
...༻◊༺...
Saat sibuk menangis, Laras muntah hebat. Rasa mual yang sejak tadi dirasakannya ketika melihat Hery, akhirnya terlampiaskan.
Keinginan muntah terus dirasakan Laras. Tubuhnya bahkan semakin lemas akan hal itu.
"Laras!" Wina menghampiri Laras karena merasa cemas. Dia segera membawa putrinya untuk istirahat.
Di saat yang sama, Agni memasuki kamar. Dia melihat Arga berdiri di depan cermin. Lelaki itu tampak mengoleskan cologne ke badan. Arga juga mengenakan masker dengan tujuan agar Agni tidak merasa mual saat melihatnya.
"Mas..." panggil Agni sembari mendekat. Perlahan dia memeluk Arga dari belakang. "Aku merindukanmu..."
"Kau yakin? Bukan kah kau mual saat melihatku?" tanggap Arga. Dia melepas pelukan Agni. "Oh iya, aku juga ingat kau tidak suka dengan bau badanku," tambahnya.
"Kau tidak tahu betapa cemasnya aku saat kau pergi tanpa bilang-bilang! Aku bahkan sampai melapor ke kantor polisi!" ujar Agni. Menatap Arga dengan mata yang sudah berembun. Dia membalik tubuh Arga menghadapnya, lalu memegang wajah lelaki tersebut.
"Aku menyesal dengan apa yang sudah aku lakukan. Aku ingin berubah mulai sekarang," tutur Agni bersungguh-sungguh. Dia lalu meletakkan tangan Arga ke perutnya. "Anak kita pasti ingin melihat kedua orang tuanya mesra lagi," ucapnya seraya tersenyum tipis.
Arga tersentuh dengan kesungguhan Agni. Dia segera membawa istrinya masuk ke dalam pelukan.
"Jadi mulai sekarang aku boleh tidur di kamar lagi kan?" tanya Arga.
"Tentu saja. Aku harap ngidam tidak ingin melihatmu akan segera berakhir," tanggap Agni. Dia sangat senang dirinya bisa berbaikan lagi dengan sang suami.
Keadaan rumah tangga Arga berbanding terbalik dengan Laras. Mengingat Arga belum mengetahui perbuatan buruk Agni di belakangnya.
__ADS_1
Hari demi hari terlewat. Di suatu malam, Agni terbangun. Diam-diam dia membuka masker penutup wajah Arga. Agni berbuat begitu ingin menguji apakah dirinya masih mual atau tidak ketika melihat sang suami.
Agni sengaja berlama-lama menatap Arga. Saat itu dia tidak merasa mual sedikit pun.
"Sepertinya sudah berhenti!" Agni membekap mulutnya karena merasa senang. Dia berniat ingin memberi kejutan untuk Arga besok.
Kala pagi sudah tiba, Arga bangun belakangan dari Agni. Dia melihat istrinya sudah tidak ada. Arga juga baru sadar kalau maskernya tidak terpasang.
Pintu perlahan terbuka. Agni membawakan kopi untuk Arga.
"Tunggu sebentar! Aku akan memakai maskerku dulu!" cegah Arga seraya mencari masker kesana kemari. Namun dia tidak menemukannya.
Agni tersenyum sembari meletakkan kopi ke atas nakas. Dia segera duduk di hadapan Arga. Menghentikan pencarian pria tersebut.
Mata Arga membulat. "Kau sudah tidak mual lagi?!" tanyanya memastikan. Agni lantas menjawab dengan anggukan.
"Akhirnya... Aku bisa bebas sekarang!" seru Arga dengan senyuman lebar.
"Bebas untuk apa? Hayo?" Agni memasang tatapan menggoda.
"Tentu saja bebas dari topeng dan masker!" sahut Arga tidak peka. Ketertarikannya pada Agni memang sedikit memudar karena Laras.
"Kok gitu sih, Mas. Aku kira kau sudah tidak sabar ingin melakukan ini." Agni menarik tangan Arga. Mengarahkan tangan lelaki itu ke bagian organ intimnya.
Agni mendekatkan mulut ke telinga Arga. "Kita sudah lama tidak melakukannya," desisnya. Lalu menggigit pelan kuping Arga.
__ADS_1
Agni tak pernah begitu sebelumnya. Dia bahkan menciumi badan Arga secara perlahan. Mengingat Agni sudah berhenti bermain dengan gigolo demi Arga.
"Biasanya kau tak pernah begini," komentar Arga. Dia mulai menikmati sentuhan istrinya.
"Kan aku sudah bilang, aku akan berubah mulai sekarang. Melayani suami dengan maksimal merupakan tugas istri yang baik kan?" Agni mendorong Arga hingga telentang. Dia menanggalkan pakaian dirinya dan juga Arga. Mereka melakukan kegiatan intim di pagi hari. Terlebih sekarang adalah hari minggu. Baik Arga maupun Agni, keduanya libur dari pekerjaan.
Setelah merasa terpuaskan, Agni beranjak ke kamar mandi lebih dulu. Meninggalkan Arga yang telentang di ranjang dalam keadaan sudah mengenakan celana pendek.
Arga terpikirkan Laras. Karena sudah berbaikan dengan Agni, dia ingin menjaga jarak dari perempuan itu. Arga hanya berharap Laras baik-baik saja dengan rumah tangganya.
Hari itu Arga dan keluarganya jalan-jalan keluar rumah. Mereka bersenang-senang di taman bermain. Rasya menjadi orang yang paling bahagia karena untuk pertama kalinya, dia bermain ditemani oleh ayah dan ibunya.
"Ayo, Pa! Ma! Kita naik itu!" pinta Rasya seraya menunjuk wahana bermain bianglala.
"Ya sudah kita naik. Tapi Mama nggak ikut ya. Dia harus menjaga adikmu yang masih mungil di dalam perut," kata Arga.
"Maaf ya, Sya. Soalnya selain harus jaga adikmu, Mama juga takut ketinggian," tutur Agni.
"Iya, nggak apa-apa. Jaga adikku baik-baik ya, Ma..." Rasya langsung mengerti. Dia dan Arga segera menaiki bianglala.
Kini Agni sendirian. Dia memilih menunggu sambil mengamati Arga dan Rasya. Tanpa diduga, sebuah tangan meremas bokongnya.
Agni sontak kaget. Ia langsung menoleh pada sang pelaku dengan wajah marah. Akan tetapi wajah marahnya berubah jadi pucat saat melihat pelaku tersebut. Sosok itu tidak lain adalah salah satu gigolo yang pernah dibayar Agni.
"Kau kemana saja selama ini? Kau tidak lupa dengan janjimu kan?" tukas pemuda tersebut.
__ADS_1