Impoten : Ritual Bergairah

Impoten : Ritual Bergairah
Bab 79 - Dugaan Agni


__ADS_3

...༻◊༺...


Agni mendapat kabar bahwa Rasya sudah ditemukan. Ia mendapat kabar tersebut dari kantor polisi yang dirinya datangi. Agni sangat marah karena baru mengetahuinya setelah tiga hari berlalu.


"Arga sialan! Dia dan Laras pasti sengaja melakukan ini," gerutu Agni sambil keluar dari kantor polisi dengan wajah cemberut.


"Kita harus mencari mereka!" usul Hery yang sejak tadi ada bersama Agni.


"Tentu saja! Kau cari Laras, dan aku mencari Arga!" sahut Agni. Dia dan Hery memisah untuk melakukan pencarian masing-masing.


Tempat yang pertama kali didatangi Agni adalah rumah Arga. Di sana dia menekan bel berulang kali. Dirinya mengetahui Arga tidak di rumah saat ada tetangga lewat. Terkejutlah Agni ketika menerima kabar kalau Arga dan Rasya sudah pergi. Rumahnya bahkan sudah dijual.


Agni semakin kesal. Meski begitu, dia tidak menyerah untuk menemukan Arga dan Rasya. Agni melakukan pencarian kemana-mana. Termasuk rumah sakit tempat Arga bekerja. Perempuan itu semakin kaget saat mengetahui Arga sudah resign. Fakta tersebut sontak membuat Agni curiga.


Sementara itu, Hery mendatangi apartemen Laras. Dia juga mendapat kabar yang sama seperti Agni. Untung saja Hery tidak mengetahui toko kue tempat Laras bekerja, jadi dia tidak bertemu dengan Erika.


Karena telah mengetahui kepergian Arga dan Laras, Agni mengajak Hery bertemu. Mereka akan memutuskan apa yang harus dilakukan selanjutnya.


"Mereka pasti pergi bersama. Masalahnya kita tidak tahu mereka kemana!" cetus Agni kesal.


"Apa menurutmu mereka kembali ke Indonesia?" Hery menduga.


"Sepertinya tidak. Karena kalau Arga kembali ke Indonesia, maka Rasya akan..." Agni tidak menyelesaikan kalimatnya saat terpikirkan sesuatu.

__ADS_1


"Akan apa?" Hery yang penasaran sontak bertanya.


"Itu dia! Aku rasa mereka kembali ke Indonesia. Mereka pasti akan melakukan itu untuk menumbalkan anak kita!" kata Agni sembari menepuk meja cukup keras.


"Kau pikir begitu? Kalau begitu, kita harus kembali ke Indonesia secepatnya! Sebelum Arga dan Laras menumbalkan anak kita lagi," saran Hery yang langsung sependapat dengan Agni.


"Aku akan segera menghubungi seseorang yang kemungkinan mengenal dukun mereka!" imbuh Agni. Dia segera berkutat dengan ponselnya. Nama yang terlintas dalam benaknya tentu adalah Virgo.


...***...


Arga dan Laras baru selesai berhubungan intim. Kini keduanya saling merapikan pakaian. Laras tampak bercermin untuk membenarkan rambut dan juga make up.


Perlahan sepasang tangan melingkar di pinggul Laras. Arga memeluknya dari belakang. Lelaki itu meletakkan dagu ke bahu Laras.


Laras tersenyum dan memutar tubuhnya menghadap Arga. "Apa kau juga merasa begini saat baru menikah dengan Agni?" tanyanya.


"Laras... Bisakah kau tidak menyebut nama itu? Namanya membuat suasana hatiku buruk. Kau mau aku juga menyebutkan nama mantanmu?" ujar Arga.


Laras terkekeh, lalu menepuk dada Arga. "Kau lelaki yang sensi sekali," komentarnya.


Bersamaan dengan itu, terdengar ketukan dari luar. Arga dan Laras otomatis buru-buru membuka pintu. Betapa kagetnya mereka tatkala melihat antrian toilet cukup ramai. Ada sekitar lima orang yang menunggu.


"Kenapa kau lama sekali?" timpal seseorang.

__ADS_1


"Aku sudah tidak tahan!" seorang wanita melingus masuk ke toilet karena sangat ingin kencing. Saat itulah Laras pergi lebih dulu sambil menutupi wajah dengan satu tangan.


Wanita yang masuk ke toilet kaget saat melihat ada orang lagi. Orang itu tidak lain adalah Arga.


"Permisi..." seraya menahan malu, Arga melarikan diri begitu saja. Orang-orang yang ada di sekitar toilet hanya bisa terperangah. Mereka tentu bisa menduga apa yang dilakukan sepasang lelaki dan perempuan berduaan di dalam toilet.


Laras mendengus lega kala sudah kembali ke tempat duduk. Dia segera fokus dengan Adella yang masih tertidur.


Beberapa saat kemudian, pesawat tiba di tempat tujuan. Arga dan Laras terpaksa berpisah lagi. Mengingat mereka memesan tempat tinggal yang berbeda. Walaupun begitu, Arga mengantarkan Laras dan Adella dengan mobil sewaan. Arga terpaksa harus menyewa mobil untuk sementara agar lebih mudah bepergian.


Arga ingin sekali bicara dengan Laras. Terutama menggoda perempuan tersebut. Namun tidak bisa karena ada Rasya yang mesti harus dijaga perasaannya.


Adella tiba-tiba menangis. Semua orang di mobil lantas cemas. Termasuk Rasya. Anak itu menoleh ke kursi belakang, tempat dimana Laras dan Adella berada.


"Tante? Apa Della baik-baik saja?" tanya Rasya.


"Tidak apa-apa. Dia sepertinya cuman haus," jawab Laras. Ia pun segera menyusui Adella.


"Oh..." Rasya mengangguk mengerti. Dia memanfaatkan waktu dengan bermain ponsel.


Sementara Arga, dia menenggak ludahnya sendiri sembari melirik kaca spion. Dari sana dia bisa melihat Laras menyusui Adella. Atensinya tentu bukan tertuju pada Adella, melainkan ke arah buah dada Laras.


Laras menyadari lirikan Arga. Apalagi lelaki itu mulai berkeringat dan sedikit gelisah. Laras hanya terkekeh dan langsung menutupi buah dadanya dengan selimut.

__ADS_1


__ADS_2