Impoten : Ritual Bergairah

Impoten : Ritual Bergairah
Bab 58 - Terenyuh


__ADS_3

...༻◊༺...


Bibir Arga dan Laras saling berpagutan. Ciuman itu berlangsung dengan lembut. Mereka harus mengakhirinya saat Adella tiba-tiba menangis.


Laras buru-buru mengurus putrinya. Dia menggendong Adella.


"Kau pasti haus. Sejak tadi sore belum minum susu," tebak Laras sembari membuka kancing baju. Dia mengeluarkan salah satu buah dadanya untuk memberi susu pada Adella. Dalam sekejap, Adella berhenti menangis.


Pupil mata Arga membesar saat melihat Laras tak malu menyusui Adella di hadapannya. Lelaki itu jadi telan ludah karena melihat pemandangan yang telah lama tak dirinya lihat. Apalagi buah dada Laras tampak lebih besar dibanding sebelumnya. Mengingat perempuan tersebut dalam masa menyusui bayinya.


"Se-sebaiknya aku pulang sekarang. Apa kau akan bermalam di sini?" tanya Arga yang sedikit tergagap. Dia berusaha tidak menatap ke arah dada Laras.


"Tidak! Aku akan segera pulang menaiki taksi. Kau duluan saja," tanggap Laras tenang.


"Naik taksi?" Arga merasa cemas karena sekarang sudah larut malam. Dia takut Laras dan Adella kenapa-napa.


"Iya. Aku sudah biasa. Jangan khawatir," ujar Laras.


"Biarkan aku mengantarmu. Kebetulan aku membawa mobil," tawar Arga. Dia tak tega membiarkan Laras pulang sendirian.


"Baiklah kalau begitu." Laras menerima tawaran Arga. Dia segera bersiap untuk pulang bersama lelaki tersebut.


Dalam perjalanan, Arga masih saja terganggu dengan pemandangan Laras menyusui Adella. Meski tahu dia kembali impoten, bukan berarti dirinya tak bisa merasakan gairah. Hal tersebut benar-benar menyiksanya.


Laras mengernyitkan kening. Dia sebenarnya merasa kalau Arga sejak tadi terus melirik ke arah Adella. Laras bahkan melihat Arga beberapa kali menenggak ludah. Ia bisa melihatnya dari pergerakan jakun Arga di tenggorokan. Wajah pria tersebut bahkan memerah. Laras sadar kalau buah dadanya yang sekarang terlihat, menarik perhatian Arga.

__ADS_1


"Apa kau kembali impoten setelah ritual tidak dilakukan lagi?" Laras jadi menanyakan itu karena gelagat salah tingkah Arga sejak tadi.


"Kau tahu itu akan terjadi. Aku sudah mencobanya dengan Agni, dan milikku sudah tak bisa bekerja lagi. Saat itulah Agni memutuskan untuk bercerai," sahut Arga. Dia mendadak menjadi tidak percaya diri. Semuanya terlihat jelas dari raut wajah Arga yang menyendu. "Aku sepertinya tidak akan bisa menikah lagi. Sulit menemukan perempuan yang mau menerima keadaanku ini," sambungnya.


"Apa kau sengaja berucap begitu untuk meminta pendapatku?" tukas Laras.


"Kenapa kau berpikir begitu? Aku hanya berpikir logis."


"Kalau begitu, kenapa tadi kau menciumku? Bukan kah itu berarti kau mengharapkan sesuatu dariku?" Laras mencecar.


"Maaf. Aku tidak bisa menahan diri. Aku sangat merindukanmu," ungkap Arga.


Laras mendengus kasar. Bertepatan dengan itu, tibalah dia dan Arga di tempat tujuan. Kebetulan Adella juga sudah kembali tidur.


"Sampai ketemu besok," ucap Arga.


Dahi Arga sontak berkerut. "Ikut denganmu? Tapi aku--"


"Aku ingin membuktikan sesuatu!" potong Laras dengan tatapan serius. Dia memaksa Arga untuk ikut ke apartemennya.


"Membuktikan apa?" Arga menuntut jawaban.


"Pokoknya ikut saja!" Laras bersikeras.


"Baiklah kalau begitu." Arga tak kuasa menolak. Dia pun mengikuti Laras ke apartemen.

__ADS_1


Ketika sudah tiba di unit apartemen Laras, Arga disuruh duduk menunggu. Sementara Laras memindahkan Adella terlebih dahulu ke ranjang bayi. Selanjutnya, barulah dia menemui Arga.


"Jadi apa yang ingin kau buktikan?" tanya Arga.


"Sebelum melakukannya, aku ingin tahu perasaanmu padaku," tanggap Laras.


Arga terkesiap. Dia lantas berkata, "Aku tidak tahu kapan semuanya terjadi. Tapi aku yakin kalau diriku jatuh cinta padamu. Apa kau marah karena ciuman tadi?"


Laras menggeleng sambil tersenyum. Dia senang mendengar pernyataan cinta Arga. Lelaki itu bahkan tidak ragu untuk mengatakannya.


Laras kemudian duduk ke atas pangkuan Arga. Dia menangkup wajah lelaki tersebut.


"Kalau aku marah, maka harusnya tadi aku menamparmu. Bukannya malah membiarkanmu menciumku," ungkap Laras seraya tersenyum tipis.


Arga lantas balas tersenyum. Dia perlahan mendapatkan ciuman bibir dari Laras. Kali ini ciuman sangat berbeda dibanding saat di teras belakang toko tadi. Jika sebelumnya dilakukan dengan lembut, maka kini Arga dan Laras melakukannya lebih intens.


Mulut Arga dan Laras mengunci erat. Menempel seolah sulit untuk dilepaskan.


Laras sigap melepas kancing baju Arga satu per satu. Namun saat itulah Arga tiba-tiba menghentikan.


"Laras... Kau tahu aku tak bisa melakukannya. Maafkan aku," kata Arga dengan mimik wajah penuh sesal. Dia tentu sangat ingin bercinta dengan Laras. Tetapi Arga sadar diri terhadap keadaannya.


"Aku tak peduli dengan keadaanmu itu, Ga. Aku hanya peduli dengan perasaan kita," tutur Laras seraya mengangkat dagu Arga. Keduanya saling menatap lekat.


Arga sangat terenyuh akan ketulusan Laras. Dimana lagi dia bisa menemukan perempuan seperti itu. Baginya Hery adalah orang paling sial karena sudah tega mengkhianati perempuan seperti Laras.

__ADS_1


"Aku mencintaimu, Laras..." ungkap Arga.


"Aku juga mencintaimu," balas Laras. Dia kembali mengajak Arga bercumbu.


__ADS_2