
...༻◊༺...
Laras terus mengikuti mobil Hery. Dahinya berkerut ketika sang suami tidak belok ke jalan menuju perusahaan.
Rasa takut sekaligus penasaran bercampur aduk dalam diri Laras. Meskipun begitu, dia terus mengarahkan mobilnya ke arah yang sama dengan tujuan Hery.
Tanpa diduga, Hery menghentikan mobil di depan toko mainan. Ia membeli mainan anak di sana.
Laras yang mengamati dari kejauhan tentu semakin heran. Jantungnya berdegup kencang sekali karena dia mulai merasakan sesuatu yang tak benar. Akan tetapi, Laras terus menahan diri agar tidak terlalu cepat menyimpulkan. Tujuannya sekarang adalah mengikuti dan memperhatikan.
Setelah membeli mainan, Hery masuk ke toko bunga. Dia membeli sebuah buket bunga dari sana.
Mata Laras terbelalak. Dia menenggak ludahnya sendiri. Prasangka buruk telah memenuhi relung hatinya. Namun Laras masih menahan diri untuk menarik kesimpulan.
Kebetulan saat itu langit tampak gelap. Pertanda hujan akan turun.
Mobil Hery kembali berjalan. Laras lantas mengekorinya lagi. Sampai tibalah Hery membawa mobil masuk ke komplek perumahan elit. Lelaki tersebut berhenti di sebuah pekarangan rumah.
Laras pun ikut menghentikan mobil. Dia sengaja berhenti jauh dari Hery agar tidak ketahuan.
Buru-buru Laras keluar dari mobil. Dia bersembunyi di tempat dirinya bisa melihat Hery.
Dari tempat persembunyian, Laras bisa menyaksikan wanita tidak asing yang membuka pintu. Dia tidak lain adalah Fita.
Awalnya Laras mengira kalau kedatangan Hery hanya sekedar sebagai rekan kerja, tetapi pupus sudah anggapan itu ketika melihat suaminya memeluk dan mencium Fita. Laras juga mendengar jelas kalau keduanya saling memanggil sebutan sayang. Buket bunga yang tadi dibeli Hery bahkan diberikan pada Fita.
Deg!
Jantung Laras berdebam keras. Dia merasa seperti disambar petir di siang bolong. Dirinya semakin kaget saat melihat anak balita perempuan berlari menghampiri dan memanggil Hery dengan sebutan papa.
__ADS_1
Pemandangan yang terlihat membuat Laras hampir pingsan. Seluruh badannya jadi gemetar. Sungguh, dia tidak menyangka Hery berbuat begitu di belakangnya.
Laras ambruk ke tanah. Itu bertepatan saat Fita menutup pintu rumah.
Air mata Laras bercucuran. Dadanya terasa sesak sekali. Dia merasa pengorbanannya untuk Hery selama ini sia-sia.
"Tidak mungkin... Ini tidak mungkin terjadi..." isak Laras sambil meremas kuat dressnya.
Bersamaan dengan itu, langit yang tadinya menggelap, akhirnya menurunkan hujan. Laras yang merasa tak berdaya untuk berjalan, diam di tempatnya sembari terus menangis. Ia tidak peduli dengan air hujan yang terus menghantamnya.
...***...
Di hari minggu, Arga menghabiskan waktu bersama putranya. Dia menemani Rasya menggambar. Arga memang adalah tipe ayah yang dekat dengan anak.
"Kau sebenarnya tidak setuju kan kalau Papa pakai topeng monyet?" imbuh Arga.
"Iya. Aku memang nggak setuju! Tapi dari semua gambar yang kubuat, Mama lebih memilih gambar monyet," sahut Rasya.
"Iya, Pa! Papa mau gambar apa?"
"Menurutmu apa yang cocok buat Papa?"
Mendengar Arga bertanya begitu, Rasya segera berpikir. Dia mengarahkan bola matanya ke kanan atas. Hingga akhirnya jari telunjuk anak itu mengacung. Pertanda bahwa Rasya terpikirkan sesuatu.
"Kau sudah dapat sesuatu?!" tebak Arga antusias.
Rasya otomatis mengangguk. "Sebenarnya aku sudah menggambarnya! Tunggu, biar kuambil dulu," katanya seraya berlari mengambil gambar yang dimaksud.
Arga menanti Rasya mengambil gambar. Sang putra ternyata memilih gambar wajah spiderman sebagai topeng yang cocok untuk Arga.
__ADS_1
"Ini benar-benar keren!" ucap Arga. Dia segera mengenakan topeng pilihan Rasya. "Aku akan menemui mama dan memamerkannya!" sambungnya sambil berjalan menuju ke kamar Agni.
Pintu dibuka oleh Arga. Dia melihat Agni sibuk dengan laptop seperti biasa. Perempuan itu langsung berhenti ketika melihat Arga datang.
"Kenapa kau memakai topeng itu? Bukan kah aku sudah memilihkan gambar yang sesuai untukmu?" timpal Agni serius.
"Ini lebih keren kan? Lagi pula tega sekali kau membandingkan wajah tampan suamimu dengan monyet?" balas Arga.
"Aku tidak mau tahu! Kau harus pakai topeng itu kalau mau muncul di hadapanku!!" Agni terdengar kesal. Dia bahkan melemparkan bantal sampai mengenai Arga.
"Baiklah, baiklah! Aku akan memakainya!" Arga terpaksa mengalah. Dia segera pergi dan mengganti topengnya.
Saat pintu kamar tertutup, Agni tertawa geli. Dia sebenarnya tak peduli dengan gambar topeng yang Arga pakai, selama wajah lelaki tersebut ditutup. Agni memang memanfaatkan kehamilannya untuk mengerjai suami.
Tak lama kemudian Arga kembali dengan topeng monyet. Tetapi kali ini dia tak bicara sepatah kata pun. Arga hanya melintasi Agni sambil melepas pakaian.
"Wah, lihatlah lelaki yang baru lewat tadi. Dia sangat tampan. Bukankah namamu Sarimin?" ucap Agni. Mungkin niatnya hanya mau bercanda. Dia berusaha keras menahan tawa.
Dari balik topeng, Arga cemberut. Dia tidak menanggapi sama sekali perkataan Agni.
Sebagai suami, entah kenapa Arga merasa terhina. Menurutnya Agni sudah keterlaluan.
"Apa kau benar mengidam?! Menurutku ini sudah berlebihan!" Arga akhirnya bersuara. Dia bicara dengan serius.
"Kau kenapa jadi sensitif begitu? Aku sekarang memang sedang tidak bisa melihat wajahmu. Makanya aku membuatkan topeng untuk kau pakai!" balas Agni.
"Apakah ada istri hamil mengidam untuk menghina suaminya sendiri?!" sungut Arga.
"Jadi menurutmu ini hinaan? Lalu aku harus apa?! Kau tidak akan pernah paham kesulitan yang dihadapi wanita saat hamil. Bahkan saat kau bekerja sebagai dokter kandungan sekali pun!" Agni tak mau kalah. "Kalau kau tak mau, tidur saja di luar rumah!" suruhnya yang akhirnya ikut kesal.
__ADS_1
Tanpa diduga, ponsel Arga berdering. Dia segera memeriksa dan menemukan Laras meneleponnya.