Impoten : Ritual Bergairah

Impoten : Ritual Bergairah
Bab 32 - Rumah Tangga Laras


__ADS_3

...༻◊༺...


"Selama ini aku yang terus bersabar denganmu. Karena aku sempat menjadi suami yang tidak bisa memuaskanmu..." ucap Arga, lalu pergi dari hadapan Agni. Dia mendengus lega saat bisa menghadapi semuanya dengan baik. Memanfaatkan kesalahan Agni telah menyelamatkannya dari kecurigaan.


Agni kembali dibuat merasa bersalah. Dia segera masuk ke rumah. Agni juga tidak lupa memberitahukan polisi kalau Arga sudah kembali.


Arga segera menerima pelukan dari ibunya dan Rasya. Dia mendapatkan pertanyaan dari mereka. Arga hanya menjawab kalau dirinya pergi karena ingin membuat Agni tenang.


"Yeay! Sekarang aku bisa main sama Papa!" seru Rasya.


"Jangan sekarang, Sya. Papa kamu perlu istirahat." Sari memberitahu Rasya baik-baik.


"Ya sudah kalau begitu." Rasya memanyunkan mulutnya. Arga lantas mengelus puncak kepala anak itu.


Rasya segera berlari masuk ke kamar. Dia sepertinya akan bermain sendiri. Hal serupa juga dilakukan Arga. Lelaki itu membersihkan diri terlebih dahulu ke kamar mandi.


"Kenapa kau tidak bilang kalau sedang mengidam tak mau melihat putraku?" timpal Sari dengan dahi berkerut.


"Maaf, Bu. Aku kira itu bukan sesuatu yang penting untuk dikatakan," jawab Agni seraya tertunduk.


"Tentu saja penting. Arga pergi karenamu! Kau sebaiknya perlakukan putraku dengan baik. Selesaikan urusan rumah tangga kalian dengan baik," ujar Sari. Dia pamit pulang setelah menunggu Arga mandi. Arga dan Agni melepas kepergiannya dari teras rumah.


"Mas, aku--"


"Sebentar. Biar aku mengambil topengku," potong Arga sambil beranjak. Namun Agni sigap memegang tangannya.


"Jangan! Gunakan masker saja tidak apa-apa," kata Agni.

__ADS_1


Arga hanya menanggapi dengan tatapan. Kemudian masuk ke dalam rumah. Agni segera mengikutinya.


...***...


Laras baru saja tiba di rumah orang tuanya. Kebetulan kediaman orang tua Laras ada di luar kota. Jadi tidak heran tempat itu selalu dijadikan Laras alasan jika sedang pergi.


Kedatangan Laras disambut Wina dan Dani dengan baik. Terlebih keadaan Laras yang sedang hamil muda.


"Mana suamimu?" tanya Wina.


"Aku sendiri, Bu..." jawab Laras.


"Sendiri?! Kenapa kau berani sekali pergi ke sini sendiri? Kalau terjadi apa-apa bagaimana?" omel Wina yang mencemaskan putrinya.


"Jangan bilang Hery yang tidak bisa menemanimu," timpal Dani serius.


Wina dan Dani bertukar pandang. Keduanya merasa ada sesuatu yang terjadi. Apalagi ketika melihat wajah Laras yang terus sendu.


"Nak? Apa ada sesuatu yang terjadi? Kau bisa ceritakan semuanya sama Ibu dan Bapak," tutur Wina sembari mengelus pundak Laras.


Suasana hening dalam sepersekian detik. Sampai akhirnya air mata Laras berjatuhan. Dia tidak bisa menahan lagi.


"Laras! Kenapa kau menangis?! Apa Hery sudah melakukan hal yang buruk?!" tanya Dani cemas.


"Mas Hery... Mas Hery..." Laras berusaha bicara. Namun dia tenggelam dalam tangisan dan sakit hati.


"Ayo katakan, apa yang sudah dilakukannya?" Dani sudah tak sabar.

__ADS_1


Laras berdiri sambil menghapus air mata di wajah. "Biarkan aku istirahat dulu," ucapnya sembari masuk ke kamar.


"Laras! Kau--"


"Sudahlah, Pak. Biarkan dia istirahat. Laras butuh waktu untuk mengatakan semuanya. Berharap saja itu bukanlah hal yang buruk." Wina mencegah Dani yang hendak mengejar Laras. Untung saja lelaki paruh baya itu mau menurut.


Sekarang Laras meringkuk di ranjang. Dia memasang tatapan kosong. Dirinya tidak hanya memikirkan Hery, namun juga Arga. Kedua lelaki itu sudah menjadi bagian penting di hidupnya. Andai harus memilih, Laras tidak tahu akan memilih siapa. Mengingat Arga sudah memiliki istri dan anak.


Semuanya begitu rumit. Laras sampai merasa pusing memikirkannya. Satu hal yang pasti, dirinya masih tak bisa bertatap muka dengan Hery.


Tanpa terasa, Laras akhirnya tertidur. Dia benar-benar kelelahan dengan mental serta fisiknya.


Sementara di ruang tamu, Dani memasang raut wajah marah. Dia sangat penasaran dengan apa yang sudah dilakukan Hery terhadap putrinya.


"Aku sudah tidak tahan!" Dani akhirnya mengambil telepon dan menghubungi Hery.


"Bapak! Jangan!" Wina yang datang sambil membawa kopi, berusaha menghentikan. Dia meletakkan kopi ke meja terlebih dahulu.


"Diam kau!" tegas Dani. Tak peduli dengan usaha Wina yang mencoba menghentikannya.


"Bapak! Baru saja aku ingin menelepon. Aku ingin menanyakan tentang--"


"Apa yang sudah kau lakukan pada putriku? Dia datang ke sini dan sampai menangis tersedu-sedu!" tukas Dani memotong ucapan Hery dari seberang telepon.


"Apa? Menangis?" Hery terdengar kaget.


"Cepat katakan apa yang sudah kau lakukan!" geram Dani.

__ADS_1


Mendengar suara ayah mertua murka begitu, Hery terlonjak kaget. Jantungnya berdegup kencang sekali. Dia sekarang berfirasat kalau Laras sepertinya sudah mengetahui hubungannya dengan Fita.


__ADS_2