Hati Pengganti Sang Dokter

Hati Pengganti Sang Dokter
Part 59


__ADS_3

...****************...


5 Okt


Jakarta, 11.05


Srek


"Al?"


Seorang pria masuk kedalam ruang rawat inap Aly. Dengan kasar Aly menutup bukunya lalu melepas kacamata bacanya.


"Aku tidak tahu ada kunjungan dengan Dokter Saraf"


Pria itu memajukan bibirnya, "Janganlah gitu. Kita nih baru ketemu setelah 3 tahun tau"


"Oh iya kah? Bukannya kemarin ada yang telfon aku sambil teriak-teriak?"


Pria itu menyengir lebar, "Hihi kan aku kaget kamu di rawat inap"


"Ish minggir lah babi!" pria itu jatuh tersungkur di depan ranjang Aly.


"Sialan! Sakit bego!"


Bima berdiri di depan pria itu dengan wajah angkuh, "Ada muka peduli?"


"Sialan!"


"Berisik tau gak kalian?" lerai Aly sambil menatap keduanya tajam, "Memangnya kau gak ada kerjaan kah, Elvan?"


Elvan tersenyum malu, "Aku baru mulai kerja lagi besok"


"Dia bolos 2 minggu"


"Aku bilangnya cuti ya bukan bolos!"


Aly memijit pangkal hidungnya karena lelah menghadapi dua makhluk dengan sifat berbeda jauh ini. Bima memang baru dia temui saat mulai bekerja di rumah sakit, tapi Elvan, dia seperti Arif yang merupakan teman kuliah di luar negeri. Elvan juga punya dua sisi yang berbeda. Saat menjadi Dokter dan bersama perempuan khususnya Aly dia akan bersifat manis, manja, dan penuh kasih sayang. Tapi saat di luar pekerjaan dan bertemu orang yang tidak akrab dengannya, dia seperti es abadi.


Helaan nafas Aly menghentikan pertengkaran kecil keduanya, "Kenapa kalian kemari?"


"Aku hanya ingin menjenguk mu"


"Aku ingin menemani mu"


Dari arah belakang seseorang bertubuh lebih pendek dari mereka sudah berdiri lalu menarik telinga keduanya.


"Akhh!" teriak keduanya bersamaan.


"Elvan kenapa kau tidak melapor jika kau sudah kembali?" tanya pria berambut putih itu.


"Abis ini niatnya langsung lapor kok Prof. Sakit lepasin Prof"


"Bima kau harusnya keliling kan?"


"Ini juga lagi keliling. Lepasin Prof"


Dengan kasar pria tua itu melepas telinga keduanya, "Bubar"


"Iya Prof" jawab keduanya bersamaan lagi lalu meninggalkan Aly bersamanya. Elvan melambaikan tangannya sedangkan Bima mendorongnya agar keluar dari ruangan Aly.


Diluar Elvan berhenti tersenyum sedangkan Bima tersenyum misterius.


"Ini lucu kan?" ujar Bima sambil memasukkan tangannya kedalam saku jas Dokternya.


Elvan mengeratkan tangannya erat, "Aku yakin dengan baliknya Alyssa kemari. Rumah Sakit ini akan bersih kembali"


Bima tertawa dengan perkataan Elvan lalu merangkulnya sambil berjalan menjauhi ruangan Aly, "Akan ada rapat dewan nantinya, kau ikut?"


Elvan terkekeh pelan, "Tentu, demi Lysa dan kebenaran Zakra"


"Bagaimana keadaan mu, Nak?"


"Lebih baik. Treatment yang lumayan cepat. Luka di kaki ku sudah tertutup walau belum sempurna" jelas Aly dengan senyuman manisnya.


Pria itu duduk di bangku sebelah ranjang Aly, "Mana Mam mu?"


"Paman kesini ingin menanyakan tawaran itu kan?" ujar Aly dengan nada tajam.

