Impoten : Ritual Bergairah

Impoten : Ritual Bergairah
Bab 22 - Menemui Senopati


__ADS_3

...༻◊༺...


"Jangan berkata begitu. Kita berdua harus sama-sama bertanggung jawab," ucap Arga.


Laras mengangguk dan tersenyum. Entah kenapa dia merasa tenang saat mendengar Arga berucap seperti itu.


"Apa kau bisa pergi menemui Mbah Seno hari ini?" tanya Arga.


"Tentu saja. Aku ibu rumah tangga. Aku punya banyak waktu luang," sahut Laras.


"Baiklah. Tapi tidak apa-apa kan kalau kita berangkat setelah aku bekerja?"


"Itu bukan masalah. Aku akan menunggumu di cafe dekat sini. Kalau selesai, hubungi saja aku." Usai membereskan ruangan, Laras beranjak dari klinik Arga. Dia menunggu lelaki itu sambil menikmati minuman dan kue di cafe.


Laras merasa lebih mendingan dibanding sebelumnya. Suasana hatinya menjadi baik sekali. Dia bahkan sesekali tersenyum sendiri. Laras seolah bersemangat dengan perjalanan yang akan dilakukannya bersama Arga.


"Aku harus minta izin dulu sama Mas Hery," gumam Laras. Dia segera menelepon Hery dan memberitahukan bahwa dirinya pergi ke rumah keluarganya lagi.


"Apa kau yakin? Kau sedang hamil sekarang. Harusnya aku menemanimu." Hery terdengar cemas.


"Tidak apa-apa, Mas. Aku tahu kau sibuk. Jadi aku pergi sendiri," balas Laras. Berusaha bicara dengan tenang.


"Ya sudah. Mau bagaimana lagi... Berhati-hatilah, oke? Kalau ada sesuatu, langsung kabari aku."


"Iya, Mas."


"Aku mencintaimu," ungkap Hery.


"Aku... A-aku juga," sahut Laras. Anehnya itu pertama kalinya dia meragu mengatakan hal tersebut.

__ADS_1


Laras mendengus kasar. Dia kembali diselimuti rasa bersalah. Laras jadi termenung sendiri. Semuanya berakhir ketika dirinya mendapat telepon dari Arga. Lelaki tersebut sudah menyelesaikan pekerjaannya.


"Sebaiknya kita pakai mobilku saja supaya lebih mudah. Kau bisa memarkirkan mobilmu di klinikku," usul Arga.


"Ide bagus," tanggap Laras. Dia dan Arga segera berangkat.


Perlu waktu sepuluh jam untuk tiba ke lokasi Senopati. Itu pun termasuk cepat karena mereka sudah mengetahui dimana alamat sebenarnya. Arga dan Laras sudah sampai. Keduanya keluar dari mobil dan melangkah bersama memasuki hutan.


"Kau butuh berapa lama mencari tempat Mbah Seno dulu?" tanya Arga. Dia dan Laras berjalan menyusuri jalanan setapak.


"Sekitar empat hari. Tempatnya benar-benar sulit dicari. Kalau kau?" Laras berbalik tanya.


"Setidaknya aku lebih cepat darimu. Tiga hari!" Arga menyombongkan diri.


"Apa itu sesuatu yang pantas dibanggakan?" balas Laras.


"Aku rasa begitu," tanggap Arga. Dia dan Laras terkekeh bersama.


"Kau tenang saja. Aku sekarang sedang mencari buruh bangunan untuk membangun rumah itu," sahut Arga. Tak lama kemudian dia dan Laras tiba di gubuk Senopati. Mereka tentu tak lupa mengetuk terlebih dahulu.


Pintu terbuka sendiri. Laras dan Arga melangkah masuk secara bersamaan. Keduanya melihat Senopati duduk bersila di balik tirai.


"Duduklah!" suruh Senopati yang langsung dituruti oleh Arga dan Laras.


Senyuman tipis mengembang di wajah Senopati. Sebuah senyuman yang sulit untuk diartikan.


"Jadi kedatangan kami ke sini--"


"Aku sudah tahu." Senopati memangkas perkataan Arga. Seperti biasa, entah bagaimana caranya dia selalu tahu.

__ADS_1


Laras dan Arga bertukar pandang. Keduanya tentu sama-sama malu dengan perbuatan mereka.


"Kalian tidak perlu cemas. Kalian tidak akan mendapatkan resiko apapun setelah melakukan semua itu. Resiko hanya didapat saat malam ritual dilakukan. Jadi aku sarankan jangan berbuat hal nyeleneh malam itu," jelas Senopati.


"Berarti kami akan baik-baik saja jika melakukannya selain malam ritual?" tanya Arga memastikan. Anehnya dia antusias akan hal tersebut.


"Begitulah. Tapi kalian pasti tahu akibat sering berbuat begitu kan? Karena semakin sering kalian melakukannya, maka resiko ketahuan akan semakin besar. Aku peringatkan pada kalian, kalau ketahuan, jangan pernah melibatkan namaku!" ujar Senopati. Dia menekankan kalimatnya di bagian akhir. Jelas Senopati serius akan perkataanya.


Arga dan Laras terdiam. Keduanya tak tahu harus bagaimana menanggapi perkataan Senopati yang kesannya seperti mengancam.


"Maafkan kami, Mbah. Kami akan berhati-hati," kata Arga.


"Aku tidak peduli kalian ketahuan atau tidak. Yang jelas, jangan pernah memberitahukan perihal aku dan ritual yang kalian lakukan kepada siapapun!" ucap Senopati panjang lebar. "Dan satu hal lagi. Kalian berdua tidak boleh terikat dalam pernikahan. Tak peduli apakah kalian saling mencintai satu sama lain," tambahnya.


Arga dan Laras sekali lagi saling menatap. Keduanya lalu bergegas menggeleng.


"Tentu saja tidak, Mbah! Kami sudah punya pasangan, mana mungkin kami bisa menikah," kata Laras.


"Ya sudah. Kalau tidak ada pertanyaan lagi, pergilah sekarang!" balas Senopati.


Arga dan Laras lantas pamit pulang. Sekarang keduanya sudah berada di mobil dalam perjalanan pulang.


Kebetulan saat itu senja baru saja berubah menjadi malam. Arga mengemudi di tengah kegelapan.


"Jujurlah kepadaku. Apa kau ingin melakukannya lagi denganku?" celetuk Arga. Dia mencoba memberanikan diri bertanya begitu.


Laras menatap Arga. "Kalau aku menjawab iya?" tanggapnya.


Mendengar jawaban Laras, Arga menepikan mobil dan berhenti. "Maka kita bisa mengambil kesempatan ini," sahutnya. Dia dan Laras saling menatap nakal sambil tersenyum tipis.

__ADS_1


Yakin Laras memiliki keinginan yang sama, Arga langsung memangkas jarak. Membelenggu Laras dengan buaian dan sentuhannya.


__ADS_2