
...༻◊༺...
Agni membuka kacamata hitamnya. Dia segera membungkuk dan merentangkan kedua tangan. Rasya yang mengerti, segera berlari ke dalam pelukannya.
"Aku kangen Mama!" ungkap Rasya.
"Mama juga kangen sama kamu, Sya!" sahut Agni.
"Ayo, Ma! Aku menyimpan banyak kue untukmu. Tadi hampir saja dihabiskan oleh teman-temanku," kata Rasya antusias.
"Baiklah. Ayo kita makan kue!" ujar Agni. Rasya pun menarik tangannya. Agni diajak anak itu menghampiri meja kue.
Sambil berjalan, Agni mengedarkan pandangan ke segala arah. Dia mencari Arga. Agni sebenarnya merindukan lelaki itu dan juga Rasya. Sungguh, Agni baru menyadari betapa berartinya mereka setelah melewati beberapa bulan sendirian. Dia menyesali perpisahan yang dirinya pilih. Terutama terkait hak asuh Rasya.
Tanpa sepengetahuan Arga, Agni sering menghubungi Rasya. Kedatangannya sekarang juga berdasarkan pemberitahuan Rasya. Anak polos itu, tentu masih mengharapkan kedatangan ibunya. Rasya bahkan memperkenalkan Agni pada teman-temannya.
Di waktu yang sama, Arga sedang asyik berciuman bibir dengan Laras. Keduanya saling bergulat lidah dengan intens.
Suara deru nafas Arga menderu-deru. Dia sudah terbakar gairah. Puas berciuman, bibirnya segera beralih ke ceruk leher Laras.
"Ah..." Laras memejamkan mata karena terbuai dengan sentuhan Arga. Walaupun begitu, dia menyadari kalau dirinya dan Arga harusnya mengkhawatirkan sesuatu.
"Ga, sebaiknya kita tidak melakukan ini. Bagaimana kalau ada yang lihat? Di luar masih ada banyak orang," ucap Laras memperingatkan. Dia juga mencoba mendorong Arga. Akan tetapi lelaki itu tak mau berhenti.
__ADS_1
"Mereka di luar. Kita di dalam. Tak akan ada yang tahu..." desis Arga dengan nafas tersengal-sengal. Dia justru menurunkan gaun Laras ke pinggul, lalu melepas bra perempuan itu.
"Arga... Setidaknya jangan di sini. Kita pergi ke... Ahh!" Laras yang masih berusaha memperingatkan, kalah dengan serangan bertubi-tubi Arga. Lelaki tersebut melahap buah dadanya dengan ganas. Akibatnya, asi Laras tak sengaja bercipratan keluar.
"Sial!" Anehnya pemandangan itu membuat Laras semakin terangsang. Dia menjambak rambut Arga dan membiarkan lelaki tersebut terus bergumul dengan buah kembarnya.
Suasana kian memanas ketika Arga menanggalkan pakaian yang tersisa di tubuh Laras. Dia lalu mencoba memainkan jari-jemarinya.
Namun Laras sigap menghentikan. Dia ingin menyentuh alat vital milik Arga lebih dulu. Pupil mata Laras membesar saat dapat merasakan celana Arga terasa sesak. Ya, organ intim lelaki tersebut menegang.
"Ga, apa kau merasakannya?" tanya Laras yang merasa tak percaya.
Arga pun memeriksa terlebih dahulu untuk memastikan. Benar saja, miliknya tidak letoy lagi.
Senyuman senang mengembang di wajah Arga. Buru-buru dia melepas seluruh pakaian. Setelah itu, Arga langsung melakukan penyatuan dengan Laras. Suara lenguhan mereka sahut-menyahut. Keduanya sama-sama menikmati kegiatan intim yang terjadi. Bahkan tak memperdulikan tempat lagi.
Laras dibiarkan duduk di atas wastafel. Kedua kakinya terangkat ke atas, membiarkan Arga terus menghujaminya dengan kenikmatan surga dunia. Sesekali mereka akan saling mellumat bibir satu sama lain. Arga juga tak bisa melewatkan buah dada Laras yang bergelayut manja di depan matanya.
"Dasar bayi besar!" ucap Laras, di sela-sela lenguhannya. Dia juga tak bisa menahan diri untuk tidak bergerak. Laras beberapa kali menghamburkan kecupan dan gigitan ke permukaan kulit Arga. Dari telinga, leher, bahkan pundak lelaki tersebut. Kulit Arga dibuat merah oleh lipstik merahnya.
"Hanya kau yang bisa membuatku begini, Laras!" ungkap Arga sembari terus memberikan hentakan untuk Laras. Selanjutnya, dia kembali mengerang pelan.
Nafsu Laras dan Arga benar-benar tak terkendali. Mengingat keduanya sama-sama sudah lama tidak melakukan hubungan intim. Terlebih bersama orang yang dicintai.
__ADS_1
Sementara itu, Agni masih berada di luar. Dia menikmati kue buatan Laras. Agni memakan kue tersebut sampai habis.
"Kuenya enak sekali. Arga selalu pintar memilih makanan," gumam Agni. Tanpa Arga, makanan sehari-harinya jadi monoton. Sebab Agni tidak pandai memasak dan juga tak tahu restoran enak langganan Arga dulu.
"Ayo, Ma! Ikut main yuk!" ajak Rasya.
"Nanti saja ya, Sya. Mama mau ketemu Papamu dulu. Papamu mana?" tanya Agni.
"Em..." Rasya memindai penglihatan ke sekeliling. Tetapi dia tak bisa menemukan Arga. "Sepertinya papa masuk ke rumah deh, Ma."
"Benarkah? Kalau begitu ayo kita cari dia!" ajak Agni seraya mengulurkan tangan. Rasya pun meraih tangannya. Mereka lantas berjalan memasuki rumah.
"Aku mau ke toilet dulu ya, Ma. Mama bisa duluan temui Papa," imbuh Rasya.
Agni mengangguk sambil tersenyum. Dia membiarkan Rasya berlalu pergi ke dalam kamar mandi.
Agni menghela nafas berat. Sebenarnya dia merasa sulit menemui Arga. Mengingat sebelumnya dia sudah mencaci lelaki itu secara berlebihan. Meskipun begitu, Agni akan memberanikan diri. Setidaknya dirinya bisa mengucapkan kata maaf.
Dengan langkah pelan, Agni menelusuri rumah Arga. Suara sayup-sayup erangan pria dan wanita terdengar saat dia berjalan mendekati dapur.
Dahi Agni berkerut. Meski merasakan firasat tidak enak, dia tetap melangkah maju karena penasaran.
Mata Agni membuat sempurna tatkala melihat pemandangan di dapur. Dia jelas menyaksikan Arga bercinta dengan Laras.
__ADS_1
"Mama! Apa Papa di sana?" bersamaan dengan itu, terdengar seruan Rasya. Anak tersebut tampak berlari ke arah Agni.
"Jangan!" pekik Agni.