__ADS_1


Paman Iwan tersenyum lembut menanggapi pertanyaan Aly tadi. Iwan adalah direktur Rumah Sakit tempat Aly bekerja, Rumah Sakit Harini.


"Paman menunggu jawaban mu sekarang"


Aly menatap tangannya tanpa menjawab pertanyaan Pamana Iwan tadi.


'Mereka mungkin mengirim ku jauh kemari karena kebenaran yang bisa kapan saja aku bongkar. Tapi, kita juga tidak bisa mengabaikan para pasien kita'


Perkataan Zakra yang telah lama dia lupakan terlintas di ingatan Aly. Genggaman tangan Aly tiba-tiba mengerat.


"Baiklah, aku setuju" ujar Aly sambil melihat keluar jendela, "Tapi…aku ingin posisiku bukan sebagai intership atau Dokter tahun akhir"


"Tentu, kau ingin Dokter senior dan naratama kan?"


Aly mengangguk sekali, "Tahun depan aku akan mengambil pendidikan S2 di US"


"Aku tetap menjadikan mu Dokter disini"


"Bahkan jika aku menjadi Direktur di Rumah Sakit ini?" tanya Aly dengan nada candaan disana.


"Hahaha, tentu. Bahkan jika kau menjadi ketua yayasan sekali pun" timpal Iwan dengan candaan juga.


Aly tertawa pelan mendengar candaan Paman Iwan tadi. Tapi yang mereka tak tahu adalah Zakra juga disana, memperhatikan semuanya.


"Lucu karena itu akan terealisasikan besok" ujar Zakra sambil tertawa pelan, "Membayangkannya saja sudah lucu saat Ketua Yayasan menjadi Professor disini"


...~...


17.39


Di sebuah rumah besar klasik sebuah mobil masuk dan berhenti di depan pintu besar di rumah itu. Lian keluar dari mobil itu sambil menenteng jas abu-abunya sambil mengendurkan dasinya. Saat dia masuk seorang remaja perempuan lewat didepannya.


"Ayah? Mau teh?" tanya remaja perempuan itu ramah.


Lian POV


"Tidak. Dimana Ibu mu?" tanyaku pada anak perempuan bawaan Kamila.


"Diatas lagi main sama Leina"


Saat sampai di lantai dua aku langsung melihat Kamila, istriku dan Leina anak ku dengannya. Tidak sekarang aku ragu jika Leina adalah anakku. Mengingat seberapa bejatnya Kamila yang berani menipuku dan membuatku jauh dari anak kandung ku satu-satunya.


"Kamila" panggilku yang disambut hangat olehnya dengan memelukku.


"Kau lelah? Mau minum?"


Aku menggeleng pelan, "Aku ada bisnis keluar negeri nanti malam. Jadi bisa bereskan bawaan ku?"


"Tentu sayang" jawabnya yang langsung masuk ke kamar kami.


Aku menatap Leina dalam, 'Dia bahkan tak ada miripnya dengan ku!'


"Ayah butuh sesuatu diriku?"


'Bahkan lebih baik Refisa dari pada mereka berdua'


Aku menggeleng pelan lalu melepas rompi abu-abuku, "Boleh ayah minta tolong?" Leina mengangguk pelan, "Besok kau ikut Zizu sebentar bisa?"


"Zizu? Manajer ayah?"


"Iya, hanya mengambil sampel darah ayah di Rumah Sakit"


"Baiklah" Jawabnya sambil tersenyum lembut.


Aku mengangguk lalu masuk kedalam kamar dan melihat Kamila yang sibuk mengemasi barang-barang ku. Aku mengambil handukku lalu melepas kancing kemejaku.


"Kau senang?" tanyaku pada Kamila tanpa melihatnya, "Bermain dengan ku?"


Kamila berhenti sesaat lalu menatap tajam diriku, "Apa maksudmu?"


Tanpa menjawabnya aku masuk kedalam kamar mandi lalu menyiapkan air berendam.


"Arikinan. Lucu juga jika aku mempercayai mereka" gumamku yang merelaksasikan tubuhku di dalam air hangat , "Aku harus menghancurkan Kamila agar aku bebas darinya"


Lian POV end.


