Impoten : Ritual Bergairah

Impoten : Ritual Bergairah
Bab 53 - Bicara Lagi


__ADS_3

...༻◊༺...


"Mbah Seno?" Arga mencoba mencari Senopati. Matanya memindai ke segala arah. Arga bahkan menelusuri halaman rumahnya. Nihil, Senopati tak terlihat ada dimana-mana.


"Orang tua itu memang aneh," komentar Arga. Dia memilih masuk ke rumah. Dirinya berpikir untuk menanyakan tentang Laras kepada Hery besok.


Keesokan harinya, Arga mendatangi perusahaan Hery. Akan tetapi dia tidak bisa menemui mantan suami Laras itu di sana. Suasana di perusahaan bahkan tampak sepi.


Setelah bertanya, ternyata Hery sedang berada di rumah sakit. Katanya istrinya mengalami pendarahan yang parah.


"Terima kasih," ungkap Arga kepada karyawan yang memberitahunya dimana Hery. Ketika beranjak, dia bisa mendengar karyawan tersebut bergosip dengan rekannya.


"Aku yakin itulah karma yang didapatkan Fita karena merebut suami orang."


"Iya. Mengerikan sekali. Amit-amit deh!"


"Kasihan mantan istrinya Pak Hery. Padahal jelas-jelas dia lebih cantik dibanding Fita."


"Kayaknya Pak Hery lagi ngikutin tren. Kan kebanyakan sekarang selingkuhan lebih jelek dibanding pasangan sah."


Hanya itu percakapan yang Arga dengar dengan jelas. Dia hanya menggelengkan kepala mendengarnya. Sekarang Arga pergi ke rumah sakit untuk mencari Hery.


Sesampainya di rumah sakit, Arga tidak perlu bersusah payah mencari Hery. Sebagai dokter, dia hanya perlu bertanya pada kenalannya.


Arga lantas diberitahu dimana ruangan istri Hery berada. Saat mendekati ruangan itu, dia bisa melihat Hery duduk sendirian di bangku. Arga segera duduk ke sebelah lelaki tersebut.


Hery langsung menoleh. "Kau! Apa yang kau lakukan di sini?" timpalnya.


"Apa Laras pergi?" tanya Arga.

__ADS_1


"Aku dengar begitu. Kau menemuiku hanya ingin menanyakan itu?" balas Hery.


"Kau tahu kemana dia pergi?" Arga tak menanggapi pertanyaan Hery. Dia justru meneruskan pembicaraan dengan pertanyaan baru.


"Kenapa kau bertanya padaku? Bukan kah kau harusnya lebih tahu?"


"Aku sudah tidak berhubungan dengannya lagi semenjak kalian bercerai!" ungkap Arga sambil mengerutkan dahi.


"Lalu apa urusannya denganku? Apa kau ingin aku bertanggung jawab dengan hubungan yang terjadi pada kalian? Tidak masuk akal. Jelas-jelas kalian berselingkuh!" cibir Hery dengan aksi sinisnya.


"Jangan memancingku. Kedatanganku ke sini hanya ingin bicara baik-baik. Kalau kau memang tidak tahu dimana Laras, ya sudah." Arga beranjak pergi, dari pada dia harus tersungut amarah karena cibiran Hery.


"Kalau kau ingin tahu, kau bisa bertanya pada orang tuanya Laras. Aku bisa memberikanmu alamatnya kalau kau mau!" cetus Hery. Membuat langkah kaki Arga sontak terhenti. Lelaki itu pun kembali menghampiri Hery.


Arga mengambil ponsel dari saku. Dia menyuruh Hery untuk menuliskan alamat di aplikasi catatan. "Tuliskan alamatnya," pintanya.


Hery lantas mengangguk dan menuliskan alamat orang tua Laras.


"Iya, bisa dibilang begitu. Orang tuanya Laras sangat membenciku sekarang. Jadi mereka tak mau bicara padaku. Tapi mereka mungkin mau membicarakan Laras kepadamu." Hery sudah selesai menuliskan alamat. Dia menyerahkan ponsel Arga.


"Terima kasih." Arga segera pergi. Dia langsung mendatangi rumah orang tua Laras.


Bertepatan dengan itu, Hery menelepon Agni. Ia memberitahu tentang pertemuannya dengan Arga. Hery juga tak lupa mengatakan kalau Arga sedang mencari Laras.


...***...


Arga datang ke rumah orang tuanya Laras dengan mengaku sebagai dokter kandungan perempuan tersebut. Dia berpura-pura kalau Laras lupa membawa hasil tes pemeriksaan terakhir kali.


Obrolan Arga dan Dani berjalan secara harmonis. Sampai akhirnya Arga menanyakan kemana Laras pergi.

__ADS_1


"Dia pergi ke London. Katanya ingin memulai hidup baru di sana," kata Dani. Tanpa sepengetahuannya, Laras tidak memberitahukan negara yang sebenarnya akan ditinggali. Perempuan itu sangat berhati-hati karena harus melindungi janinnya. Laras bahkan terpaksa berbohong pada orang tuanya sendiri.


"Iya. Laras butuh pengalihan setelah apa yang sudah terjadi," sahut Wina.


"Oh, begitu..." Arga berusaha mengerti. Dia pamit setelah menemukan yang dicari.


Sebelum pergi, Arga tidak lupa meminta nomor telepon baru Laras. Dia menghubungi perempuan tersebut sambil menjalankan mobil.


"Halo?" Suara yang sudah lama tak didengar itu akhirnya bisa terdengar lagi oleh Arga.


"Laras! Ini kau kan?" seru Arga. Dia langsung menepikan mobil untuk berhenti. Dirinya ingin fokus bicara dengan Laras.


"A-rga... Bagaimana kau..."


"Ceritanya panjang! Tapi satu hal yang pasti, Mbah Seno mencarimu!" ucap Arga.


"Aku tahu. Aku memang sengaja pergi jauh untuk menyelamatkan anakku," sahut Laras.


"Tapi Mbah Seno akan menjadikan anakku sebagai tumbal kalau kau tak kembali." Arga mengungkapkan kekhawatirannya.


"Jadi kau ingin aku kembali dan menyerahkan anakku untuk dibunuh?!" Laras meninggikan nadanya karena merasa tersudut.


"Maaf! Bukan begitu maksudku. Sebagai orang tua, aku juga ingin menjaga anakku!" jelas Arga.


"Kalau begitu, lakukan hal yang sama denganku! Kau dan anakmu harus pergi jauh dari Mbah Seno agar bisa selamat!" usul Laras.


"Apa itu akan berhasil?" tanya Arga.


"Aku sudah mencobanya. Sampai sekarang aku dan anakku baik-baik saja. Mbah Seno dan dedemitnya tidak akan mampu mengejar kita sampai menyeberang samudera bukan?" Laras menerangkan apa yang dirinya tahu.

__ADS_1


Arga seketika terdiam. Sekarang dia paham kenapa Laras pergi jauh.


__ADS_2