Impoten : Ritual Bergairah

Impoten : Ritual Bergairah
Bab 61 - Gangguan Agni


__ADS_3

...༻◊༺...


"Sedikit lagi aku merasakannya!" ujar Laras dengan nafas terengah-engah. Dia hampir mencapai puncak kenikmatan.


"Aku juga. Kita keluarkan bersama," bisik Arga. Peluh di rambutnya tampak menitik. Dia dan Laras segera merasakan kepuasan satu sama lain. Mereka lantas saling tersenyum dan menyatukan dahi.


"Sial! Aku masih belum puas," bisik Arga.


"Jangan!" Suara teriakan wanita terdengar.


Laras dan Arga sontak menoleh ke sumber suara. Keduanya bisa melihat Agni berdiri tidak jauh. Wanita itu terlihat beranjak saat keberadaannya diketahui.


Buru-buru Arga dan Laras mengenakan pakaian. Mereka panik sekali. Terutama Laras.


"Itu Agni bukan?" tanya Laras seraya mengenakan pakaian dengan berdesakan.


"Iya. Sepertinya itu dia," jawab Arga dengan dahi berkerut dalam. Jujur saja, dia heran kenapa Agni tiba-tiba datang.


"Ini benar-benar kacau. Sudah kubilang jangan melakukannya di sini!" kata Laras yang tampak marah. Dia sudah sepenuhnya mengenakan pakaian, begitu pun Arga.


"Aku tidak tahu kenapa dia datang. Aku bahkan tidak mengundangnya." Arga geleng-geleng kepala sambil mengusap kasar wajahnya.


"Sepertinya urusanmu dan Agni belum selesai. Harusnya kau mengatakan itu padaku dari awal!" tukas Laras. Entah kenapa dia merasa kesal.


"Aku bersumpah! Hubungan kami sudah berakhir!" tegas Arga seraya memegangi pundak Laras.


"Mungkin itu hanya bagimu," tanggap Laras. Atensinya tertuju pada bibir Arga yang belepotan dengan lipstik merahnya.

__ADS_1


"Kau tenang saja. Aku akan bicara dengannya." Arga hendak beranjak pergi, namun Laras sigap menahannya.


"Sebelum kau pergi, sebaiknya kau bercermin dan bersihkan dirimu dulu," saran Laras. Dia melepas tangan Arga dan beranjak.


Di sisi lain, Agni berhasil membawa Rasya pergi menjauh dari dapur. Sebelum anak itu menghampirinya, dia mendekat lebih dulu. Kini Agni dan Rasya kembali keluar rumah. Mereka melepas kepergian teman-teman Rasya yang ingin pulang.


Tak lama kemudian, Laras muncul. Dia ingin berpamitan pada Rasya.


"Hai, Sya. Tante sepertinya juga harus pulang," ucap Laras sambil berjongkok ke depan Rasya.


"Makasih ya, Tante. Kuenya enak banget!" tanggap Rasya.


"Baguslah kalau kau suka. Nanti kalau mau, Tante bisa buatkan lagi." Laras tersenyum tipis.


Melihat sikap lembut Laras pada Rasya, Agni memutar bola mata sambil tersenyum sinis. "Rasya, kau sebaiknya berhati-hati sama Tante ini. Dia bersikap baik padamu karena menyukai papa kita," cetusnya.


Dengan wajah polosnya, Rasya menoleh ke arah Agni. Sebagai anak kecil, dia butuh waktu lama memahami ucapan Agni.


"Aku ibu kandungnya Rasya. Aku berhak melindungi dia dari apapun," sahut Agni sambil menyilangkan tangan ke depan dada. Dia mendengus kasar dan mendekatkan mulut ke telinga Laras. "Kau itu hanya pelarian bagi Arga," bisiknya, lalu mengembangkan senyuman tak bersalah.


Mata Laras bergetar. Dia hanya bisa mengepalkan tinju di kedua tangan. Melirik tajam pada Agni. Wanita itu sepertinya sengaja membuat Laras kesal karena apa yang dilihatnya tadi di dapur. Bisa dibilang Agni merasa cemburu. Ia tak mau kedatangannya ke Paris sia-sia.


Laras ingin sekali melawan Agni. Tetapi dia tidak bisa karena melihat Rasya yang masih memperhatikan.


"Rasya!" Kedatangan Arga mengakhiri suasana tegang di antara Agni dan Laras. Agni pun bergegas menjauhkan diri dari Laras.


"Papa! Kau kemana saja? Lihat siapa yang datang!" seru Rasya. Dia menunjuk ke arah Agni dengan wajah ceria.

__ADS_1


"Hai, Sayang!" Agni mendekat dan mencoba memeluk Arga. Tetapi Arga sigap menghentikan. Mengingat di sana masih ada Laras.


"Apa yang kau lakukan? Kau harus memelukku demi Rasya," bisik Agni.


Arga pun menoleh ke arah Rasya. Anak itu memang sedang melihat ke arahnya dan Agni.


Melihat Arga yang tampak berpikir, Agni berusaha kembali memeluk. Sayangnya Arga tetap menolak. Lelaki itu malah langsung berjongkok di hadapan Rasya.


"Kau pasti senang sekali hari ini," kata Arga. Rasya lantas mengangguk setuju.


Tanpa diduga, Agni ikut berjongkok ke hadapan Rasya. Pemandangan itu, membuat Laras tidak nyaman.


Alhasil Laras memilih pergi saja. Dia sudah enggan berpamitan.


Arga menyadari kepergian Laras. Ia ingin mengejar perempuan itu.


"Sya, kau sama Mama dulu ya!" ujar Arga sembari bergegas mengejar Laras.


Agni tak bisa berkata apa-apa. Dia hanya cemberut sambil menatap Laras dengan penuh kebencian.


"Ayo, Rasya. Kita masuk ke rumah. Ada yang Mama ingin bicarakan padamu," ajak Agni. Dia menyempatkan diri melihat Arga dan Laras. Keduanya terlihat berbicara serius.


Arga menghentikan kepergian Laras. Dia berdiri saling berhadapan dengan perempuan tersebut.


"Kau tidak marah kan?" tanya Arga.


"Entahlah. Tapi kedatangan Agni membuatku ragu padamu," ungkap Laras.

__ADS_1


"Apapun yang dikatakan Agni tidak benar. Dia tidak tahu apapun tentangku! Dan yang paling utama, perasaanku padanya sudah hilang. Perempuan yang sekarang kucintai hanyalah kau!" ucap Arga penuh penekanan.


"Buktikan padaku," sahut Laras. Setelah berucap begitu, dia pergi dengan mobilnya.


__ADS_2