
...༻◊༺...
Karena sudah mendengar pemberitahuan Laras, Satpam pun mendatangi Hery. Dia menyeret lelaki itu keluar dari apartemen.
"Apa-apaan ini, Pak! Kenapa saya di usir?!" protes Hery sembari berusaha lepas dari cengkraman Satpam.
"Kau sudah mengganggu ketenangan di sini! Itu tidak bisa ditoleransi!" ujar sang Satpam. "Kalau kau berani melawan, maka aku akan bawa kau ke kantor polisi," ancamnya.
Hery tak bisa berkutik. Dia akan memikirkan cara lain untuk menemui Laras.
Saat Hery baru saja pergi meninggalkan apartemen, Arga datang dengan mobilnya. Ia segera mendatangi Laras.
Kali ini Laras langsung membukakan pintu. Dia dan Arga saling berpelukan. Keduanya merasa lebih baik dengan pelukan tersebut. Setelah itu mereka duduk untuk membicarakan masalah yang terjadi.
Arga menceritakan Laras mengenai keterkaitan Senopati terhadap kedatangan Agni dan Hery. Hal tersebut tentu membuat Laras sedikit kaget.
"Aku tidak menyangka Mbah Seno masih berusaha mengejar kita," komentar Laras.
"Aku juga tidak menyangka dia sampai melakukan itu untuk mengambil anak kita," tanggap Arga.
"Sekarang apa yang harus kita lakukan? Aku ingin melindungi Adella sebisa mungkin," ujar Laras bertekad.
Arga terdiam. Dia terpikirkan dua solusi untuk bisa lepas dari kejaran Senopati.
"Aku punya dua jalan keluar untuk mengatasi masalah ini. Pertama, kita pindah ke negara lain yang lebih aman. Tapi kali ini kita harus merahasiakan tempat tinggalnya serapat mungkin, agar Hery dan Agni tidak bisa mengejar lagi," ucap Arga panjang lebar.
__ADS_1
"Lalu jalan keluar kedua?" tanya Laras.
"Yang kedua mungkin agak ekstrem. Kita harus melakukan sesuatu pada Mbah Seno. Jika dia tidak bisa berbuat apapun, maka kita akan aman."
"Apa kau membicarakan rencana untuk membunuh Mbah Seno?" Pupil mata Laras membesar.
"Sudah kubilang itu solusi beresiko. Tapi sebenarnya kita tidak harus membunuh. Kita hanya harus melakukan sesuatu pada Mbah Seno agar dia tidak macam-macam lagi." Arga terlihat serius. Dia menambahkan, "ingatlah kalau Mbah Seno tak peduli dengan nyawa orang lain. Satu nyawa untuk dijadikan tumbal bahkan tidak cukup baginya."
"Tidak, Ga. Jangan melakukan hal segila itu. Aku rasa solusi pertama lebih baik. Lagi pula, umur manusia itu tidak ada yang kekal. Cepat atau lambat, Mbah Seno pasti akan mendapat karma." Laras menggenggam tangan Arga. Dia merasa lelaki itu terlalu terbawa perasaan hingga terpikirkan solusi yang terbilang gila. Tentu membunuh seseorang bukanlah sesuatu yang wajar.
"Tapi jujur saja... Aku tidak mau terus melarikan diri. Aku ingin kita hidup tenang tanpa harus mengkhawatirkan keselamatan anak," ungkap Arga seraya menundukkan kepala.
Laras segera memeluk Arga. Dia mengelus pundak lelaki tersebut dengan lembut. Laras tidak hanya mencoba menenangkan Arga, tetapi juga menenangkan dirinya sendiri.
Arga membalas pelukan Laras. Dia merasa lebih tenang dengan pelukan itu, ditambah penenangan Laras yang begitu tulus dan lembut.
"Kau sangat baik, Laras... Ayo kita menikah dan lari dari sini secepatnya," sahut Arga yang langsung direspon Laras dengan anggukan.
Hari itu, Arga tidur di apartemen Laras. Keduanya terlelap saling memeluk satu sama lain.
Di waktu yang sama, Hery baru saja tiba di sebuah hotel. Dia telentang ke ranjang sambil mencoba menghubungi Agni. Itu adalah panggilan kelima yang dilakukannya pada perempuan tersebut.
Setelah berulang kali menelepon, akhirnya Agni mengangkat panggilan. Hery dan Agni pun saling memberitahu ditelepon. Selain itu, keduanya juga menyadari fakta kalau mereka berada di hotel yang sama. Hery yang ingin bicara lebih dalam, lantas mendatangi kamar Agni.
Kini Hery sudah berada di kamar Agni. Kebetulan Rasya sudah tertidur karena kelelahan.
__ADS_1
"Jadi Arga mengakui kalau dia menumbalkan anak kedua kalian?" tanya Hery memastikan. Dia dan Agni bicara sambil menikmati wine dengan kadar alkohol tinggi.
"Iya! Itu jelas benar! Makanya aku membawa Rasya bersamaku," sahut Agni. Dia menghabiskan satu gelas wine sekaligus.
"Arga dan Laras adalah pembunuh! Andai kita punya bukti, mereka bisa dimasukkan ke penjara!" ucap Hery dengan penuh kekesalan.
"Tapi aku bingung sekarang. Apakah aku harus mempercayaimu atau Arga?" ungkap Agni sambil memegangi dagu.
"Untuk apa kau mempercayai mantan suamimu yang bejat itu. Dia sudah berselingkuh, lalu membuatmu menderita dengan terjadinya pendarahan yang kau alami. Aku rasa itu hanya akal-akalan Arga agar Rasya tidak kau pisahkan darinya," tanggap Hery yang merasa benar sendiri.
"Menurutmu begitu?" Agni meragu.
"Iya. Lihatlah yang juga dilakukan Laras padaku. Dia berusaha menjauhkanku dari anakku sendiri!"
Hening menyelimuti suasana. Hery dan Agni mengisinya dengan terus meminum wine.
"Oh iya, katanya Arga memiliki gangguan untuk disembuhkan. Gangguan apa itu? Sampai dia tega menumbalkan darah dagingnya sendiri," tukas Hery.
"Dia mengalami impoten setelah mengalami kecelakaan mobil." Agni tak perlu berpikir lama untuk menjawab.
"Apa? Impoten? Hahaha!" Hery tertawa mendengarnya.
"Kau tidak seharusnya tertawa. Karena kemarin aku memergokinya bercinta dengan mantan istrimu!" ujar Agni.
Hery sontak terdiam. Meski sudah bercerai, anehnya dia merasa cemburu mendengar kenyataan tersebut.
__ADS_1