Impoten : Ritual Bergairah

Impoten : Ritual Bergairah
Bab 45 - Perdebatan


__ADS_3

...༻◊༺...


"Mas!" panggil Agni sembari mengejar Arga.


Arga masih tidak bereaksi. Dia terus melangkah maju sampai Agni meraih lengannya.


"Mas! Kau mendengar panggilanku kan?" ujar Agni seraya memutar tubuh Arga menghadapnya. "Kau kenapa? Apa aku melakukan kesalahan?" tanyanya.


"Kita bicara nanti saja. Aku mau menemani Rasya bermain!" tolak Arga.


"Mas! Harusnya di sini aku yang marah padamu!" timpal Agni.


Arga yang tadinya hendak menghampiri Rasya urung melakukannya. Dia berhenti dan menatap Agni.


"Apa maksudmu?" tanya Arga.


Agni melangkah lebih dekat ke hadapan Arga. Dia berbisik, "Aku tahu kau berselingkuh dengan Laras!"


Arga tampak tenang saat mendengarnya. Mengingat Laras sudah memberitahunya perihal apa yang diketahui Agni.


"Buktikan kepadaku!" tanggap Arga.


Agni segera memperlihatkan rekaman kamera pengawas saat di klinik kepada Arga. Dia juga mengatakan kesamaan waktu Arga dan Laras pergi.


"Aku tadi sudah bicara pada Laras. Tapi dia tidak mengaku. Padahal semua bukti yang kumiliki sudah jelas menunjukkan kedekatan kalian. Kalau Laras tidak bersedia mengaku, setidaknya kau yang melakukannya! Mengakulah sebelum aku bertindak lebih jauh!" kata Agni panjang lebar.


"Bukti yang kau miliki tidak cukup membuktikan kalau aku dan Laras berselingkuh. Kau sekarang harusnya mengkhawatirkan dirimu sendiri," sahut Arga.


"Ya, tentu saja aku mengkhawatirkan diriku sendiri. Bayangkan? Sekarang aku hamil anakmu! Aku juga memikirkan perasaan Rasya!"


"Kau tidak usah berlagak seperti orang yang sudah menjaga Rasya. Akulah yang selama ini selalu menemaninya." Arga berusaha tenang menghadapi Agni. Tetapi sepertinya istrinya itu tidak tampak tenang.


"Apa kau tidak pernah berpikir bagaimna reaksi Rasya saat tahu kau memiliki hubungan dengan wanita lain?!" Agni kesal. Dia jadi meninggikan intonasi bicaranya. Hingga Rasya mendengar dan menoleh.

__ADS_1


"Agni! Bisakah kau bicara dengan pelan?" Arga memperingatkan sambil memegangi pundak Agni. Matanya kini menyalang. Sikap Agni sekarang berlebihan.


"Enggak! Kau sebaiknya mengaku! Sudah berapa lama kau dan wanita itu melakukannya, hah?!" timpal Agni.


Mendengar ada keributan, Sari keluar dari kamar. Atensinya langsung tertuju pada Arga dan Agni yang sedang berdebat. Wanita paruh baya itu terdiam untuk melihat keadaan terlebih dahulu.


"Lalu bagaimana dengan kau?! Untuk apa kau membeli sebuah apartemen, hah?!" Arga tidak tahan lagi. Dia akhirnya mengeluarkan pertanyaan yang langsung mampu membungkam mulut Agni. Mata perempuan itu bergetar.


"Ba-bagaimana kau tahu?" tanya Agni tergagap.


Bersamaan dengan itu, suara tangisan Rasya terdengar. Arga dan Agni lantas menoleh ke arahnya.


"Rasya!" Arga dan Agni segera menghampiri putra mereka. Akan tetapi Sari melakukannya lebih dulu. Wanita paruh baya itu memeluk dan menenangkan Rasya.


"Sya... Ayo kita makan nasi goreng telur kesukaanmu. Nenek akan membuatkan yang spesial kali ini," tutur Sari.


"Tapi Papa dan Mama bertengkar... Hiks!" isak Rasya.


