
...༻◊༺...
Dahi Hery berkerut dalam. "Bukan anakku? Lalu anak siapa?" selidiknya.
"Apa itu penting untukmu? Kita sudah berpisah. Kau orang asing bagiku sekarang!" sahut Laras. Dia berbalik dan segera pergi meninggalkan Hery.
Di belakang, Hery mematung di tempat. Meski Laras sudah memberitahu bahwa anak yang bersamanya sekarang bukan anak Hery, tetapi Hery masih merasa ragu. Ia masih berpikir kalau anak Laras juga adalah darah dagingnya.
Akhirnya Hery memutuskan mengikuti Laras. Dia melakukan itu secara diam-diam. Hery bersembunyi ketika melihat Laras menghampiri sebuah mobil.
Di sana terlihat Linda yang sibuk menggendong Adella. Linda terpaksa membawa Adella keluar dari mobil karena anak itu tak berhenti menangis.
"Dia langsung diam saat kubawa keluar," ucap Linda.
"Terima kasih. Ayo kita pulang saja," ajak Laras.
"Bagaimana dengan urusanmu? Mana Arga?" tanya Linda seraya mengedarkan pandangan ke segala arah.
"Aku tidak bertemu dengannya. Aku akan menelponnya saja," tanggap Laras. Dia jadi ingin cepat-cepat pulang setelah pertemuannya dan Hery tadi.
Linda mengangguk. Dia dan Laras masuk ke dalam mobil. Saat itulah Hery bergegas memanggil taksi untuk membuntuti Laras.
Saat di perjalanan, Laras tak lupa mengirim pesan pada Arga. Dia memberitahukan perihal kepergiannya serta kemunculan Hery.
Di sisi lain, Arga, Agni, dan Rasya sedang berada di ruang keamanan. Di sana mereka diminta penjelasan terhadap apa yang terjadi.
Agni yang merasa benar, terus menyudutkan Arga. Dia berusaha keras ingin menjauhkan Arga dari Rasya.
__ADS_1
"Dia sengaja memisahkanku dan anakku. Makanya aku tidak tinggal diam!" ucap Agni.
Arga mendelik ke arah Agni. Dia ingin sekali marah, namun ditahan sebisa mungkin.
"Benarkah begitu, Tuan Prakasa?" tanya sang petugas keamanan.
"Tentu tidak, Pak. Ini sebenarnya hanya masalah keluarga. Mantan istriku terlalu membesar-besarkannya. Lagi pula hak asuh Rasya berada di tanganku. Sudah sewajarnya aku berusaha menjaga Rasya. Justru Agni yang ingin memisahkanku dari anakku," jelas Arga panjang lebar.
"Enak saja! Di sini kaulah penjahatnya! Kau sudah menumbalkan anak keduamu!" timpal Agni sembari memegangi perut.
Arga mengabaikan Agni. Dia fokus bicara pada petugas keamanan.
"Pak, kau bisa lepaskan kami. Biarkan kami mengurus masalah ini secara kekeluargaan. Aku akan menenangkan mantan istriku," tutur Arga.
Agni terperangah mendengarnya. Dia akhirnya diam dan tak bisa mengomel lagi.
"Aku akan melepaskan kalian, tapi berjanjilah untuk tidak membuat keributan lagi. Kalau tidak, maka kalian akan dipastikan dideportasi dari negara ini!" tegas si petugas keamanan.
"Kami minta maaf atas keributan yang sudah terjadi," ujar Agni. Dia dan Arga saling menyalami para petugas keamanan. Setelahnya, mereka beranjak pergi.
"Mama! Apa kita tidak jadi pergi?" tanya Rasya. Dia sejak tadi disuruh menunggu di luar sambil ditemani petugas keamanan lain.
"Tidak, Sya..." Agni menggeleng seraya melirik tajam Arga.
"Ayo kita makan es krim!" ajak Arga.
Rasya memberengut. "Aku tidak akan ikut kalau Mama tidak ikut!" tegasnya.
__ADS_1
"Kita semua akan pergi. Termasuk Mama," sahut Arga. Dia sebenarnya merasa sedih melihat sikap Rasya kepadanya. Tetapi untuk sekarang, Arga akan fokus meyakinkan Agni terlebih dahulu.
Agni terpaksa ikut ajakan Arga. Keduanya beserta Rasya sudah berada di sebuah toko es krim. Di tempat itu kebetulan juga ada taman bermain khusus anak-anak. Jadi Rasya dibiarkan bermain di sana.
Sambil menikmati es krim sekaligus mengawasi Rasya, Arga mengajak Agni mengobrol.
"Aku tidak menyangka seorang dokter sepertimu berurusan dengan ilmu perdukunan," sindir Agni.
Arga menatap Agni. Dia mengingat tujuan utamanya untuk sembuh dari impoten. Apalagi kalau bukan karena istrinya yang sekarang sudah menjadi mantan.
"Apa kau tidak sadar? Aku ingin sembuh karenamu. Aku melakukannya karena ingin rumah tangga kita harmonis," ungkap Arga.
Agni terkesiap. Entah kenapa pernyataan Arga sukses mengenai hatinya. Kekesalan Agni seketika pudar.
"Aku bahkan tak memperdulikan benar tidaknya dengan apa yang kulakukan itu," sambung Arga.
"Kalau bukan menyerahkan tumbal, lalu apa yang kau lakukan agar bisa sembuh?" tanya Agni.
"Sesuatu hal yang buruk. Aku tak bisa mengatakannya karena sudah berjanji," jawab Arga.
"Apa ada hubungannya dengan Laras?" Agni jadi penasaran.
"Jangan libatkan Laras dengan masalah kita. Satu hal yang harus kau tahu, alasanku membawa Rasya tinggal di sini karena ingin melindunginya. Dukun itu sudah menetapkan Rasya sebagai tumbal. Kalau Rasya kembali ke Indonesia, maka nyawanya bisa terancam. Itulah alasan aku bersikeras menghentikanmu." Arga menjelaskan panjang lebar.
"Lalu apa yang dikatakan Hery itu tidak benar?" tanggap Agni dengan dahi yang berkerut dalam.
"Hery? Dia yang memberitahumu semuanya?" Arga kaget mendengar nama Hery ikut terlibat.
__ADS_1
"Ya. Katanya dia mendapat informasi dari orang dekat dukun yang membantumu itu," ujar Agni.
Kelopak mata Arga melebar. Dia sekarang bisa menemukan jawaban kalau semua yang terjadi ada kaitannya dengan ulah Senopati.