Hati Pengganti Sang Dokter

Hati Pengganti Sang Dokter
Part 61


__ADS_3

...****************...


Di sebuah ruangan besar Enda dan Iyas saling terdiam. Sesekali Iyas melirik Enda yang terlihat sedang berfikir.


Krekk


Pintu ruangan terbuka dan terlihat Atha masuk sambil menggendong tas besarnya. .


"Kalian masih membicarakan tentang Arisakti?" tanya Atha sambil duduk di samping Enda.


Enda mengangguk, "Kakek mu menemukan sesuatu yang mengejutkan" ujarnya sambil menyerahkan Ipad nya pada Atha.


Atha membaca laporan dalam Ipad itu dengan seksama, sedangkan Iyas menghela nafas kasarnya.


"Ini membingungkan. Pertama Mifta kedua Kamila. Tapi siapa sebenarnya Kamila, kenapa dia ikut-ikut si Mifta?"


Enda bersandar pada kursinya, "Kamila…dia mantan kekasih Axel"


Bruk


Atha menjatuhkan Ipad Enda di meja dengan keras, "Mantan Pap?!"


Enda mengangguk pelan, "Saat itu, Axel baru menikah dengan Ama. Kamila muncul dan meminta pertanggung jawaban Axel" Iyas dan Atha menatap Enda terkejut, "Tapi nyatanya, anak yang sedang di kandung Kamila itu bukan anak Axel"


"Memang biadab wanita satu itu, dari dulu ternyata dia tukang serong" celetuk Iyas dengan senyuman meremehkan.


Enda berdiri lalu menatap Iyas dan Atha bergantian, "Jaga anak itu dan jangan takut-takuti dia. Paham?!"


"Iya Nek/Ma"


Enda berjalan keluar dari ruangan itu, lalu


Brak


"Alys sedang kencan?!" seru Iyas yang membuat Atha terkejut.


Atha mengangguk ragu, "Dengan siapa?!"


"Orang yang menyelamatkannya dari Bernando dan penculikan itu"


Iyas duduk dengan wajah yang masam, "Tentara?"


Atha kembali mengangguk lalu mengambil sebuah map pada Iyas, "Itu juga yang bikin aku kaget dan percaya padanya"


Iyas mendelik terkejut lalu menatap Atha tidak percaya, "Ya! Darimana kau mendapatkan informasi ini?!"


"Fox dan Kak Alys"


Dengan kesal Iyas melempar kertas-kertas itu ke arah Atha, "Aku punya firasat kalau Alys akan mendapat masalah besar suatu hari nanti" gumam Iyas sambil mengusap wajahnya kasar.


"Kau belum bertemu dengannya"


Iyas melirik Atha dengan sinis, "Apa dia akan ke rumah?"


...~...


19.22


Tyno membukakan pintu mobilnya untuk Aly. Aly juga meminta Tyno untuk ikut makan malam di rumah. Saat turun Aly memiringkan kepalanya lalu memijit pangkal hidungnya keras.


"Ada apa?" tanya Tyno saat mendekati Aly.


Helaan nafas kasar membuat Tyno makin bingung, "Mungkin kau mau balik saja?"


"Alys?"


Belum Tyno menjawab seseorang sudah memanggil Aly yang membuatnya sedikit terkejut, "Om"


Seperti memahami keadaan, Tyno menatap Iyas yang juga menatapnya sinis.


"Kenapa belum masuk?"


Tyno membuka pintu samping lalu menjinjing belanjaan Aly, "Ayo Princess"


Aly mendelik terkejut begitu juga Iyas yang mengepal kuat. Mendengar apa yang dikatakan Iyas dalam pikirannya membuat Aly tertawa pelan dan membuat kedua pria itu menatapnya bingung.

__ADS_1


"Tak ada, ayo masuk. Ayo om" celetuk Aly sambil mendorong Iyas masuk kedalam rumah.


20.27


Di halaman belakang Aly yang tidak terlalu besar, Iyas menatap Tyno dengan tajam sedangkan yang di tatap juga menatap balik Iyas dengan serius.