"Rasya, kami--"


"Papa dan Mama sudah berhenti bertengkar. Lihatlah!" ujar Sari sambil menunjuk ke arah Arga dan Agni.


Arga merangkul pundak Agni dan tersenyum. "Iya, Sya. Kau salah paham," ungkapnya.


Perlahan Rasya berhenti menangis. Dia setuju pergi ke dapur bersama Sari untuk memakan makanan kesukaannya.


Kini Arga dan Agni tertinggal berdua. Keduanya saling mendengus kasar.


"Aku sudah memperingatkanmu untuk bicara nanti. Tapi kau masih keras kepala seperti biasanya," imbuh Arga sembari beranjak lebih dulu.


Agni sekarang tidak terpikir untuk melanjutkan pembicaraan dengan Arga. Dia justru memikirkan bagaimana suaminya itu bisa tahu mengenai apartemen.


Buru-buru Agni menghubungi Virgo. Namun nomor pemuda itu tidak aktif.

__ADS_1


"Dasar lelaki sialan!" umpat Agni. Ia terpaksa pergi menemui Virgo ke apartemen.


Dari jendela, Arga melihat kepergian Agni. Dia bisa menduga kemana sang istri akan pergi.


Arga pun menghubungi Virgo. Pemuda itu langsung mengangkat panggilannya.


"Istriku akan menemuinu. Lakukanlah yang harus kau lakukan!" perintah Arga.


"Baiklah! Lagi pula ini bukanlah tugas yang sulit," sahut Virgo dari seberang telepon.


Arga mengakhiri panggilan lebih dulu. Dia sebenarnya sudah merencanakan semuanya setelah bertemu dengan Virgo. Arga menyuruh pemuda itu mengganti nomor telepon sehingga nanti Agni terpaksa menemuinya. Dengan begitu, Arga bisa mendapatkan bukti tentang perselingkuhan Agni.


Untuk sekarang rencana Arga berjalan mulus. Agni sudah berdiri di depan pintu unit apartemen Virgo. Dia menekan bel pintu dengan wajah cemberut.


"Hai, Sayang! Ada apa?" sapa Virgo seraya membuka pintu.


"Sialan! Kenapa nomormu tidak aktif, hah?!" Agni masuk ke apartemen sembari memukuli Virgo dengan tas.


"Maaf, nomorku terblokir. Baru saja kuganti. Jadi aku tidak sempat memberitahum," jelas Virgo. Dia melangkah mundur sambil menghindari serangan Agni.


Puas memukuli Virgo, Agni menutup pintu apartemen. Dia menanyakan perihal Arga pada Virgo.


"Apa maksudmu? Suamimu tidak pernah datang ke sini," tanggap Virgo.


"Lalu bagaimana dia tahu mengenai apartemen ini?!" timpal Agni.


"Tenanglah dahulu. Mungkin dia membicarakan tentang apartemen lain?" Virgo memegangi pundak Agni. "Kenapa aku berpikir kalau kedatanganmu ke sini itu karena merindukanku?" tukasnya menggoda.


Agni menatap Virgo. Dia terdiam sejenak karena tergoda dengan wajah tampan pemuda tersebut. Walaupun begitu, Agni berusaha menahan diri.


"Ayo mengakulah..." desis Virgo sembari perlahan meraba titik tubuh sensitif Agni. Saat itulah pertahanan perempuan tersebut tumbang. Terlebih, dia dan Arga sudah lama tidak bercinta. Semuanya menjadi tidak mungkin setelah pertengkaran yang terjadi.


"Sial!" maki Agni. Dia menarik kerah baju Virgo, lalu mencium bibir perempuan itu. Keduanya lantas saling bergulat lidah dengan intens.

__ADS_1


Virgo melepas tautan bibirnya sejenak. "Bukan kah kau bilang sudah tak mau berurusan denganku lagi?" tanyanya.


"Persetan dengan itu! Suamiku selingkuh, maka aku juga akan melakukannya!" Agni kembali menyatukan bibirnya dengan mulut Virgo.


__ADS_2