
...༻◊༺...
"Apa toko ini milikmu?" tanya Arga. Melanjutkan pembicaraan.
"Bukan, kebetulan pemiliknya sedang ada kesibukan sekarang. Jadi aku menggantikannya. Lagi pula aku butuh kegiatan lain agar tidak terlalu terpaku dengan Adel," jawab Laras.
Arga menganggukkan kepala. Kesunyian menyelimuti ketika Laras tampak sibuk mencari sesuatu. Sampai akhirnya perempuan itu mengambil secarik kertas dan pulpen.
"Kau bisa datang ke acara ulang tahun Rasya besok. Itu pun kalau kau berkenan," ujar Arga.
"Aku akan memikirkannya," tanggap Laras sembari menyodorkan kertas dan pulpen pada Arga. Ia menyuruh lelaki tersebut menuliskan nomor telepon dan alamat.
"Kau harus datang kalau aku meminta kuenya di antar ke rumah," sahut Arga.
Laras tersenyum sambil menggeleng. "Masalah itu, aku bisa menyuruh jasa pengantar untuk mengantarnya," ujarnya.
"Baiklah kalau begitu. Aku tak bisa memaksamu." Arga menyerahkan kertas yang sudah di isinya kepada Laras. "Senang bisa berjumpa denganmu lagi," pamitnya. Dia segera beranjak meninggalkan toko kue.
Laras terpaku menyaksikan kepergian Arga. Entah kenapa ada rasa senang saat mendengar lelaki itu telah berpisah dengan Agni.
"Ayolah, Laras! Kenapa kau senang dengan hal itu?" Laras menggetok kepalanya sendiri. Dia tidak seharusnya senang mendengar kabar perceraian Arga dan Agni.
Malamnya, Laras bekerja keras membuatkan kue untuk Arga. Dia bahkan harus bergadang sampai larut malam.
Pintu toko perlahan terbuka. Sosok Erika datang dan terkejut menyaksikan Laras masih bekerja.
"Astaga. Kau kenapa belum pulang?" tanya Erika.
"Aku harus membuat kue spesial. Sebentar lagi selesai," jawab Laras.
"Apa sespesial itu sampai kau lembur begini?" tukas Erika seraya mendekati Adella. Bayi itu asyik tertidur pulas di sana.
Wajah Laras memerah mendengar pertanyaan Erika. Dia baru sadar kalau dirinya cukup berlebihan membuatkan kue untuk Arga.
"Bukan begitu. Pelanggannya mendesakku agar bisa menyelesaikannya tepat waktu," ujar Laras. Dia membuat alasan asal demi menutupi perasaannya terhadap Arga.
"Kapan dia memesan?" selidik Erika.
__ADS_1
"Tadi siang," jawab Laras.
"Apa? Kenapa kau menerima pesanannya? Kita tidak membuatkan kue baru jika tidak dipesan jauh-jauh hari. Apalagi ini kue spesial ulang tahun kan?" Erika memprotes.
"Tidak masalah. Aku pastikan akan menyelesaikannya. Katanya dia akan memberi penilaian jelek di internet kalau aku mengecewakannya." Laras menanggapi dengan tenang.
"Apa dia blogger terkenal? Sampai kau tak bisa menolak pesanannya?" selidik Erika.
"Em... Aku rasa begitu," kilah Laras lagi. Bersamaan dengan itu, oven mengeluarkan bunyi denting. Hal tersebut menandakan kalau kue Laras telah matang. Kini dia siap masuk ke tahap mendekorasi kue.
"Ya sudah. Aku pulang duluan kalau begitu," kata Erika.
"Iya, berhati-hatilah," sahut Laras, membiarkan Erika pergi meninggalkan toko kue. Sebelum pergi, Erika tampak merubah plang toko yang awalnya bertuliskan open, menjadi kata tutup.
Saat hendak merias kue, Laras baru teringat kalau dia lupa menanyakan tema yang di inginkan Arga. Alhasil dia menghubungi lelaki tersebut lewat pesan.
