Impoten : Ritual Bergairah

Impoten : Ritual Bergairah
Bab 21 - Gairah Yang Menggelora


__ADS_3

...༻◊༺...


Kening Arga mengernyit dalam. Wajahnya memerah karena mendengar pujian dari mulut Laras.


"Laras? Kau baik-baik saja? Aku rasa kau bicara melantur," tukas Arga. Dia menggerakkan tangannya ke depan wajah Laras. Mengingat tatapan perempuan itu terus terpaku kepadanya.


Laras menggelengkan kepala. Dia memegangi tangan Arga. "Aku rasa ini pengaruh jabang bayi di perutku!" ungkapnya.


"Lalu apa yang harus aku lakukan?" tanya Arga.


"Entahlah." Laras akhirnya berhenti menatap Arga. Jujur saja, sejak tadi dia berusaha menahan diri untuk tidak menyentuh Arga. Laras menoleh ke kanan. Atensinya tertuju pada alat USG.


"Bagaimana aku melakukan USG saja. Setidaknya aku melakukan sesuatu dengan kedatanganku ke sini," kata Laras.


"Baiklah." Arga mempersilahkan Laras telentang di kasur. Dia segera mengambil peralatan untuk melakukan USG.


Setelah telentang, Laras membuka bagian perutnya. Dia membiarkan Arga melakukan USG.


Untuk yang kesekian kalinya, Laras tak bisa mengalihkan pandangan dari Arga. Ia bahkan terangsang dengan pemeriksaan Arga di perutnya. Entah kenapa Laras melihat lelaki itu menjadi lebih tampan dengan jas putih dan melakukan pekerjaannya.


"Masih seperti sebelumnya. Tapi bayimu sehat," ujar Arga. Dia berhenti selepas melakukan pemeriksaan.


Ketika Arga hendak beranjak, Laras sigap menghentikan. "Maafkan aku. Tapi aku sangat ingin menyentuhmu sekarang," ungkapnya.


"Laras! Apa maksudmu?" Jantung Arga kembali berdetak tidak karuan.

__ADS_1


Namun Laras tidak menjawab. Perempuan itu justru menarik Arga mendekat dan mencium bibirnya tanpa aba-aba.


Mata Arga terbelalak. Meskipun begitu, dia tak kuasa menolak ciuman Laras.


Suara decapan lidah Laras dan Arga mulai terdengar. Keduanya terbuai untuk terus bergulat lidah sambil meraba tubuh satu sama lain.


Perlahan Arga melepas jas putihnya. Diteruskan hingga melepas kancing kemejanya.


Hal serupa juga dilakukan Laras. Ia melepas ciumannya sejenak untuk menanggalkan dressnya. Kini tampilan perempuan tersebut hanya mengenakan bra dan celana segitiga.


Gairah Laras kian membara. Dia menuntun Arga menjatuhkan diri ke kasur. Kegiatan panas terus berlangsung sampai keduanya nekat melakukan penyatuan.


Sekarang suara erangan terdengar dari Laras maupun Arga. Mereka benar-benar telah melupakan segalanya.


Dari luar ruangan, Naya yang merupakan perawat Arga, kembali setelah mengambilkan peralatan. Dia berhenti di depan pintu dan mengetuk. Untung Naya tidak langsung masuk begitu saja. Mengingat Arga dan Laras tidak sempat mengunci pintu.


"Dok? Dokter Arga?" Naya mengerutkan dahi. Terlebih Arga tidak kunjung memberi jawaban. Karena penasaran, Naya berniat membuka pintu. Tangannya sudah menjulur untuk menarik gagang pintu.


"Pergilah! Aku ingin sendiri sekarang!" pekik Arga dari dalam. Dia bicara dengan nafas ngos-ngosan.


"Ba-baiklah, Dok." Meski heran, Naya menurut saja sebagai bawahan. Dia melangkah jauh meninggalkan ruangan Arga.


Sedangkan di dalam ruangan, Arga masih asyik bersenggama bersama Laras. Rambut keduanya acak-acakan. Belum lagi keringat yang menyelimuti. Arga dan Laras terus bernafas dengan terengah-engah, sambil di iringi suara lenguhan bergairah.


Arga dan Laras bercinta seperti kerasukan setan. Mereka mengganas dan melakukan berbagai gaya akibat ledakan gairah yang tak padam. Air liur dan segala cairan tubuh satu sama lain, tidak membuat mereka jijik ketika sibuk memuaskan hasrat.

__ADS_1


Di ruang tunggu, masih ada beberapa pasien Arga yang menunggu. Naya duduk ke sebelah teman kerjanya yang berjaga di loket.


"Kau kenapa di sini?" tanya teman kerja Naya. Namanya adalah Dina.


"Dokter Arga pengen sendiri katanya. Aku nggak tahu dia tiba-tiba begitu," jawab Naya.


"Yang benar? Bukan kah dia sedang bersama pasiennya?" sahut Dina.


Naya pun baru ingat bahwa sebelum dia pergi dari ruangan Arga, dirinya melihat ada pasien wanita yang diperiksa. Pasien yang tidak lain adalah Laras. "Kau benar! Ada pasien yang sedang diperiksanya!" imbuhnya.


"Mungkin ada masalah kali sama pasien itu. Makanya Dokter Arga perlu fokus," kata Dina. Dia sama sekali tidak berprasangka buruk. Sebab semua orang tahu, Arga dikenal sebagai lelaki setia dan sangat mencintai istrinya.


Naya lantas percaya saja dengan dugaan Dina. Dia akan menunggu Arga memanggilnya ke ruangan.


Tanpa sepengetahuan siapapun, Arga dan Laras mengerang panjang saat menggapai puncak kenikmatan. Sekujur badan mereka bergetar karena merasakan ledakan tersebut. Keduanya mengakhiri aktifitas intim dengan gaya berdiri. Usai berakhir, Laras dan Arga tumbang ke atas nakas.


Arga melemaskan dirinya di punggung Laras. Keduanya diam dalam posisi begitu dalam beberapa detik. Keadaan di ruangan tampak berantakan sekali karena kegilaan mereka.


Setelah nafas kembali terkontrol, Laras dan Arga segera mengenakan pakaian. Seperti biasa, selalu ada rasa penyesalan yang mereka rasakan saat selesai melakukan hal tidak seharusnya.


"Apa kita akan baik-baik saja setelah melakukannya?" cetus Laras seraya duduk ke tepi kasur.


"Aku harap begitu," sahut Arga sembari memunguti benda-benda yang jatuh di lantai. Laras yang melihat, segera ikut membantu.


"Aku rasa kita harus menemui Mbah Seno. Kalau ada apa-apa, aku siap bertanggung jawab," ungkap Laras. Dia sadar kalau dirinya yang sudah menggoda Arga lebih dulu.

__ADS_1


__ADS_2