
...༻◊༺...
"Sialan! Jadi tumbal yang dia berikan bisa membuatnya sembuh," ujar Hery dengan semburat wajah memberengut.
"Bagaimana panasnya Arga dan Laras bercinta terus membayangiku," ungkap Agni sembari memegangi kepala. Dia merasa sudah dikuasai oleh alkohol.
"Mereka pantas menderita. Bantu aku merebut anakku dari Laras!" kata Hery. Dia menghabiskan segelas wine lagi. Mendengar Laras bercinta dengan Arga, membuatnya semakin bertekad.
Kesunyian kembali terjadi. Agni menatap Hery. Dia melihat lelaki tersebut terus meminum wine. Agni tiba-tiba terpaku memperhatikan Hery. Bersamaan dengan itu, dirinya membayangkan kembali Arga saat bercinta. Agni jadi menggigit bibir bawahnya sendiri. Tubuh bugar Hery yang nyaris seukuran dengan Arga, membuatnya tergoda.
"Tubuhmu atletis juga," komentar Agni seraya berdiri untuk menghampiri Hery. Kini dia berdiri di hadapan lelaki itu.
Hery yang duduk, mendongak menatap Agni. "Kenapa kau tiba-tiba bertanya begitu?" tanyanya dalam keadaan mata memerah karena mabuk.
Agni terkekeh sejenak. Dia kemudian berkata, "Hanya tertarik saja. Sepertinya kau memakai baju beberapa lapis. Coba buktikan padaku!"
"Beraninya kau meremehkan seorang Hery! Aku akan tunjukkan!" Tanpa pikir panjang, Hery menanggalkan baju atasannya. Sekarang dia hanya bertelanjang dada. Benar saja, tubuhnya memang atletis.
"Kau puas?" ujar Hery sambil tersenyum miring. Dia mendongak menatap Agni yang masih berdiri.
__ADS_1
Pembicaraan Hery dan Agni berubah begitu saja. Karena mabuk, mereka jadi meracau tidak jelas.
Tanpa diduga, Agni duduk ke pangkuan Hery. Dia mellumat bibir lelaki itu tanpa permisi.
"Eumph!" Hery tentu tak menolak. Lelaki hidung belang sepertinya tentu akan mudah tergoda. Sama halnya dengan Agni, yang bisa dibilang sugar mommy untuk para gigolo. Terlebih perempuan tersebut sudah lama tidak menyalurkan hasratnya.
Agni dan Hery saling mencumbu satu sama lain dengan menggebu-gebu. Dalam hitungan detik, nafas mereka sudah memburu.
Hery yang paham dengan keinginan Agni, perlahan melepas baju perempuan itu. Sampai hanya menyisakan bra yang dikenakannya.
Hery ciumi leher Agni dengan penuh nafsu. Beberapa ciumannya bahkan meninggalkan jejak merah.
"Akh... Yes, fucck me..." lenguh Agni yang mulai merasakan hasratnya menggila.
Di waktu yang sama, Rasya terbangun dari tidur. Dia mengerutkan dahi saat tidak melihat Agni di sampingnya. Alhasil Rasya mengedarkan pandangan ke sekitar.
Mata Rasya langsung terbelalak ketika melihat apa yang dilakukan ibunya di sofa. Sungguh, anak kecil seperti Rasya bingung harus bagaimana saat melihat pemandangan dewasa begitu. Ia pun terpikir merebahkan diri kembali ke ranjang untuk berpura-pura tidur.
Rasya merasa takut sekaligus gelisah. Dia juga penasaran dengan lelaki yang sekarang bersama Agni. Rasya tidak bisa melihat dengan jelas lelaki itu karena tubuh Agni yang menutupi. Mengingat posisi Agni yang duduk di pangkuan Hery.
__ADS_1
'Apa itu Papa?' benak Rasya bertanya-tanya. Karena terlalu penasaran, dia memaksakan diri mengintip. Mungkin Rasya akan merasa baik-baik saja kalau lelaki yang sekarang bersama Agni adalah ayahnya.
Setelah melihat sebentar, Rasya sadar kalau lelaki yang bersama Agni bukan Arga. Semakin kaget pula dia. Rasya sigap menutup tubuhnya dengan selimut. Ia menangis dalam diam.
Rasya semakin tertekan saat mendengar suara lenguhan Agni dan Hery. Dia pun menutup telinganya rapat-rapat.
Tanpa mengetahui Rasya terbangun, Agni dan Hery justru asyik bersenggama. Tubuh mereka bahkan tidak lagi tertutupi sehelai benang pun.
"Kita tidak seharusnya melakukan ini! Akh!" erang Hery. Meski mengeluh begitu, dia masih terus memberikan hentakan ke dalam rahim Agni.
"Sekali-kali tidak apa-apa. Lebih cepat lagi, Her! Apa begini saja kemampuanmu?" sahut Agni sambil mencengkeram kuat punggung Hery. Siap dengan hujaman lebih cepat dari lelaki tersebut. Karena sering mendapat kenikmatan dari pemuda, dia terbiasa mendapatkan tenaga darah muda yang membara.
"Sial! Sial!" Hery merutuk seraya menggerakkan pinggulnya lebih cepat. Dia dan Agni lantas melenguh sejadi-jadinya.
Setelah saling terpuaskan satu sama lain, Hery dan Agni tumbang. Keduanya kelelahan dan tak sengaja tertidur.
Mendengar suasana sudah hening, Rasya membuka selimut. Dia buru-buru turun dari ranjang. Hal yang paling di inginkan Rasya sekarang adalah pergi dari Agni sejauh mungkin.
Tanpa sepengetahuan siapapun, Rasya keluar dari kamar. Dia berlari memasuki lift. Anak tersebut beranjak meninggalkan hotel. Ia bahkan masih berlari saat melewati jalanan trotoar.
__ADS_1
Karena ceroboh, Rasya jatuh terjerembab di tanah. Saat itulah dia kembali menangis. Ia terduduk di tanah sambil menutupi matanya dengan punggung tangan. Sungguh, Rasya sangat sakit hati pada ayah dan ibunya. Dia tidak mengerti kenapa kedua orang tuanya berpisah dan memilih bersama orang lain. Ya, anak kecil seperti Rasya memang akan sulit mengerti semua itu.