'Rasya sangat suka one piece. Aku pikir dia akan sangat senang jika kuenya didekorasi dengan tema itu. Apa kau sedang mengerjakannya sekarang?' Begitulah balasan pesan Arga.
Laras menggeleng dan memilih tak membalas pesan Arga. Dia fokus menyelesaikan pekerjaannya.
Perkataan Laras terpotong tatkala melihat orang yang datang. Dia tidak lain adalah Arga.
"Ke-kenapa kau di sini?" Laras merasa gugup. Mengingat Arga memergokinya membuat kue untuk Rasya. Terlebih dia melakukannya di larut malam.
"Harusnya aku yang bertanya? Kenapa kau merepotkan dirimu membuat kue sampai tengah malam begini?" balas Arga.
"Aku hanya ingin. Lagi pula hakku ingin membuatnya kapan saja." Laras memberi alasan dengan perasaan aneh. Ia sampai tak berani menatap Arga. Laras terlihat menyibukkan diri membuat kue.
Berbeda dengan Arga, dia justru menatap Laras. Ia juga tak lupa memperhatikan kue yang dirias perempuan tersebut.
"Apa aku boleh membantu?" imbuh Arga sembari mengambil celemek, lalu mendekati Laras.
"Tidak usah. Kau--"
"Aku ayahnya Rasya. Aku berhak ikut campur mengurus kue untuk anakku," potong Arga bersikeras. "Jadi apa yang harus aku lakukan?" tanyanya.
Laras berhasil dibuat bungkam oleh Arga. Dia pun membiarkan Arga membantunya. Secara alami mereka kembali akrab. Keduanya bahkan sesekali bercanda dan tertawa.
__ADS_1
Selesai sudah kue dirias. Laras dan Arga membutuhkan waktu sekitar satu jam.
"Aku ke toilet sebentar," kata Laras.
Arga mengangguk. Dia melepas celemek dan menghampiri Adella yang tertidur nyenyak. Arga menatap kagum anak berparas cantik itu.
"Kau cantik sekali seperti ibumu," ucap Arga. Dia membawa Adella ke teras belakang karena anak itu terlihat berkeringat. Arga mencoba mencarikan udara segar untuk Adella.
Saat sudah ada di teras, perhatian Arga tak bisa lepas dari bulan yang bertengger di langit. Apalagi bulan sedang dalam masa purnama.
"Arga! Apa kau--" Laras datang. Ucapannya terjeda saat melihat Adella. Dia tadi mengira anak itu menghilang karena Arga membawanya tanpa izin.
"Maaf, aku membawanya ke sini karena sepertinya Adel kepanasan. Sekarang sedang musim panas di Paris. Akhir-akhir ini cuaca terasa panas sekali," kata Arga.
"Terima kasih," ungkap Laras. Bola matanya teralih ke arah bulan purnama.
"Kenapa? Apa bulan purnama juga mengganggumu?" tukas Arga.
Laras mendekat ke sisi Arga. Sekarang keduanya berdiri bersebelahan.
"Ya, aku terkadang berharap bulan purnama tidak pernah terjadi lagi," ungkap Laras.
"Kau tentu berharap begitu. Kau pasti menyesali apa yang pernah kita lakukan di setiap malam purnama..." Arga mendengus kasar sejenak. "Tapi kalau boleh jujur, aku tidak pernah menyesal bisa bertemu denganmu. Kita tidak akan saling mengenal jika bukan karena bulan purnama," tuturnya seraya menatap Laras.
Laras otomatis balas menatap Arga. Keduanya saling memasang tatapan lekat. Waktu seolah berhenti sejenak.
"Sebenarnya... Aku juga tidak pernah menyesali pertemuan kita," ungkap Laras.
Arga tersenyum mendengarnya. Atensinya tertuju pada bibir ranum Laras. Keinginan untuk mencium perempuan itu mendadak muncul.
"Bolehkah aku menciummu?" tanya Arga.
Laras tak menjawab dengan mulut. Tetapi dia menjawab dengan anggukan kepala. Arga pun mendekat dan menyatukan bibirnya dengan bibir Laras.
Ilustrasi Arga dan Laras sekarang :
__ADS_1