mimpi? Bukan, tadi itu ingatan ku' pikir Aly yang sudah mulai bernafas normal, "A...Air" pinta Aly yang langsung di lakukan Ekgita dengan memberikan Aly air mineral.


"Sudah lebih baik?" Aly mengangguk dan masih berusaha bernafas normal.


"Ekgita!" teriak seseorang saat memasuki tenda darurat.


"Alfan?"


"Tolong"


Mata Ekgita membulat sempurna, "Ada apa dengan Alfi?! Apa Dokter Arif yang melakukannya?"


'Arif? Sepertinya dia lost kontrol lagi’


Alfan hanya mengangguk. 3 menit berlalu dan Ekgita masih memantau Alfi yang belum sadar. Sedangkan Aly sudah bisa duduk di tempat tidurnya.


Sruk.


Seseorang masuk ke tenda darurat, Aly menatap orang itu dengan tatapan sulit diartikan. Alfan mengepal kuat dan bersiap memukul orang itu.


"Alfan" panggil lirih Alfi yang baru sadar, "Jangan"


"Kamu kenapa melindungi manusia biadap sepertinya sih Fi?!" teriak kesal Alfan.


"Arfanur Alfani Fajarrudin, ini tenda darurat...bukan lapangan"


Alfan terkejut bukan main saat Aly menyebutkan nama lengkapnya. Dia langsung mengecek kelengkapan atributnya. Dia tidak tengah pake rompi, seragam Tentaranya atau bahkan nametag nya.


"Dokter tahu namaku?" tanya Alfan heran.

__ADS_1


Ekgita juga tadinya terkejut tapi kemudian dia ingat kemampuan Aly. Sedangkan Arif yang sudah berada dekat dengan Alfi hanya menghiraukan perkataan Aly.


"Alfi, maafkan aku. Aku lost kontrol tadi" sesal Arif yang mengelus kepala Alfi lembut.


Alfi tersenyum kecil, "Aku tahu itu"


"Heh! Jangan kau sentuh dia!"


Ekgita mencegah Alfan mendekati Arif dan Alfi dengan menarik kerah bajunya, "Kita dipanggil atasan"


"Hey! Lepaskan!" ronta Alfan sampai mereka keluar dari tenda darurat.


Arif dan Alfi melihat keduanya speechless, sedangkan Aly hanya memutar matanya malas.


"Alfi kau sudah baikan?" tanya Aly sambil mendekati Alfi dan Arif yang berada di sebrangnya.


"Sudah" ujar Alfi sambil berusaha duduk dibantu Arif.


"Syukurlah, bisa aku minta tolong?" Alfi menatap Aly penasaran,"Tolong ambilkan obat di tas kecil"


Alfi menghela nafas pasrah dan mengangguk pelan. Saat Alfi keluar dari tenda Darurat setelah memastikan dirinya bisa berjalan, Aly kembali duduk di ranjang miliknya dengan Arif yang berdiri sambil menundukkan kepalanya.


Helaan nafas kasar Aly membuat Arif menatapnya enggan, "Kau tahu, kalian berlebihan" celetuk Aly sambil bersidekap di depan dada, "Harusnya kalian bisa lebih bisa mengontrol emosi"


"Aku juga tidak ingat, apa yang terjadi. Tapi tendangan David di perut menandakan aku lost kontrol" jelas Arif sambil menatap Aly sendu.


"Jika seperti itu aku juga gak bisa bantu" ujar Aly yang menatap Arif kesal.


"Maaf" sesal Arif yang kembali menunduk.


Aly hanya menghela nafas pelan. Keheningan memenuhi mereka, "Aku ada pertanyaan" celetuk Aly yang menatap Arif tajam, "Apa kau ada hubungannya dengan kasus penculikan ku 2 tahun lalu?" tanya Aly dengan penuh penasaran.


Sedangkan Arif membulatkan matanya karena terkejut. Arif menggeleng pelan dan berdehem, "Aku...tidak paham apa maksudmu. Saat kejadian aku sedang mudik" jelas Arif dengan alibi mudiknya.


