Impoten : Ritual Bergairah

Impoten : Ritual Bergairah
Bab 29 - Penyelidikan Agni


__ADS_3

...༻◊༺...


Agni berjalan mondar-mandir di kamar. Sejak pagi dia terus menghubungi Arga. Namun tidak ada satu pun panggilan yang terjawab. Agni merasa cemas ketika mengetahui Arga tidak kunjung ada kabar sejak kepergiannya. Ia bahkan sampai libur dari pekerjaan karena terganggu dengan kepergian sang suami.


"Dia kemana? Apa dia sengaja menghilang untuk membuatku cemas? Aarggh!!" gumam Agni. Dia menggeram karena merasa gelisah sekaligus kesal.


Agni merasa khawatir karena Arga tidak pernah seperti ini sebelumnya. Lelaki itu selalu memberitahu akan pergi kemana.


"Mungkin dia ada di rumah Ibu!" duga Agni. "Ah! Kenapa aku tidak kepikiran dari kemarin," tambahnya seraya memukul jidat sendiri.


Agni lantas buru-buru menemui mertuanya. Dia juga membawa Rasya ikut bersamanya. Tetapi sayang, saat tiba di rumah Sari, Arga tidak ada di sana.


"Mungkin Arga sedang ada urusan pekerjaan. Dia pasti punya alasan untuk memilih cuti dari pekerjaan," kata Sari. Berusaha menenangkan menantunya.


"Maafkan aku, Bu. Ini salahku. Aku sudah keterlaluan sama Arga." Agni bicara sambil menundukkan kepala.


"Arga pasti pulang. Kalian bisa membicarakan masalahnya pada saat itu," tutur Sari. Dia duduk ke sebelah Agni. Mengelus pelan punggung perempuan itu.


"Bagaimana kalau Arga tidak kembali? Aku takut sesuatu hal buruk terjadi kepadanya." Mata Agni berkaca-kaca. Terlihat jelas sekali kalau dirinya mencemaskan Arga.


"Kalau dia belum pulang juga besok, kasih kabar ke Ibu." Sari mengusulkan.


Agni lantas menganggukkan kepala. Dia berniat akan mencari keberadaan Arga ke tempat lain.

__ADS_1


Kini Agni dan Rasya dalam perjalanan pulang. Ponsel Agni mendadak berdering. Dia mendapat telepon dari Hery. Tanpa pikir panjang, Agni langsung mengangkat panggilan tersebut.


"Halo? Maaf sebelumnya, Her. Aku tidak bekerja hari ini. Jadi kita undur saja pertemuannya," ujar Laras


"Pas sekali. Kebetulan aku juga ingin membatalkan pertemuan hari ini," tanggap Hery dari seberang telepon.


"Benarkah? Baguslah kalau begitu. Aku akan segera mengabarimu nanti." Pembicaraan Hery dan Agni berakhir disitu. Keduanya tidak tahu kalau mereka menghadapi masalah yang sama.


"Papa mana sih, Ma? Aku kangen pengen main bareng sama Papa," ucap Rasya dengan mulut memanyun.


"Papa sedang ada pekerjaan penting. Sabar ya. Sebentar lagi Papa pasti akan pulang." Agni membelai kepala Rasya. Dia mendengus kasar.


"Apa Mama nggak mau gantiin Papa untuk main sama aku?" tanya Rasya.


"Mama selalu saja begitu. Makanya aku lebih suka main sama Papa!" keluh Rasya.


Agni memang lebih sibuk dibanding Arga. Mengingat keahliannya sebagai pengacara sudah dikenal banyak orang. Banyaknya kasus yang harus di urus, membuat Agni kesulitan meluangkan waktu bersama Rasya dan Arga. Terlebih gangguan impoten yang dimiliki Arga dalam beberapa tahun, membuatnya jadi terbiasa.


"Ya sudah. Nanti Mama main sama kamu ya." Agni segera angkat suara. Sekarang dia merasa dirinya dikritik lagi dengan pengakuan sang putra. Agni sadar bagaimana perjuangan Arga mempertahankan rumah tangga. Dulu lelaki itu juga terus bersabar meski dia marah-marah karena kelelahan dan tidak mendapatkan kepuasan fisik.


'Aku jadi berpikir, apa yang dilakukan Mas Arga sampai bisa sembuh dari impoten? Dia pasti melakukan itu demi diriku. Maafkan aku, Mas..." Perlahan air mata Agni berjatuhan. Dia menyesal karena tidak memperlakukan suaminya dengan baik.


Setibanya di rumah, Rasya langsung berlari masuk ke rumah. Dia tidak menghiraukan meski Agni memanggil.

__ADS_1


Bertepatan dengan itu, sebuah pesan diterima Agni. Matanya terbelalak saat membaca pesan tersebut.


'Apa malam ini kau mau memesan lagi? Aku punya yang bagus kali ini.' Begitulah pesan yang diterima Agni. Dia bergegas menghapus pesan itu.


"Tidak! Aku tidak akan melakukannya lagi!" Agni bertekad sambil memblokir nomor sang pengirim pesan.


Orang yang mengirim pesan tidak lain adalah seorang mucikari kenalan Agni. Sebenarnya selama Arga impoten, Agni memuaskan hasratnya dengan membayar berondong. Jujur saja, dia pernah tidur dengan lelaki yang berbeda-beda. Kini Agni merasa jijik dengan dirinya sendiri.


Agni memecahkan tangis. Dia benar-benar menyesal. Dirinya berjanji akan memperbaiki semuanya saat Arga kembali.


Untuk sekarang, Agni akan fokus mencari tahu kemana Arga pergi. Sampai dirinya terpikirkan perihal kamera pengawas. Sebagai orang yang bekerja di bidang hukum, tentu bukan hal biasa bagi Agni untuk melakukan penyelidikan. Bahkan terhadap masalah kecil sekali pun.


Agni memutuskan kembali mendatangi klinik Arga. Di sana dia mendatangi pihak keamanan untuk memeriksa kamera pengawas.


Agni memeriksa rekaman di tanggal Arga pergi dari rumah. Kebetulan saat itu adalah hari minggu, jadi klinik tutup.


Pupil mata Agni membesar ketika melihat ada seorang perempuan yang datang dan duduk di ruang tunggu. Perempuan itu tampak basah kuyup sambil tak berhenti menangis.


"Dia siapa? Kenapa aku merasa tidak asing?" gumam Agni. Meski pernah bertemu Laras, namun dia tidak begitu dekat dengan perempuan itu. Terlebih Laras terlihat menunduk terus dalam rekaman. Rekaman kamera pengawas yang hitam putih, tak mampu memperihatkan wajahnya dengan jelas.


...____...


Catatan Author :

__ADS_1


Semua karakter di novel ini gelap semua ya guys 😅. Semoga kita semua dijauhkan dari sikap dan pasangan yang begitu... Amin...


__ADS_2