Impoten : Ritual Bergairah

Impoten : Ritual Bergairah
Bab 41 - Pengakuan Laras


__ADS_3

...༻◊༺...


Laras berusaha tenang sebisa mungkin. Melangkah pelan hingga bisa duduk ke kursi yang ada di depan Agni.


"Agni... Apa kau bekerja sebagai jaksa juga?" tanya Laras. Mengingat Agni mengaku sebagai jaksa saat meneleponnya.


"Maaf. Aku berbohong padamu soal itu," jawab Agni.


Kening Laras mengernyit. Dia tentu heran kenapa Agni bisa sampai berbohong hanya karena ingin bertemu dengannya.


"Kau tidak harus berbohong untuk bertemu denganku," ungkap Laras.


"Maaf sekali lagi. Aku melakukannya karena ingin membicarakan tentang sesuatu yang agak sensitif," sahut Agni.


"Apa?" Laras menuntut jawaban.


"Ini mengenai kau dan Arga. Hery bercerita kalau kau memilih Arga untuk menjadi dokter kandunganmu," jelas Agni.


Deg!


Jantung Laras berdegup kencang. Ia takut Agni mencurigai hubungannya dan Arga. Untuk sekarang Laras tetap diam. Membiarkan Agni terus bicara.


"Beberapa hari yang lalu Arga pergi meninggalkan rumah tanpa kabar. Aku cemas dan mencarinya ke klinik. Aku tidak menemukan Arga di sana saat itu. Tapi aku menemukan ini." Agni mengeluarkan ponsel. Memperlihatkan rekaman kamera pengawas ketika Arga bertemu dengan Laras di klinik.

__ADS_1


Pupil mata Laras membesar. Dia semakin cemas tatkala melihat dirinya dan Arga berpelukan dalam video tersebut.


"I-ini bukan apa-apa. Aku saat itu sedang sedih." Laras memberikan alasan dengan terbata.


"Aku tidak ingin tahu alasan kalian berpelukan. Tapi kemana kalian pergi saat itu!" tukas Agni. Dia memasang raut wajah serius.


Laras terdiam sejenak. Dia sebenarnya takut kedoknya dan Arga akan ketahuan. Meskipun begitu, Laras berniat ingin menyembunyikan semuanya sampai akhir. Terlebih dia dan Arga sudah berjanji pada Senopati untuk merahasiakan tentang ritual mereka.


"Aku akan menceritakan semuanya secara lengkap!" imbuh Laras. Dia segera bercerita kalau hari itu adalah hari di saat dirinya mengetahui perselingkuhan Hery.


Laras pergi ke klinik Arga karena mobilnya mogok. Dia berbohong kalau Arga pergi bersamanya dengan tujuan mengantar pulang ke rumah orang tua Laras.


"Benarkah? Tapi kata satpam yang berjaga, kau meninggalkan mobil di klinik dua kali," selidik Agni. Seperti yang Arga bilang, dia memiliki deduksi hebat. Apalagi jika dirinya sudah sangat yakin dengan temuannya.


Agni tergelak. Dia tidak bisa berbuat apapun kalau Laras tak mengaku.


"Apa kau mengira aku berselingkuh dengan Arga?" tebak Laras.


"Pelukan dan kepergian kalian di waktu yang sama itu adalah bukti nyata! Aku semakin curiga saat kau sekarang sedang mengurus perceraianmu dengan Hery!" Agni menepuk meja satu kali. Cerita Laras yang berbelit-belit, membuatnya geram.


Dalam sekejap, Agni dan Laras menjadi pusat perhatian orang di restoran. Akan tetapi keduanya tak peduli.


"Jadi maksudmu aku menceraikan Hery karena Arga?! Berpikirlah dahulu sebelum mengetahui masalah orang!" Laras tersungut. Mengingat Agni menyindir perihal rumah tangganya dengan Hery.

__ADS_1


"Aku pastikan akan menemukan bukti yang membuatmu tak bisa berkutik!" timpal Agni bertekad.


"Terserah kau mau percaya atau tidak. Aku sudah menjelaskan semuanya." Laras berdiri sambil menunjukkan ekspresi senormal mungkin. Kemudian beranjak meninggalkan restoran lebih dulu.


Saat sudah di mobil, barulah Laras menutup wajahnya dengan dua tangan. Dia melampiaskan semuanya dengan tangisan.


Laras merasa bersalah pada Arga. Itu juga salah satu alasan kenapa dia berusaha merahasiakan semuanya dari Agni.


"Aku harus memberitahu Arga. Aku tidak mau rumah tangganya berantakan karena aku," gumam Laras sembari menghentikan tangis. Dia terpikir untuk menghubungi Arga. Laras menelepon lelaki itu berulang kali. Namun tidak satu pun mendapat jawaban.


Arga sendiri sedang menemui Hery. Mereka memilih taman sebagai tempat bertemu. Mengingat Rasya ikut bersama Arga. Anak itu dibiarkan bermain sendiri di taman khusus anak-anak. Terdapat perosotan, ayunan, dan lainnya di sana.


"Apa yang ingin kau tanyakan?" cetus Arga. Dia tampak cemberut karena malas melihat wajah Hery yang sudah menyakiti hati Laras.


"Sepertinya kau dekat dengan istriku," sahut Hery seraya tersenyum. Dia memperlihatkan rekaman kamera pengawas yang diberikan Agni pada Arga.


Mata Arga membulat. Ia menduga kalau Agni lah yang sudah memberikan video itu pada Hery. Arga sangat ingat Agni pernah mendatangi klinik untuk mencarinya. "Apa kau mendapat video ini dari Agni?" tanyanya.


"Iya. Aku ingin memastikan hubunganmu dengan Laras. Dari pelukan itu, kalian sepertinya memiliki hubungan lebih dari sekedar dokter dan pasien," terang Hery. Mengangkat salah satu alisnya.


Arga diam dalam beberapa saat. Dia memikirkan jawaban terbaik untuk menjawab pertanyaan Hery.


"Kalau kalian memang memiliki hubungan spesial, maka aku bisa meragukan anak dalam kandungan Laras bukan anakku," sambung Hery.

__ADS_1


Arga mendelik ke arah Hery. "Apa kau ingin mencari tahunya agar bisa menghindari nafkah anak yang harus kau berikan setelah bercerai?!" timpalnya.


__ADS_2