Tetapi Aly yang sudah mendapatkan apa yang sebenarnya hanya menaikkan salah satu alisnya dan tersenyum licik, "Iya kau mudik" timpal Aly dengan tersenyum lebar, 'Mudik ke tempat kejadian'


...~...


"Kenapa aku mau aja ngambilin obatnya Aly ya?" gumam Alfi yang berjalan menuju tenda Darurat, 'Aly sepertinya sudah mulai ingat kejadian itu. Tapi kalo dia sampai ingat lengkap kejadian itu, apa dia akan baik-baik saja?' pikir Alfi yang secara tak sadar menabrak seseorang juga.


"Kau buta!" seru orang yang ditabrak Alfi.


"Ah maaf, saya tadi melamun" sesal Alfi sambil sedikit membungkuk.


"Kau lihat! Berantakan semua!" kesal orang itu sambil mengambil kertas yang berjatuhan.


Alfi menegakkan tubuhnya, "Saya benar-benar minta ma..." ucapan Alfi terhenti saat orang itu juga berdiri dari posisi jongkoknya untuk mengambil kertas-kertas yang berjatuhan, 'Wajahnya seperti tidak asing' pikir Alfi lagi sambil terus menatap pria di depannya itu.


"Woy!"


Alfi menggeleng pelan untuk mengembalikan kesadarannya, "Ah saya benar-benar minta maaf"


"Bara" seseorang dari belakang Alfi membuat Alfi menengok suara siapa itu, "Jangan bersuara keras di depan perempuan" ujar seorang pria yang tersenyum manis melihat Alfi, "Kau perawat Alfi kan?" Alfi hanya mengangguk, "Lain kali jika berjalan fokus, kita tidak tau..." pria itu mendekat ke telinga Alfi, "Apa yang akan terjadi di depan kita" bisik pria itu dengan senyuman misterius tetapi berubah menjadi senyuman manis saat menatap Alfi lagi, "Ayo Bara"


Bara menatap Alfi tajam, "Dasar serangga pengganggu" gumamnya yang dapat di dengar Alfi saat dia melewati Alfi.


Merasa perkataan tadi sebuah ejekan Alfi berbalik dan menatap kepergian keduanya yang mulai menjauh dari pandangannya.


"Alf?" panggil seseorang yang membuat Alfi sedikit terkejut.


"Alfan?"


"Kenapa kau disini? Kau sudah baikan?" tanya Alfan dengan nada penuh ke khawatiran.


"Aku mengambil obat Aly, dan aku juga sudah baikan"


Alfan menghela nafas pelan, "Syukurlah, kalau begitu mari aku antar kau ke tenda Darurat"


"Terimakasih" Alfi tersenyum kecil lalu berjalan bersama dengan Alfan disampingnya, 'Aku tadi mikir apaan ya?'


...~...


6 Agust


Lombok, 00.57


Seorang pria bertopeng rubah yang hanya menutupi wajah bagian atas, berdiri tenang diatas atap rumah yang masih berdiri tegak. Sesekali pria itu menatap keadaan dibawah rumah dan kemudian melanjutkan membaca sebuah buku.


Tap.


"Sudah ada pergerakan mencurigakan?" pria bertopeng rubah itu melirik kebelakang dimana arah suara berasal.


"Kau fokus saja pada tugasmu, dia…tugas ku" celetuk pria bertopeng rubah dengan dingin.


Seorang pria bertopeng beruang yang juga hanya menutupi bagian atas mengawasi setiap daerah dengan teropongnya, "Aku ada pergerakan aneh" Pria bertopeng rubah menatap pria bertopeng gagak terkejut, "Dia gerak" gumamnya sambil menatap bawah.


Pria bertopeng rubah lalu melompat dan memakai tudung jubah yang dia pakai, "Dasar menyebalkan" gumamnya yang mengikuti seseorang seperti bayangan.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2