Impoten : Ritual Bergairah

Impoten : Ritual Bergairah
Bab 69 - Terpaksa Memberitahu


__ADS_3

...༻◊༺...


"Rasya..." Arga menatap Rasya dengan nanar.


"Mama sudah mengatakan semuanya padaku. Kalau Papa lebih mencintai Tante Laras dibanding Mama," ujar Rasya.


Mendengar putranya berucap begitu, Arga langsung menatap Agni. Ternyata sumber masalahnya adalah wanita itu.


"Ya sudah. Biarkan kami pergi," kata Agni sembari mencoba menyeret Rasya ikut bersamanya.


Arga lagi-lagi menghentikan. Namun kali ini dia tidak menghentikan Rasya, melainkan Agni. Arga tak punya pilihan selain bicara pada wanita tersebut.


"Aku akan jelaskan semuanya. Ini terkait alasanku membawa Rasya untuk tinggal di sini," ungkap Arga.


Agni menghempaskan tangan Arga dengan semburat wajah tidak suka. "Bukankah sudah jelas? Kau di sini karena Laras kan?" tukasnya.


Arga memutar bola mata sambil memegangi kepala. Dia sebenarnya lelah meyakinkan Agni. Perempuan itu sangat keras kepala.


"Tenanglah. Ayo kita duduk dulu dan bicarakan semuanya." Arga mencoba bersabar. Dia meredam amarahnya agar Agni bisa dibujuk.


"Nggak bisa! Pesawatnya akan berangkat sebentar lagi!" Agni tetap menolak.


Arga mendengus kasar. Dia terdiam sejenak, membiarkan Agni dan Rasya berlalu sebentar. Saat mereka berjalan menjauh beberapa langkah, barulah Arga bergerak.


Tanpa pikir panjang, Arga gendong Rasya. Kemudian membawanya berlari sejauh mungkin dari Agni.

__ADS_1


"Mama!" Rasya berusaha memberontak dan memanggil Agni. Tetapi kekuatannya mampu dikuasai oleh Arga, sehingga lelaki tersebut dapat membawa sang putra pergi lebih jauh dari Agni.


Sementara Agni, dia tentu langsung mengejar Rasya. Keributan yang terjadi sukses menarik perhatian banyak orang di bandara.


"Rasya!" panggil Agni. Kelajuan larinya tak bisa menyusul Arga dengan cepat. Alhasil dia terpikirkan ide bagus untuk menghentikan Arga.


"Tolong! Anakku diculik!" pekik Agni dengan bahasa Inggris. Dia beberapa kali berteriak begitu, sampai petugas keamanan pun bertindak. Mereka segera mengejar Arga.


Arga tak peduli dengan keributan yang dibuatnya. Dia hanya bertekad ingin menggagalkan keberangkatan Agni dan Rasya. Mengingat Agni tidak bersedia diajak bicara baik-baik.


Saat hendak melewati pintu keluar, Arga terpaksa berhenti. Dia merintih kesakitan karena Rasya tiba-tiba menggigitnya.


"Papa jahat! Papa kenapa begini?! Aku ingin pulang bareng Mama!" protes Rasya.


"Sya! Papa melakukan ini demi keselamatanmu. Papa harus bertanggung jawab!" sahut Arga yang kembali berlari. Akan tetapi di depan pintu keluar sudah ada petugas keamanan yang menghalangi. Mereka sepertinya sudah mendapat kabar mengenai penculikan anak yang sudah disebarkan Agni.


Arga terpaksa berhenti. Dia segera menatap ke arah layar jadwal penerbangan. Arga memastikan keberangkatan pesawat Agni. Di sana disebutkan bahwa pesawat yang tadinya akan dinaiki Rasya dan Agni baru saja lepas landas.


"Aku ayah anak ini," ucap Arga dengan nafas tersengal-sengal. Dia segera menurunkan Rasya. Untuk sekarang dirinya bisa tenang.


"Kau harus ikut kami!" ujar petugas keamanan.


Tak lama kemudian Agni datang. Dia langsung memeluk Rasya. Agni benar-benar membuat Arga terlihat buruk. Tidak saja di mata Rasya, tetapi juga orang lain.


...***...

__ADS_1


Laras baru saja tiba di bandara. Dia ditemani oleh teman dekatnya Linda. Laras menyuruh Linda menunggu di mobil untuk menjaga Adella.


Dengan cepat Laras memasuki area bandara. Dia menyisir tempat itu untuk mencari Arga. Karena banyaknya orang, Laras tentu tidak bisa langsung menemukan lelaki tersebut.


Laras akhirnya pergi menuju ruang tunggu. Derap kakinya terhenti tatkala melihat sosok Hery muncul di hadapan. Posisi lelaki itu agak jauh. Hery juga tampak berhenti saat menyaksikan Laras.


"Ma-mas Hery?" Mata Laras membulat. Ia membeku di tempat.


Hery tersenyum miring dan berjalan mendekati Laras. Dia mengamati perut Laras yang sudah rata. Hal tersebut menjelaskan kalau bayi yang dikandung perempuan itu telah lahir.


"Mana anakku?" tanya Hery.


"Anakmu?" Laras semakin tercengang.


"Kau sengaja pergi jauh untuk menjauhkanku dengan anakku kan?" timpal Hery.


"Apa yang kau bicarakan? Kenapa kau tiba-tiba mencariku dan membicarakan tentang anak?" balas Laras.


Mata Hery melotot tajam. Dia mengintimidasi Laras dengan tatapan itu. "Seseorang sudah memberitahu mengenai apa yang sudah kau lakukan agar bisa hamil. Teganya kau menumbalkan anakku dan Fita demi anakmu itu. Sekarang kau harus membayarnya! Fita jadi tidak bisa hamil lagi karena perbuatanmu!"


Laras dibuat kaget saat mendengar Hery menyinggung perihal masalah penumbalan. Meskipun begitu, dia berusaha tenang. Mengingat ada banyak kesalahan dari informasi yang disebutkan Hery.


"Siapa yang memberitahumu?" tanya Laras.


"Jadi itu benar? Kau bahkan tidak membantahnya." Hery justru menyimpulkan sendiri. "Sekarang katakan padaku dimana anak itu! Aku tidak akan membiarkan dia dijadikan tumbal selanjutnya!" sambungnya.

__ADS_1


Laras menggeleng kuat. "Dengar, Mas! Siapapun orang yang sudah memberitahumu, sebagian besar informasinya tidak benar! Pertama, aku memang melakukan segalanya agar bisa hamil, tapi aku tidak pernah menumbalkan siapapun atas perbuatanku!" ujarnya sambil menepuk dada dua kali.


"Dan kedua, aku ingin menegaskan bahwa anak yang sekarang bersamaku bukan anakmu! Jadi sebaiknya kau kembali pulang!" lanjut Laras dengan tatapan bergetar yang sedikit berair akibat menahan amarah. Dia terpaksa mengaku begitu demi melindungi Adella.


__ADS_2