"Memang rumit, tapi aku berterimakasih pada mu Om" Tyno menggebrak meja, "UNO"


"Sialan" umpat Iyas pelan, "Jadi kau menjadi Tentara karena lari dari rumah?" tanya Iyas sambil membereskan kartu UNO mereka lalu kembali mengocoknya.


Tyno mengangguk pelan, "Ayah ku tergila-gila dengan wanita sialan itu, karena merasa tak di anggap lebih baik pergi saja sari sana" jelas Tyno sambil melihat kartu yang sudah dibagikan oleh Iyas.


"Hey" bisik Iyas sambil mencondongkan kepalanya ke depan, "Kamila berulah" bisik Iyas.


"Ha?"


Mendengar nama ibu tirinya Tyno ikut mencondongkan kepalanya agar lebih dekat dengan Iyas.


"Leina bukan adik kandung mu, bahkan Kamila dengan keji menjual Refisa kepada pria hidung belang"


"Ha?!" Tyno kembali makin mencondongkan kepalanya, "Kalian menyelamatkan Refisa?"


Iyas menggeleng lalu kembali duduk dengan biasa, "Leina menemui ayah kandungnya dan ayahnya membawanya pergi. Refisa yang ikut malah hampir di jual oleh Kamila. Kemudian Leina membantunya dengan membawanya ke pamanmu. Setelah Refisa bertemu dengan paman mu, dia menjelaskan kejadian itu" jawab Iyas cukup panjang, "Tapi paman mu tidak mau berurusan dengan Kamila. Jadi aku minta anak buahku untuk menyembunyikan Refisa dulu, dan ya kini dia di rumah Purwokerto"


"Refisa disini?"


Iyas mengangguk, "Besok atau kapan ayah kandungnya akan menjemputnya" ujar Iyas yang melihat Aly masuk ke halaman belakang sambil membawa beberapa piring berisikan makanan lalu kembali ke dapur untuk mengambil yang lainnya.


Atha menaruh piring serta alat makan lainnya di meja dengan kasar, "Ayah kandungnya ternyata juga cukup mengejutkan" celetuknya yang ikut nimbrung pembicaraan mereka.


"Siapa?" tanya Tyno penasaran.


"Tuan Adhitya" jawab Atha berbisik.


"Ha?! Adhitya Prananda?" Atha dan Iyas mengangguk pelan, "Bukannya dia lajang?"


Iyas menggeleng pelan tapi saat dia akan menjawab, Aly sudah menjawabnya, "Kamila melakukan itu saat beliau mabuk"


Tyno tercengang dengan jawaban Aly, "Wahh, lalu pria yang dia bilang itu mantan suaminya?"


"Wah memang wanita sialan"


Iyas memperhatikan Aly yang memberikan piring pada Tyno. Dia merasa jika Aly mulai menghangat. Iyas membuka matanya terkejut. Aly tertawa.


"Keren kan?" tanya Atha berbisik pada Iyas yang disebelahnya, "Kakak ku kembali" Atha menatap Aly dengan lembut, "Kakak yang hangat. Kakak yang ku rindukan. Dia kembali om"


Iyas terus menatap keduanya yang masih mengobrol dan diselingi candaan ringan oleh Tyno dengan tatapan tidak percaya. Lalu sebuah senyuman tipis terukir di wajah Iyas sambil memasukkan sesendok nasi ke mulutnya.


"Iya. Dia boleh juga"


22.30


Aly mengantar Tyno sampai depan gerbang.


"Om gapapa di anterin Tyno?" tanya Aly yang memastikan keinginan Iyas yang ingin diantar Tyno pulang.


"Tentu. Memang kenapa?"


Aly menyipitkan matanya, "Awas aja kalo macem-macem"


Iyas dan Tyno tertawa bersamaan, "Tentu. Ya kan?"


Tyno tersenyum lalu menepuk pelan kepala Aly, "Kami pergi dulu ya"


"Hati-hati kalian!"


