Impoten : Ritual Bergairah

Impoten : Ritual Bergairah
Bab 27 - Agni Mulai Curiga


__ADS_3

...༻◊༺...


Arga membalas pelukan Laras. Ia perlahan mengecup pundak perempuan itu, lalu dilanjutkan ke leher hingga dada.


Laras berjengit. Kecupan Arga membuat darah disekujur badannya berdesir. Ia lagi-lagi terbuai dengan sentuhan lelaki tersebut.


"Apa ini yang dirasakan Mas Hery saat bersama wanita itu?..." lirih Laras sembari mendongakkan kepala agar Arga bisa leluasa mencumbunya.


"Entahlah. Yang jelas dia sangat rugi..." Arga berhenti bicara demi menghamburkan ciuman ke kulit Laras. Dia melanjutkan, "tidak menghargai perempuan luar bisa sepertimu..."


Cumbuan Arga bergerak turun ke bawah. Dia akan berhenti sejenak di bagian tubuh paling disukainya dari Laras. Arga memainkan lidah dan mulutnya dengan lihai. Bahkan sesekali dia akan menggigit sampai membuat Laras melenguh.


Secara alami, Laras dan Arga bercinta lagi. Kegelisahan yang dirasakan Laras seketika sirna. Ia hanya bisa merasakan gelora kenikmatan di badannya. Laras dan Arga sangat menikmati waktu kebersamaan mereka.


Puas bermesraan di kamar mandi, Arga dan Laras makan malam bersama. Keduanya makan di restoran hotel yang mereka tempati.


"Terima kasih sudah mau menemaniku," ungkap Laras seraya tersenyum tipis.


"Aku harusnya juga berterima kasih padamu. Karena hari ini aku juga merasa terpuruk," tanggap Arga yang balas tersenyum.


"Benarkah? Kenapa?" Laras penasaran.


Arga terdiam dalam sepersekian detik. Dia yakin Laras pasti akan tertawa mendengar ceritanya.


"Ayolah. Cerita saja padaku. Mungkin aku bisa memberimu solusi." Laras mendesak.


Arga lantas menceritakan masalahnya mengenai apa yang dilakukan Agni. Terutama mengenai topeng monyet yang diberikan sang istri.

__ADS_1


Tidak sesuai dugaan, Laras tidak sedikit pun tertawa. Perempuan tersebut justru merasa risih terhadap apa yang dilakukan Agni pada Arga.


"Menurutku, bercanda dengan suami adalah hal wajar. Tapi kalau sudah ke tingkat itu, rasanya keterlaluan," ucap Laras. Memberikan pendapatnya.


"Kau berpikir begitu juga kan? Syukurlah. Aku pikir diriku yang berlebihan." Arga senang Laras berada di pihaknya.


"Kau pasti merasa sangat terhina. Apa kau tahu? Aku pernah membaca sebuah artikel kalau seorang suami sering merasa direndahkan dalam beberapa kondisi tertentu, terutama ketika istrinya memiliki kuasa dan merasa paling hebat. Itulah alasan aku selalu berusaha bersikap baik untuk Mas Hery. Aku memilih tidak bekerja dan menjadi ibu rumah tangga." Laras bercerita panjang lebar.


"Hery beruntung memilikimu," komentar Arga. Dia menggenggam salah satu tangan Laras.


Malam itu, Arga dan Laras menginap di hotel bersama. Saat pagi tiba mereka pergi ke Gunung Kidul. Kebetulan Arga sudah menemukan villa untuk dibeli.


Setibanya di tempat tujuan, Arga dan Laras langsung memeriksa keadaan villa. Keduanya berjalan memisah untuk melihat ruangan yang ada.


"Pilihan yang bagus! Udara di sini juga sangat nyaman," kata Laras. Dia menghampiri Arga yang berdiri di balkon.


"Begitulah." Laras membalas tatapan Arga. Keduanya tidak kuasa untuk tidak berciuman bibir. Mereka sudah seperti pasangan yang kasmaran.


Pernyataan cinta memang tidak terucap di mulut Arga dan Laras. Tetapi semuanya terjelaskan dari bahasa tubuh mereka masing-masing.


Siang itu Arga dan Laras berhubungan intim di sofa. Kini keduanya baru saja selesai. Saling memeluk satu sama lain tanpa busana.


"Aku rasa kita sudah terlalu sering melakukannya," ungkap Laras. Dia merebahkan kepalanya ke dada bidang Arga. Tangan lentik perempuan itu mengelus pelan bagian perut Arga yang berotot.


"Kata Mbah Seno tidak apa-apa selama bukan malam ritual," sahut Arga.


"Kau benar. Oh iya, kau hari ini tidak akan membuka klinikmu?" tanya Laras.

__ADS_1


"Kan aku sudah bilang akan mengambil cuti untuk mengawasi pekerjaan rumah Mbah Seno. Nanti kita pergi melihatnya jam sembilan nanti," ujar Arga. Laras pun menanggapi dengan anggukan serta senyuman.


Di sisi lain, Agni keluar dari kamar. Dia meregangkan tubuhnya karena terlalu lama duduk dan sibuk dengan laptop.


"Mas? Mas Arga?" panggil Agni. Dia tidak tahu kalau Arga pergi. Mengingat lelaki itu pergi terburu-buru tanpa berpamitan dengannya.


"Kemarin katanya Papa lagi ada urusan penting, Ma!" kata Rasya yang keluar dari kamar dengan pakaian sekolah lengkap.


"Urusan penting?" Agni mengerutkan dahi. Dia berpikir sejenak sampai dirinya terfokus dengan kata kemarin yang disebutkan Rasya.


"Tunggu dulu. Kau bilang Papa pergi kemarin?" Agni memastikan.


"Iya. Papa terburu-buru sekali saat itu," terang Rasya. "Lagian Mama kenapa jahat banget sama Papa. Bisa-bisanya Mama kasih topeng monyet!" tukasnya mengkritik.


Agni seketika tertohok. Dia baru sadar kalau candaannya sudah keterlaluan. Arga pasti marah akan hal itu.


'Dia pasti tidur di hotel,' batin Agni. Dia jadi merasa tidak enak dengan Arga.


Agni yang merasa bersalah, berniat ingin menemui Arga. Dia menghubungi lelaki itu terlebih dahulu. Akan tetapi nomor telepon Arga tidak aktif.


Alhasil Agni pergi ke klinik Arga. Dia sengaja membeli kue kesukaan Arga dan buket bunga sebagai permintaan maaf. Namun sesampainya di klinik, Agni tidak menemukan siapapun di sana. Klinik Arga sangat sepi. Agni hanya melihat ada seorang tukang bersih yang sibuk mengepel lantai.


"Mas, kenapa kliniknya hari ini tidak buka ya?" tanya Agni.


"Katanya dokternya cuti, Mbak. Jadi akan tutup sampai tiga hari paling lama," jawab tukang bersih itu.


"Cuti?" Agni membulatkan mata. Dia tentu heran kenapa Arga mengambil cuti tanpa memberitahukan apapun kepadanya.

__ADS_1


__ADS_2