Impoten : Ritual Bergairah

Impoten : Ritual Bergairah
Bab 36 - Kepiluan Laras


__ADS_3

...༻◊༺...


Pupil mata Arga membesar. Dia tidak menduga Agni akan mendadak menanyakan perihal kesembuhan impotennya.


"A-aku melakukan terapi dan meminum obat yang dianjurkan temanku." Arga menjelaskan dengan tergagap.


"Benarkah? Kenapa kau tidak pernah cerita?" tanggap Agni.


"Kau tidak pernah bertanya. Lagi pula, yang terpenting aku sudah sembuh sekarang."


"Obat apa yang kau minum? Di rumah aku tidak pernah melihatmu minum obat?" Agni menyelidik.


"Apa kau tidak percaya dengan suamimu sendiri?" Arga berucap begitu agar Agni berhenti membahas perihal kesembuhannya.


"Maaf, Mas. Aku tak bermaksud begitu. Ya sudah, lupakan saja." Agni memilih mengalah. "Sebaiknya kita habiskan makanannya."


Arga lantas tersenyum tipis. Dia mendengus lega saat melihat Agni tidak bersikeras seperti biasa. Perempuan itu sepertinya benar-benar ingin berubah.


Di sisi lain, Laras masih berada di rumah orang tuanya. Kini Dani dan Wina sudah mengetahui apa yang sudah dilakukan Hery terhadap Laras. Mereka mendukung keputusan Laras untuk cerai.


Sekarang Laras duduk termenung di halaman belakang rumah. Di sana terdapat sebuah ayunan besi yang telah ada semenjak Laras masih kecil.


Dedaunan kering berguguran. Angin sore berhembus menemani Laras.


Dari belakang, Wina mendekat. Dia menghampiri dan duduk ke sebelah Laras.


"Apapun yang terjadi, Ibu akan selalu di sisimu," tutur Wina sembari menggenggam tangan Laras.


"Maafkan aku, Bu..." lirih Laras. Matanya jadi berkaca-kaca. Dia merasa menjadi anak yang gagal karena tidak bisa menjaga rumah tangganya sendiri.

__ADS_1


"Tidak ada yang perlu disesalkan. Semuanya sudah terjadi. Sudahlah, jangan menangis terus. Kasihan bayimu. Kau sebaiknya fokus dengan kesehatanmu agar bisa melahirkan anak yang sehat." Wina mengelus pelan pundak Laras. Usahanya berhasil membuat putrinya merasa lebih tenang.


"Terima kasih, Bu... Aku tidak tahu harus bagaimana kalau kau dan Bapak tidak ada," ungkap Laras.


"Rangga akan membantumu mengurus masalah perceraian ke pengadilan. Kau fokus beristirahat saja di sini," saran Wina. Rangga sendiri adalah kakaknya Laras.


Laras mengangguk mengerti. Tanpa sepengetahuannya, Hery datang. Lelaki itu diajak bicara oleh Dani terlebih dahulu.


Hery sebenarnya sudah datang beberapa kali. Dia ingin membicarakan semuanya sekali lagi dengan Laras. Namun Laras sudah tak mau bicara dengannya. Hal itu juga mendapat dukungan dari Dani dan Wina.


"Berani sekali kau datang ke sini!" timpal Dani.


"Aku ingin menemui Laras, Pak. Kumohon biarkan aku bicara dengannya lagi. Izinkan aku memperbaiki rumah tangga kami," ujar Hery.


"Memperbaiki? Dengan cara apa?! Membiarkan anakku dimadu? Kau memang sinting!" balas Dani. Dia tiba-tiba terbatuk. Dirinya mengalami batuk yang cukup parah.


"Uhuk! Uhuk!"


"Kau baik-baik saja?" tanya Hery. Tangannya memegangi pundak Dani.


"Lepaskan!" hardik Dani. Dia menjauhkan tangan Hery dari tubuhnya.


"Aku harusnya menemani Laras menjengukmu akhir-akhir ini. Kau tidak sakit parah kan?" tanya Hery.


Kening Dani mengernyit. "Enak saja! Aku tidak sakit! Apa kau menyumpahiku sekarang?!" geramnya.


Kelopak mata Hery melebar. Dia otomatis bingung. Mengingat Laras beberapa kali minta izin pergi menjenguk orang tuanya.


"Sebelumnya Laras sering ke sini untuk menjengukmu? Katanya kau sakit. Apakah itu berarti Laras berbohong?" jelas Hery. Dia sekarang sadar bahwa selama ini Laras berbohong. Hery jadi penasaran kemana sang istri pergi.

__ADS_1


"Jangan bicara sembarangan! Kau sebaiknya pikirkan kesalahanmu sendiri! Pergilah!" usir Dani yang tak peduli.


Hery kali ini tidak bersikeras. Dia berjalan menuju mobil sambil berpikir. Benaknya bertanya-tanya mengenai kepergian Laras sebelum-sebelumnya.


"Dia beberapa kali minta izin pergi ke rumah orang tuanya. Apa yang kau lakukan Laras?" gumam Hery.


Bersamaan dengan itu, Laras baru masuk ke kamar. Dia membuka ponsel dan menemukan notifikasi.


Laras tersenyum saat mengetahui bulan purnama akan terjadi sebentar lagi. Itu mengartikan dia akan bertemu dengan Arga. Anehnya hal tersebut membuat Laras bersemangat.


Buru-buru Laras menghubungi Arga. Dia sebenarnya merindukan lelaki tersebut.


"Arga! Aku--"


"Maaf, kau menelepon di waktu yang salah. Aku sedang bersama anak dan istriku sekarang!" Arga menjawab dari seberang telepon.


Setelah bicara begitu, terdengar suara Agni dan Rasya. Laras terdiam mendengarkan interaksi mereka.


"Lihat itu Papa!"


"Papa! Aku dan Mama membelikanmu ini!"


"Hahaha! Apa-apaan ini? Kalian membelikanku boneka dokter?" Arga menanggapi.


"Kata Mama itu sangat cocok denganmu!" seru Rasya.


Laras bergegas mematikan panggilan telepon. Dari sana dia bisa mendengar betapa harmonisnya keluarga Arga. Harapan Laras terhadap pertemuannya dengan Arga menjadi pilu. Ia tak seharusnya bahagia saat memikirkan suami orang.


"Apa yang kupikirkan!" Laras menekan dahinya. Dia kemudian menatap perutnya yang mulai membesar.

__ADS_1


"Mulai sekarang, aku hanya ingin memperjuangkanmu, Nak!" imbuh Laras. Dia merasa emosional dengan anak yang di kandungnya. Laras bertekad akan menjaga anak itu sebaik mungkin. Bahkan tanpa sosok ayah sekali pun.


__ADS_2