Dalam mobil Iyas masih terdiam dan beberapa saat kemudian mobil Tyno berhenti mendadak. Di depan jalan mereka sudah berdiri 3 orang bertopeng.


"Kau tahu siapa kami kan?" tanya Iyas dengan nada serius.


Tyno sempat tertegun lalu tertawa getir, "Om ada rencana lain kah?"


Iyas menggeleng pelan, "Tadinya ingin menghabisi mu. Karena kau Arisakti"


"Karena sudah membunuh Kakak mu?"

__ADS_1


Iyas tertawa pahit lalu tawanya menjadi kencang namun perlahan bahunya bergetar, "Tapi, terimakasih"


Ucapan itu membuat Tyno ikut bingung, "Kau mengembalikan adikku seperti dahulu lagi"


"Aku berhutang budi padamu"


Tyno terdiam sesaat, "Tentu. Aku akan terus…dan selalu membuat Alys bahagia…tidak tapi lebih bahagia lagi"


Iyas tersenyum lalu menepuk bahu Tyno pelan, "Jika kau butuh apapun. Kami siap bantu" dengan telunjuknya Iyas menunjuk seorang bertopeng beruang, "Kau kenal dia kan?"


Tyno tersenyum tipis, "Tentu" Bear tersenyum lembut, "Dia sahabatku juga"


...~...


"Apa sebenarnya kerjaan kalian ha?!"


Brak.


"Kenapa anak itu bisa lepas?!"


Seorang pria berjas dengan rambut yang mulai memutih sebagian tengah memaki anak buahnya di sebuah gedung tak terpakai.


"Dia uang kita!"


Seorang perempuan yang tengah duduk dengan anggun sambil meminum tehnya di belakang pria paruh baya itu.


"Leina pasti tahu dimana Refisa kan?" tanya wanita itu dengan aura mengintimidasi.


Plak.


Seorang pria menampar keras wanita itu, "Jangan berani menyentuh anak ku"


Wanita itu yang tak lain adalah Kamila menatap pria di depannya dengan tajam, "Dia juga anakku!"


"Diam kalian berdua!" pria itu duduk di sofa dengan helaan nafas kasar, "Dimana Refisa?" tanya pria itu halus pada Leina yang duduk di lantai dengan wajah yang sudah babak belur.


"Percuma bertanya padanya. Aku akan membawanya jauh dari kalian berdua" ujar pria itu sambil menggendong Leina yang mulai menangis di bahu pria itu, "Tak apa nak. Papa disini"


Kamila dan pria itu berdecih jijik dengan perkataan pria tadi yang membawa Leina pergi dari gedung itu. Dering handphone Kamila memecahkan keheningan keduanya.


Melihat nomor tidak dikenal membuat Kamila sedikit was was lalu dengan enggan dia mengangkat telfon itu.


"Hallo?"


"Mencari Refisa?"


Suara yang  terdengar familiar di telinganya membuat Kamila langsung berdiri dari posisinya.


"Lian?"


"Ada yang ingin berbicara dengan mu"


"Ibu biadap"


Suara lainnya membuat Kamila terdiam.


"Beraninya kau menyentuhku. Dan sekarang kau berniat menjual anakku!"


"Adhi?" panggil Kamila lirih.


Pria paruh baya itu menatap Kamila datar.


"Kau…"


"Diam kau! kau akan berurusan dengan ku saat urusan mu dengan tuan Lian selesai"


"Kaget? Aku pun sama" ujar Lian sambil memijit pelan pangkal hidungnya, "Sampai jumpa, jumat depan"


Seketika Kamila ambruk lalu setitik air mata jatuh, "Mari lakukan Rabu depan. Mifta"


Pria patih baya itu berdiri dari duduknya, "Tentu" dia mengulurkan tangannya untuk Kamila, "Arisakti dulu, baru Arikinan?"


"Tentu. Aku ingin kedua keluarga itu hancur"


"Baiklah, Queen"

__ADS_1


...****************...


__ADS_2