
...༻◊༺...
Laras segera membawa Rasya ikut bersamanya. Anak itu tidak menolak sama sekali ajakannya. Sayangnya saat tiba di hotel, Rasya tidak bersedia melangkah masuk.
"Kamu kenapa, Sya? Apa ada sesuatu yang mengganggumu?" tanya Laras lembut. Ia berjongkok di hadapan Rasya dengan penuh kepedulian.
"Aku nggak mau ke tempat itu lagi. Nggak mau!" rengek Rasya. Apa yang dilihatnya di kamar hotel tempo hari tentu adalah momok yang masih menghantui anak itu.
"Jadi bagaimana? Kau maunya dimana?" tanya Laras.
"Dimana saja asal tidak di tempat itu!" sahut Rasya dengan rasa gelisah. Sepertinya hotel membuatnya trauma.
"Baiklah kalau begitu. Kita ke toko kue teman Tante saja ya," usul Laras yang tak punya pilihan lain. Dia pun pergi membawa Rasya pergi ke toko kue. Laras juga tak lupa memberi kabar tersebut kepada Arga.
Setibanya di toko, Laras memberikan makanan untuk Rasya. Dia bahkan membelikan pakaian baru untuk anak itu. Mengingat pakaian Rasya sudah kotor dan belum diganti semenjak kepergiannya lima hari lalu.
Arga baru datang saat Rasya sedang mandi. Dia tampak tersengal-sengal. Arga tentu ingin cepat-cepat melihat Rasya.
"Mana dia?" tanya Arga.
"Dia sedang mandi," sahut Laras. Dia lalu mengelus pundak Arga. "Kau sebaiknya duduk dan tenangkan diri," tuturnya.
Arga mengangguk dan menuruti perkataan Laras. Dia duduk ke kursi terdekat.
__ADS_1
"Dia tidak terluka kan?" tanya Arga.
"Untungnya begitu. Dia hanya kotor dan lapar. Tapi kau tenang saja, Rasya sudah kenyang sekarang. Kita hanya perlu menunggunya membersihkan diri," jawab Laras.
Tak lama kemudian, Rasya akhirnya muncul. Arga langsung memeluk dan mengangkatnya. Mereka pun menangis bersama.
Rasya tak bisa membendung tangisannya saat mendapat pelukan Arga. "Maafkan aku, Pa... Aku sebenarnya ingin kembali padamu. Tapi aku ragu karena kau memilih Tante Laras dibandingkan aku," ungkapnya.
"Kenapa kau berpikir begitu? Apapun yang terjadi, Papa tidak akan meninggalkanmu. Kau tidak tahu betapa cemasnya aku saat kehilanganmu. Aku mencarimu kemana-mana," balas Arga bersungguh-sungguh.
Mendengar itu, Rasya tak mampu berkata-kata lagi. Dia hanya menangis penuh haru. Mulai sekarang dirinya akan mempercayai Arga.
Usai melepas rindu, Arga mengajak Rasya makan kue. Laras juga diajak duduk bersama mereka. Perempuan itu terlihat menggendong Adella.
"Syukurlah kau bertemu dengan Tante Laras ya," imbuh Arga seraya tersenyum pada Laras.
"Siapa Gio?" Arga penasaran.
"Dia anak jalanan yang mungkin ditemui Rasya saat sendiri. Kebetulan Erika sudah mengurus Gio dan yang lain agar bisa mendapat tempat tinggal di panti asuhan," jelas Laras.
"Oh iya, Pa. Apa yang dikatakan mama tidak benar kan? Kalau kau sebenarnya mencintai Tante Laras?" Rasya tiba-tiba bertanya begitu. Meski sudah baik pada Arga dan Laras, ternyata dia masih menentang adanya hubungan khusus.
Arga sontak terdiam. Dia dan Laras saling bertukar tatapan intens. Mereka tidak menyangka Rasya masih belum memberikan lampu hijau.
__ADS_1
"Em... Papa--"
"Kalau kau maunya bagaimana, Sya?" tanya Laras. Memangkas perkataan Arga yang belum selesai.
Rasya menatap Arga dan menggelengkan kepala. "Aku tidak tahu. Aku hanya ingin Papa dan aku tetap begini. Tidak apa-apa kita berdua saja, Pa. Aku tidak masalah," ucapnya.
Arga tersenyum tipis. Perlahan dia melirik Laras. Dari sana Arga yakin dirinya dan Laras tidak akan bisa menikah dalam waktu dekat. Rasya butuh waktu untuk menerima semuanya.
Setelah menghabiskan kue, Rasya mengajak Arga pulang. Arga terpaksa menuruti kehendak anak tersebut lebih dulu. Keduanya lantas meninggalkan toko kue. Arga membawa Rasya ke rumah temannya. Ia tidak bisa mengambil resiko bertemu dengan Agni lagi jika nekat membawa Rasya ke rumah miliknya.
...***...
Rasya telah tidur. Arga memanfaatkan waktu untuk menelepon Laras. Keduanya tak punya pilihan selain bicara ditelepon. Mengingat ada anak yang harus mereka jaga masing-masing.
"Bagaimana? Kita tidak bisa pergi dari sini dengan cepat," kata Arga gundah.
"Tapi kita harus pergi secepatnya sebelum Agni dan Hery tahu. Cepat atau lambat, mereka akan dapat kabar dari kepolisian kalau Rasya sudah ditemukan," tanggap Laras dari seberang telepon.
"Kau benar. Apa itu berarti kita akan pergi secara terpisah?" Arga merasa sedih. Rasanya dia sudah rindu meski belum sepenuhnya terpisah dari Laras.
"Kau tenang saja. Kita akan bertemu lagi. Kau kenapa bersikap seperti tidak akan bertemu lagi denganku?"
"Bukan begitu. Aku hanya takut kita tidak akan bisa bersatu."
__ADS_1
"Kalau kita jodoh, kita pasti bersama. Untuk sekarang yang kita lakukan hanyalah berusaha," ujar Laras. "Oh iya. Aku sedang melihat-lihat jadwal penerbangan ke Finlandia. Kau mau kita berangkat bersama atau--"
"Tentu saja kita harus pergi bersama! Beritahu aku kau membeli tiket yang mana," potong Arga antusias. Ia tidak akan melewatkan sedikit pun kebersamaannya dengan Laras. Walau itu harus dilakukannya tanpa sepengetahuan Rasya.