Impoten : Ritual Bergairah

Impoten : Ritual Bergairah
Bab 68 - Menyusul Rasya


__ADS_3

...༻◊༺...


Rasya menghapus air mata yang bercucuran di wajah Agni. Dia jadi ikut menangis karena sang ibu.


"Berhentilah menangis, Ma..." pinta Rasya.


Agni menghentikan tangis. Dia segera mengembangkan senyuman untuk putranya.


"Sya, Papa sudah melakukan hal buruk pada kita. Dia tidak mencintai Mama lagi. Papamu sekarang lebih mencintai Tante Laras," ungkap Agni. Ia sengaja menyangkut pautkan Laras agar bisa mengambil hati Rasya. Dengan begitu anak tersebut akan lebih menyukainya dari pada Arga. Nilai plus lainnya lagi, Rasya pasti akan membenci Laras.


"Apa sekarang Papa bersama Tante Laras?" tanya Rasya dengan raut wajah kecewa.


Agni mengangguk. "Mama sudah mencoba mengajaknya, tapi dia lebih memilih Tante Laras," ujarnya.


Rasya menangis histeris. Dia tak menyangka ayahnya akan berbuat begitu.


"Sudahlah, Sya. Ada Mama bersamamu. Aku tidak akan meniggalkanmu." Agni memeluk Rasya. Setelah itu, mereka berangkat ke bandara.


Selang dua puluh menit berlalu, Arga tiba di rumah. Dia merasa bahagia karena hubungannya dan Laras membaik. Sekarang yang harus dilakukan Arga adalah membujuk Rasya agar bisa dekat dengan Laras.


Arga melangkah tenang memasuki rumahnya. Dia langsung memanggil Rasya. Namun tidak ada jawaban sama sekali dari anak tersebut. Agni juga tidak terlihat ada di rumah.


Firasat buruk seketika menyelimuti perasaan Arga. Dia berpikir Agni pasti membawa Rasya pergi. Tanpa pikir panjang, Arga bergegas memeriksa kamar Rasya.


Benar saja, Rasya tidak ada di kamar. Arga juga bisa melihat lemari Rasya yang terbuka lebar. Di sana hanya tersisa beberapa lembar baju Rasya.


"Rasya!" panggil Arga. Dia segera pergi dari rumah. Arga juga tak lupa untuk menghubungi Agni. Tetapi perempuan itu tak mengangkat panggilannya.

__ADS_1


Karena Agni tak kunjung merespon, Arga pun menelepon Laras. Dia memberitahukan kepergian Rasya pada perempuan tersebut.


"Aku pikir Agni membawa Rasya kembali ke Indonesia. Mereka mungkin di bandara sekarang. Aku akan ke sana untuk berjaga-jaga. Kau bisa membantuku kan?" ujar Arga.


"Aku akan bersiap. Kau duluan saja. Aku akan pergi dengan temanku," sahut Laras dari seberang telepon.


Arga segera pergi ke bandara. Dia takut Agni membawa Rasya kembali ke Indonesia. Jika itu terjadi, maka nyawa Rasya dalam bahaya.


Arga merasa sangat cemas, sehingga dia harus melajukan mobil dalam kecepatan tinggi. Berharap dirinya bisa menghentikan kepergian Rasya tepat waktu.


Setelah menempuh waktu beberapa menit di jalan, Arga akhirnya tiba di bandara. Dia langsung memeriksa jadwal penerbangan yang ada.


Terdapat sekitar dua jadwal penerbangan menuju Indonesia. Arga melihat jadwal penerbangan yang tercepat akan berangkat sebentar lagi.


Buru-buru Arga mendatangi ruang tunggu. Ia langsung mencari Rasya. Pupil matanya membesar tatkala melihat orang yang dirinya cari-cari.


Arga yang melihat, langsung menghentikan. "Rasya!" panggilnya.


Rasya dan Agni berhenti melangkah. Mereka menoleh ke arah sumber suara. Mata Agni membulat sempurna saat menyaksikan Arga.


"Ayo, Sya! Kita harus cepat-cepat pergi!" ajak Agni sembari mengajak Rasya untuk berlari. Dia bertekad memasuki tempat pemeriksaan penumpang pesawat yang dinaikinya. Dimana di sana Arga tidak akan diperbolehkan masuk oleh petugas.


Agni dan Arga melakukan aksi kejar-kejaran tak terduga. Tetapi karena Agni terlalu memaksa Rasya untuk berlari, anak itu tak sengaja terjerembab.


"Rasya!" Arga dan Agni berseru bersamaan. Arga yang sudah dekat, akhirnya berhasil menghampiri Rasya.


"Ayo ikut Papa, Sya!" ajak Arga.

__ADS_1


"Ayo kita pergi, Sya!" Agni juga mengajak Rasya pergi. Dia memegangi tangan Rasya.


Arga sigap menjauhkan tangan Agni dari Rasya. "Apa yang kau lakukan?! Apa kau lupa? Hak asuh Rasya berada di tanganku!" timpalnya.


Dahi Agni berkerut. "Aku tidak akan membiarkan Rasya dijadikan tumbal selanjutnya demi kegiatan mesummu!" balasnya.


"Apa?" Arga merasa heran. Dia juga agak kaget mendengar Agni menyinggung perihal masalah tumbal.


"Tega sekali kau menumbalkan anak kedua kita demi burung letoymu itu!" omel Agni sambil mengarahkan telunjuk ke wajah Arga.


Mata Arga terbelalak. Dia sempat terdiam karena merasa heran dengan apa yang telah diketahui Agni.


"Dari mana kau mengetahui semua itu?" tanya Arga.


Agni tercengang. "Jadi itu benar? Kau memang bajingan!" cibirnya. Dia meraih tangan Rasya.


"Ayo, Sya! Papamu pantas ditinggalkan!" ujar Agni. Dia kembali mencoba membawa Rasya.


Arga tak membiarkan. Dia segera meraih tangan Rasya yang satunya.


"Kau tidak bisa membawanya pergi. Aku akan melaporkanmu pada pihak berwajib sebagai kasus penculikan," kata Arga. Dia berani bicara begitu karena hak asuh Rasya berada di tangannya.


"Penculikan? Rasya saja sukarela ingin ikut denganku. Apa itu bisa disebut penculikan?" sahut Agni.


Arga menatap Rasya. Dia melihat Rasya menatap dirinya dengan tatapan kebencian. Arga semakin dibuat kaget kala Rasya menarik tangan dari genggamannya.


"Papa jahat! Aku akan ikut Mama!" tegas Rasya.

__ADS_1


__ADS_2