23.04

__ADS_1


Lian keluar dari rumahnya lalu memasukkan barang-barangnya ke dalam bagasi mobilnya. Zizu yang ikut juga menunduk saat Lian masuk kedalam mobilnya.


"Saat di Rumah Sakit, salah satu Predator dari Kian corp akan menemani mu" ujar Lian yang lalu menutup jendela mobilnya dan pergi meninggalkan Zizu disana.


Dari lantai dua Kamila melihat kepergian Lian dengan menelfon seseorang, "Kita bisa memulai rencana kita minggu depan"


"Kau tidak lupa dengan bayaran semua ini kan?"


"Tentu, aku akan kirim anak ku untuk jaminan"


"Bagus, aku tunggu besok"


Pip


Kamila meminum anggur merahnya dengan senyuman jahatnya, "Menerima kerja sama dengannya gak rugi juga ternyata"


Sebuah foto digenggaman Kamila lalu merobek-robeknya menjadi kecil, "Liat saja Axel, kau akan menjadi milik ku lagi setelah aku menyelesaikan Lian"


Refisa yang mendengar percakapan Kamila tadi hanya bisa terdiam lalu berlari menuju kamarnya. Saat itu Leina tidak sengaja melihatnya lalu menyusul Refisa.


"Kau kenapa?" tanya Leina dengan panik.


Refisa menatap Leina sesaat, "Percaya satu hal tentang ini" Refisa mengambil semua bajunya dari dalam lemarinya, "Kau bukan anak Ayah Lian. Kau anak selingkuhan Mama"


Leina menarik tangan Refisa kasar, "Kau kurang ajar sekali!"


Dengan kasar juga Refisa menepis tangan Leina, "Besok Zizu akan membuktikannya" ujar Refisa sambil melempar tubuh Leina ke atas kasur, "Saat semuanya terungkap, kau mau ikut aku?"


"Kemana?"


"Tempat Ayah kandung ku berada"


"Kau gila? Kau bahkan tak tahu siapa ayah mu!"


Refisa melempar sebuah nomor ke Leina, "Dia Paman Galang, dia bisa bantu kita"


"Kau bahkan tak memiliki hubungan darah dengannya"


Refisa tersenyum miring, "Kau pun sama"


...~...


7 Nov


Purwokerto, 09.19


Enda duduk di ayunannya sambil menatap hamparan sawah dari lantai duanya. Sesekali dia menyesap tehnya sambil tersenyum mendengar laporan dari Leo.


"Jadi Leina memang bukan anak Lian?"


Leo yang menunduk hanya dapat mengangguk pelan, "Tes juga menunjukkan dia bukan anak Tuan Axel"


"Memang bukan kali" ketus Iyas yang sedang mengetik, "Dia anak Jaka. Anak buah Mifta" ujar Iyas sambil menyerahkan laporan medis pada Enda.


Enda mendelik terkejut, "Mifta masih hidup?" tanyanya sambil menatap Griffin.


Griffin yang mendapat tatapan maut hanya menunduk takut, "Dia susah di tangkap, dan adanya Jaka juga makin membuat kami sulit bergerak"


"Jaka tangan kanan Mifta terkuat, Ma" celetuk Iyas yang membantu Griffin, "Tapi jika kita bisa menjauhkan Jaka dari Mifta bisa kita habisi dia"


"Dengan Leina?"


Iyas tersenyum misterius, "Apalagi kita punya senjata baru"


"Senjata baru?"


Senyuman Iyas makin merekah lalu memperlihatkan sebuah biodata seseorang pada Enda, "Cakep kan?"


Enda menyerit lalu mendelik terkejut, "Alys gak tau ini?"


"Jangan dulu. Yang penting kita ada senjata baru"


"Santi, bikin janji dengan Dokter Psikolog buat dia"


"Aku gak gila Mama!"


...****************...

__ADS_1


__ADS_2