Impoten : Ritual Bergairah

Impoten : Ritual Bergairah
Bab 48 - Kekhawatiran Arga


__ADS_3

...༻◊༺...


Agni kembali ke mobil. Dia dan Arga pulang bersama. Kebetulan mobil Agni sedang ditinggal di bengkel. Sebelumnya perempuan itu pergi menggunakan taksi ke apartemen.


"Semuanya terasa berbeda sekali sekarang," celetuk Agni. Dia menatap Arga. Dirinya melihat lelaki tersebut tampak muram.


"Bolehkah aku tahu bagaimana kau dan Laras mulai--"


"Bisakah kita tidak membicarakannya? Aku sedang berusaha menenangkan pikiranku," potong Arga yang tak mau membahas perihal hubungannya dengan Laras. Terlebih perempuan itu sudah membuatnya cemas sekarang.


Agni langsung bungkam. Dia tidak bicara lagi setelah itu.


Sesampainya di rumah, Arga dan Agni berusaha bersikap baik-baik saja ketika di hadapan Rasya. Mereka menikmati makan malam bersama anak itu.


Usai menghabiskan waktu bersama, Arga membersihkan diri ke kamar mandi. Saat itulah dia memikirkan apa yang akan terjadi jika dirinya mengakhiri hubungan dengan Laras. Satu hal yang pasti, Arga pasti akan kembali impoten. Pertanyaannya, apakah Agni bersedia menerima itu?


Setelah mandi, Arga mengenakan pakaian. Dia segera mencari Agni. Arga melihat perempuan itu di balkon. Tangannya tampak memegangi perutnya yang mulai membuncit.


"Sedang memikirkan anak kita?" tanya Arga yang sudah berada di dekat Agni.


"Ya. Aku merasa sedih saat memikirkannya," jawab Agni.


Hening menyelimuti suasana dalam beberapa saat. Sampai akhirnya Arga berkata, "Ada sesuatu yang ingin kubahas."


Agni menoleh. "Apa?"


"Ini tentang masalah impotenku. Andai kita melupakan kesalahan masing-masing dan memulai kembali hubungan kita, apa kau akan tetap menerimaku jika aku kembali impoten?" ujar Arga.

__ADS_1


Agni mengerutkan dahi samar. "Kenapa kau berucap begitu? Kau sudah sepenuhnya sembuh bukan?" tanggapnya.


"Aku ingin jawabanmu. Kau akan menerimaku atau tidak?" desak Arga. Pilihannya untuk bertahan dengan Agni jadi dihantui keraguan.


"Aku yakin kau sudah sembuh. Tentu saja aku akan menerimamu," ujar Agni.


"Itu berarti kau tidak akan menerimaku kalau aku kembali impoten." Arga menyimpulkan.


"Kenapa kau sangat yakin kalau kau akan kembali impoten?" balas Agni yang merasa heran. Kekhawatiran Arga tentu membuatnya heran. Mengingat Agni tidak mengetahui apa yang harus dilakukan Arga agar sembuh dari impoten.


"Aku hanya berandai. Oke? Kau mendatangi para pemuda itu karena aku tak bisa memuaskan hasratmu!" Arga tersungut.


"I-itu hanya kesalahan... Aku..." Agni bingung harus berkata apa.


"Kesalahan? Apa kesalahan akan dilakukan berkali-kali?" timpal Arga. Dia mengusap kasar wajahnya sambil berdecak kesal. "Sepertinya aku harus mempertimbangkan lagi perceraian kita," sambungnya, lalu beranjak dari balkon.


Agni mematung di tempat. Dia sebenarnya merasa aneh dengan kekhawatiran Arga mengenai impoten.


Di sisi lain, Laras sedang menikmati teh hangat sendirian. Dia duduk di teras belakang villa.


Kala itu Laras ditemani kegelapan malam. Dia memegangi perutnya sendiri.


"Kalau Arga mengakhiri hubungannya denganku, maka otomatis kami berhenti melakukan ritual. Itu berarti..." Laras mendadak terpikirkan nasib janin dalam kandungannya. Bagaimana tidak? Dia sangat ingat Senopati pernah bilang bahwa bayinya akan mati jika dirinya berhenti melakukan ritual.


"Tidak! Itu tidak boleh terjadi. Hanya anakku satu-satunya yang kumiliki sekarang!" gumam Laras. Dia berdiri dari tempat duduk. "Aku harus menemui Senopati! Mungkin dia punya cara agar aku bisa mempertahankan anakku!" sambungnya.


Laras berniat ingin bersiap pergi ke tempat Senopati. Namun saat dia hendak beranjak dari teras, langkahnya terhenti. Sebab atensi Laras tertuju ke arah pepohonan. Di sana tampak sesosok lelaki tua yang sangat mirip dengan Senopati.

__ADS_1


Pupil mata Laras membesar. Dia yakin lelaki tua yang dilihatnya adalah Senopati.


"Mbah Seno?" panggil Laras.


Lelaki yang tampak mirip Senopati itu tidak menjawab. Dia justru berjalan masuk ke hutan.


Laras mencoba mengejar lelaki tersebut. Dengan bersinarkan cahaya senter dari ponsel, dia memasuki hutan.


Angin malam yang dingin langsung berhembus. Suasana hutan membuat Laras merinding. Perempuan itu jadi berpikir ingin kembali ke villa. Apalagi ketika dia menyadari lelaki yang dikejarnya tak terlihat.


"Kau mencariku?" suara lelaki tiba-tiba terdengar. Laras sontak menoleh ke sumber suara. Sosok Senopati langsung menyambut.


"Mbah Seno! Ternyata benar kau!" seru Laras.


"Aku sudah tahu apa yang terjadi padamu dan Arga," imbuh Senopati. Dia tersenyum miring. Senyuman yang belum pernah Laras lihat sebelumnya.


"Be-benarkah?" Laras tergagap.


"Kau ingin bertanya padaku mengenai janin dalam perutmu kan?" tebak Senopati.


"Iya! Apakah ada cara lain untuk mempertahankannya selain melakukan ritual?" tanya Laras.


"Hahaha! Bukankah aku sudah memberitahumu segalanya? Kau tahu jawabannya," tanggap Senopati.


"Maksudmu tidak ada cara lain untuk mempertahankannya?" Mata Laras bergetar.


"Ya! Dedemit yang membantumu dan Arga butuh tumbal jika kalian memutuskan mengakhiri ritual!" ucap Senopati. "Ah, benar. Aku sudah memberitahu kalau kau dan Arga tidak boleh jatuh cinta kan?"

__ADS_1


Laras tidak menjawab. Dia yang takut dan cemas hanya bisa menangis.


"Itu karena jika kau dan Arga menikah, maka resikonya akan lebih besar dibanding mengakhiri ritual," sambung Senopati.


__ADS_2