Impoten : Ritual Bergairah

Impoten : Ritual Bergairah
Bab 30 - Pencarian Hery


__ADS_3

...༻◊༺...


Agni membiarkan rekaman Laras terus berjalan. Sampai akhirnya Arga terlihat muncul di video.


"Mas Arga!" seru Agni. Matanya terbuka lebar karena ingin melihat apa yang dilakukan suaminya. Apalagi ketika Arga tampak bicara dengan Laras.


Deg!


Jantung Agni berdegub lebih kencang tatkala menyaksikan Arga berpelukan dengan Laras. Agni reflek membekap mulutnya sendiri. Arga terlihat berusaha menenangkan Laras yang menangis.


"Siapa wanita itu?!" Agni merasa penasaran. Rasa penasarannya semakin membuncah ketika rekaman berakhir saat memperlihatkan kepergian Arga dan Laras.


"Pak! Apa kau pernah melihat wanita ini? Apa dia pasien di sini?" Agni bertanya pada pihak keamanan yang bertugas.


Pihak keamanan itu lantas memperhatikan Laras dari rekaman yang dijeda. Namanya adalah Edy.


"Aku tidak tahu apakah dia pasien di sini. Tapi aku tahu kalau dia adalah wanita yang meninggalkan mobilnya di parkiran," jelas Edy.


"Tunggu dulu. Meninggalkan mobil kau bilang?" Agni menuntut jawaban.


"Iya. Itu mobilnya masih ada di parkiran. Dia sudah tidak kembali semenjak hari minggu kurasa," ungkap Edy.


Tanpa basa-basi, Agni sekarang menyuruh Edy memperlihatkan rekaman kamera pengawas di parkiran. Setelah dilihat, Arga tampak pergi bersama Laras.


"Tunjukkan mobil wanita itu padaku!" pinta Agni yang tak sabar.

__ADS_1


Edy menunjukkan mobil milik Laras. Dengan koneksinya, Agni mengambil foto nomor plat mobil Laras. Lalu menyuruh polisi kenalannya untuk mencari tahu.


Di sisi lain, Hery sama cemasnya seperti Agni. Dia sedang bersiap-siap ingin pergi meninggalkan rumah Fita.


"Kau mau pergi? Apa kau lupa? Kau kan sudah janji akan berada di sini full selama tiga hari!" timpal Fita seraya menghentakkan salah satu kakinya.


"Laras belum pulang sejak kemarin! Bagaimana aku tidak khawatir?!" sahut Hery.


"Tapi aku tidak mau kau pergi!" Fita merengek. Air matanya sampai bercucuran. Sehingga Hery tidak kuasa melihatnya. Lelaki itu segera membawa Fita ke dalam pelukan.


"Oke, oke. Aku tidak akan pergi. Maafkan aku..." Hery menuruti keinginan Fita. Mengingat wanita itu juga sedang mengandung anaknya.


"Jangan pergi... Awas saja kalau kau berani meninggalkanku dan Rista..." isak Fita seraya memeluk erat Hery.


Hery menghela nafasnya. Ia harus memikirkan cara lain untuk memastikan keadaan Laras. Meski sekarang Hery berada di sisi Fita, bukan berarti dirinya tidak peduli dengan perempuan tersebut.


Mendengar tutur kata lembut Hery, Fita tersenyum. "Aku mau suamiku..." ujarnya. Kemudian memberi kecupan singkat ke bibir Hery.


Apa yang dilakukan Fita membuat Hery tergelak. "Ternyata istriku nakal juga ya," komentarnya yang sangat mengerti maksud Fita.


"Bukan aku. Tapi sepertinya ini pengaruh dari bayi kita. Kehamilan ini membuat libidoku meningkat. Makanya aku ingin kau terus di sampingku," ucap Fita. Ia memegangi wajah Hery. Lelaki tersebut tersenyum dan segera memberikan ciuman bibir. Lalu membawa Fita ke kamar.


Tentu berhubungan intim sudah jadi hal biasa bagi Hery dan Fita. Keduanya mengakhiri kegiatan intim saat saling merasa terpuaskan. Kini mereka telentang sambil berpelukan di ranjang.


Selang sekian menit, Fita jatuh tertidur. Namun tidak untuk Hery. Dia sengaja menunggu Fita tidur agar bisa beranjak.

__ADS_1


Dengan hati-hati Hery melepas pelukan Fita. Ia beringsut ke ujung kasur dan memasang celana pendek. Hery tak lupa mengambil ponsel sebelum beranjak.


Setelah memikirkan cukup lama, Hery akhirnya terpikirkan cara lain untuk mencari tahu keberadaan Laras. Dia menyuruh orang kepercayaannya untuk melakukan tugas tersebut.


Seorang lelaki bernama Anwar, menjadi orang yang dipilih Hery. Pria itu memulai pencarian di kamera pengawas yang ada di rumah terlebih dahulu.


Karena tak bisa pergi, yang dilakukan Hery hanya menanti kabar dari Anwar. Kabar pertama yang dia dapat adalah mengenai kepergian Laras.


Anwar memberitahu kalau Laras pergi, tepat setelah mobil Hery beranjak. Hal tersebut membuat jantung Hery berdebar kuat. Apalagi setelah Anwar memastikan bahwa gelagat Laras terkesan seperti tergesa-gesa.


"Kenapa Laras pergi setelah aku pergi? Apa dia mengikutiku?" gumam Hery menduga. Dia sontak diselimuti perasaan panik.


"Sial! Sial! Jangan sampai Laras tahu." Hery mengacak-acak rambutnya frustasi. Dia otomatis segera memeriksa kamera pengawas di halaman rumah Fita. Akan tetapi dirinya tidak bisa menemukan keberadaan Laras.


"Dia tidak ada. Syukurlah," ucap Hery. Meski merasa sedikit lega, dia tetap gigit jari karena masih merasa gelisah.


Sementara itu, Arga dan Laras sedang berada di sungai. Keduanya asyik berenang bersama. Mereka benar-benar menikmati suasana pegunungan.


"Airnya segar sekali!" ucap Laras.


"Katanya air bisa segar begini karena ada buayanya," tanggap Arga.


"Kaulah buayanya!" ledek Laras bercanda. Lalu berenang menjauh dari Arga.


"Apa kau bilang? Aku?" Arga menyambut candaan Laras dengan baik. Dia segera berenang mendekati Laras. Disertai senyuman nakalnya. "Kalau begitu, aku akan menangkapmu!" serunya.

__ADS_1


"Jangan coba-coba!" balas Laras. Dia tergelak lepas. Apalagi ketika Arga berhasil menangkapnya. Keduanya seperti pasangan remaja yang sedang dimabuk asmara.


__ADS_2