
...༻◊༺...
Laras terpojok ke pinggir sungai. Dia membiarkan Arga memeluknya dari belakang. Lalu menciumi punggung Laras bertubi-tubi.
Laras merasa seluruh badannya bergidik. Dia segera berbalik menghadap Arga dan menyatukan bibir dengan mulut lelaki itu.
"Aku tidak tahu kenapa aku selalu ingin menciummu," ungkap Laras, ketika ciumannya dan Arga terhenti.
"Mungkin karena kita memiliki nasib yang sama. Meski sudah menikah, anehnya kita masih merasa kesepian," tanggap Arga. Dia perlahan mencumbu ceruk leher Laras. Sambil melakukannya, dia melepas pakaian perempuan tersebut satu per satu.
Sebelum pergi dari sungai, Arga dan Laras menyempatkan diri untuk bercinta. Keduanya pergi saat sudah senja.
Dua hari berlalu. Tibalah saatnya Arga dan Laras pergi dari villa. Mereka sekarang dalam perjalanan pulang.
"Apa kau sudah siap bertemu dengan Hery?" tanya Arga.
"Aku setelah ini tidak akan pulang ke rumah. Aku ingin langsung pergi ke rumah ibuku," sahut Laras.
"Aku akan mendukung keputusanmu apapun itu." Arga menggenggam tangan Laras. Perhatiannya membuat perempuan tersebut tersenyum.
Setelah menempuh perjalanan panjang, Arga dan Laras akhirnya tiba di kota. Arga tentu membawa Laras ke klinik terlebih dahulu. Mengingat mobil Laras ditinggalkan di sana.
"Berhati-hatilah!" kata Arga yang mengantarkan Laras sampai ke mobil.
"Dokter!" dari kejauhan, Edy memanggil. Dia tidak lain adalah pihak keamanan yang berjaga di klinik Arga. Edy memanggil Arga sembari berlari.
Arga yang mendengar, segera keluar dari mobil. Sedangkan Laras memilih ingin langsung masuk ke mobil.
__ADS_1
"Aku duluan!" ujar Laras seraya memegang pintu mobil. Bersamaan dengan itu, Edy tiba di hadapan Arga.
"Dok! Kemarin istrimu ke sini. Dia menanyakan tentang..." Edy perlahan melirik Laras.
"Tentang wanita ini," sambungnya seraya menunjuk Laras dengan enggan.
Arga dan Laras bertukar pandang dengan intens. Kabar yang diberikan Edy tentu adalah sesuatu hal penting.
"Apa yang dia lakukan di sini?" Arga menuntut penjelasan dari Edy.
Edy lantas menceritakan semuanya kepada Arga. Dia memberitahu kalau Agni memeriksa kamera pengawas.
Arga sangat berterima kasih terhadap informasi yang diberikan Edy. Dengan begitu, dia dan Laras bisa bersiap menghadapi Agni. Keduanya lantas bicara sebentar. Mereka kini sedang berada di dalam mobil.
"Apa aku perlu ikut bersamamu untuk menemui Agni. Kita jelaskan kepadanya kalau kita tidak memiliki hubungan apapun," usul Laras.
"Kau yakin?" Laras mencemaskan Arga.
"Biarkan aku yang mengurus semuanya. Lagi pula Agni istriku. Biarkan aku yang mengurus rumah tanggaku. Kau sebaiknya juga fokus mengurus rumah tanggamu." Arga mencoba meyakinkan Laras. Selanjutnya, mereka segera berpisah dan kembali ke kehidupan masing-masing.
Di waktu yang sama, Agni sedang berada di rumah. Di sana juga ada sang mertua yang menemani.
Agni terpaksa libur demi menunggu kedatangan Arga. Dia bahkan sudah melaporkan perihal menghilangnya Arga ke kantor polisi. Sekarang Agni baru mendapatkan kabar dari polisi kenalannya mengenai pemilik mobil yang dirinya cari tahu.
"Nama pemilik mobil itu adalah Larasati Anggita. Dia merupakan istri dari pengusaha kaya Hery Darmawan," ujar rekan Agni dari seberang telepon.
"Hery Darmawan? Maksudmu Hery Darmawan yang punya bisnis tekstil itu?" Agni memastikan dan langsung dipastikan rekannya tanpa ragu. Pembicaraan mereka segera berakhir setelah itu.
__ADS_1
Agni membulatkan mata sambil memasang mimik wajah kaget. Dia hanya tidak menyangka kalau perempuan yang bersama suaminya adalah istri dari kliennya.
"Tidak! Sebaiknya aku jangan menyimpulkan dulu. Mas Arga tidak mungkin berkhianat. Aku tahu dia sangat mencintaiku." Agni berusaha keras meyakinkan dirinya sendiri.
Tak lama kemudian, mobil Arga terlihat memasuki pekarangan rumah. Agni yang melihat, langsung berlari ke teras untuk menyambut.
"Mas Arga!" panggil Agni.
"Agni!" Arga keluar dari mobil dan menghampiri Agni. Sang istri pun langsung berlari ke dalam pelukannya.
Meski rasa mual kembali datang, Agni berusaha keras menahannya. Dia memaksakan diri untuk memeluk Arga.
"Kau kemana saja? Aku mencarimu kemana-mana!" keluh Agni.
"Maaf tidak bilang padamu. Ponselku kehabisan baterai. Aku hanya pergi untuk menenangkan diri," ucap Arga.
Agni melepas pelukannya. Dia menundukkan kepala karena menahan mual. "Apa kau pergi sendirian?" tanyanya.
"Iya. Aku pergi sendiri," jawab Arga.
Kening Agni mengernyit. Dia merasa kalau Arga berbohong.
"Tapi sebelum pergi, aku harus mengurus pasien yang tiba-tiba datang ke klinik," ungkap Arga. Pernyataan itu tentu diberikannya untuk menghapus kesalahpahaman Agni.
Agni reflek menatap Arga. Namun dia langsung mengeluarkan cairan dari mulutnya. Cairan itu bahkan sampai mengenai sang suami.
Arga mendengus kasar. Dia merasa kesal sekali. "Kau tahu kenapa aku pergi sendiri? Itu semua karena ini. Aku tidak memberitahu kepergianku karena aku tahu kau lebih memperdulikan pekerjaan dan dirimu sendiri. Seperti itulah kau selama ini!" timpalnya. Arga mengeluarkan kekesalan yang telah lama dipendamnya sebagai suami.
__ADS_1