Impoten : Ritual Bergairah

Impoten : Ritual Bergairah
Bab 56 - Karena Kue Ulang Tahun


__ADS_3

...༻◊༺...


Kehidupan Arga berlangsung dengan tenang selama tinggal di Paris. Dia bahkan menjadi lebih dekat dengan Rasya. Arga berusaha selalu ada untuk sang putra di setiap waktu.


Sekarang sudah dua minggu Arga bekerja di rumah sakit ternama di Paris. Dia juga mulai menemukan teman baru di sana.


Ponsel Arga tiba-tiba menyuarakan notifikasi. Dia mendapati kalau besok adalah ulang tahun Rasya. Senyuman seketika mengembang di wajah Arga. Ia berencana membuat sesuatu yang spesial untuk putra tercintanya.


"Mungkin tahun ini akan menyenangkan jika dirayakan dengan meriah," gumam Arga. Dia segera membuka internet dan mencari toko kue terbaik untuk ulang tahun Rasya.


Sebuah toko kue bernama Almond menarik perhatian Arga. Dia melihat toko kue itu mendapat ulasan terbaik di internet. Terutama kue terbarunya.


Setelah pulang dari rumah sakit, Arga mendatangi toko kue Almond. Bel berdenting ketika dirinya membuka pintu toko.


Atensi Arga tertuju ke arah seorang perempuan yang berdiri memunggunginya. Perempuan itu tampak sibuk dengan bayi yang ada dalam kereta.


"Permisi?" ujar Arga.


Perempuan tersebut sontak berbalik badan. "Iya... Apa ada yang bisa--" sahutnya yang langsung terjeda saat menyaksikan sosok Arga. Bagaimana tidak? Perempuan itu tidak lain adalah Laras. Ia sangat kaget melihat Arga ada di depan mata.


Sama seperti Laras, Arga juga terkejut. Pupil matanya membesar.


Waktu seolah berhenti. Arga dan Laras saling terpaku dalam satu detik.


"Arga..." lirih Laras tak percaya.


"Laras... Bagaimana kau... Bukan kah kau ada di London?" Arga sampai bingung harus berkata apa.


Karena sudah lama tak bertemu, Laras dan Arga memutuskan untuk mengobrol. Sebagai orang yang berwenang di toko, Laras membuatkan minuman untuk Arga.

__ADS_1


"Ini kopi hangat untukmu." Laras datang membawakan minuman untuk Arga.


"Terima kasih," ungkap Arga. Ia pun menyesap kopi buatan Laras sejenak.


Bersamaan dengan itu, terdengar suara tangisan bayi. Laras pun bergegas mengurus bayinya. "Tunggu sebentar," katanya yang terlihat berlari cepat menghampiri kereta bayi.


Arga memperhatikan kemana Laras pergi. Dia melihat perempuan tersebut kembali sambil menggendong bayi.


"Apa dia anakmu?" tanya Arga.


"Iya. Namanya Adella," jawab Laras seraya duduk di kursi seberang meja Arga.


"Dia cantik sekali," puji Arga. Dia berpindah duduk ke dekat Laras. Mengamati Adella dengan seksama.


Arga tahu betul kalau Adella juga anaknya. Dia merasa senang anak itu terlihat sangat sehat dan cantik.


"Bolehkah aku menggendongnya?" tanya Arga.


"Matanya sangat mirip denganmu," imbuh Laras. Perkataan itu membuktikan bahwa dia tidak menampik Arga sebagai ayah kandung Adella.


Arga tersenyum mendengarnya. Dia segera mengamati wajah Adella dan berucap, "Adel juga punya bibir cantikmu."


Obrolan saling memuji itu di akhiri dengan tawa kecil Arga dan Laras. Keberadaan Adella membuat keduanya lupa menanyakan perihal kehidupan masing-masing dalam sejenak.


Hening sempat menyelimuti suasana. Sampai akhirnya Arga berkata, "Aku kira kau ada di London. Apa kau baru pindah ke sini?"


"Sejak awal aku memang di sini, Ga. Aku terpaksa berbohong pada semua orang demi Adella," tanggap Laras sambil menundukkan kepala. Dia tentu merasa bersalah sudah membohongi kedua orang tuanya.


"Kau ibu yang hebat. Adella sangat beruntung memiliki ibu sepertimu. Nasibnya berbeda dengan anak keduaku," ungkap Arga yang mengingat perihal kematian anak keduanya.

__ADS_1


Kelopak mata Laras melebar, "Anak keduamu? Apa yang terjadi padanya?"


"Dia meninggal saat masih berada dalam perut Agni. Karena itu juga Agni semakin marah padaku. Dia menyalahkanku atas segala yang terjadi kepadanya," jelas Arga panjang lebar.


"Ja-jadi kau dan Agni..." Laras tak kuasa menyelesaikan kalimatnya.


"Kami sudah berpisah. Sekarang aku dan Rasya mencoba memulai hidup baru di sini. Aku merasa lega saat semuanya berjalan dengan baik dibanding dulu," tutur Arga.


"Maafkan aku... Itu pasti sulit bagimu." Laras berempati terhadap apa yang terjadi pada Arga.


"Kau juga. Kita sama-sama melewati hal sulit karena ritual itu," balas Arga. Dia terus mengayunkan Adella dalam gendongannya. Bayi itu perlahan tertidur.


Tanpa sadar, Laras meneteskan air matanya. Buru-buru dia menghapus cairan bening yang sempat menetes tersebut. Mulutnya segera mengembangkan senyuman.


"Ya, seharusnya kita tidak perlu melakukan hal senekat itu. Tapi di sisi lain, aku merasa bersyukur bisa memiliki anak yang lahir dari rahimku sendiri," tutur Laras.


"Kau terlihat lebih baik sekarang, Laras..." komentar Arga.


Laras kembali tersenyum sambil menatap Adella yang sudah terlelap. "Kau sepertinya ahli menidurkan bayi. Lihat Adella sudah tidur nyenyak," ucapnya.


"Aku memang ahli mengurus anak," sahut Arga. Dia menyerahkan Adella kepada Laras. Perempuan itu permisi sebentar untuk meletakkan Adella kembali ke kereta bayi.


Arga mengekori Laras. Ia mengedarkan pandangan ke segala arah. Ketika melihat kue yang berjejer di lemari kaca, barulah dirinya teringat dengan tujuan utamanya datang ke toko.


"Aku mau pesan kue untuk besok," cetus Arga.


"Ah, tentu. Kau mau kue seperti apa?" tanggap Laras.


"Aku mau kue yang sangat spesial untuk ulang tahun Rasya," kata Arga.

__ADS_1


"Oke. Aku akan melakukan yang terbaik dengan tangan ajaibku," sahut Laras percaya diri. Dia dan Arga saling tersenyum malu. Sebenarnya mereka sama-sama senang dengan pertemuan tak terduga sekarang. Rindu yang ingin selalu mereka buang, ternyata tidak didukung oleh takdir.


__ADS_2