Impoten : Ritual Bergairah

Impoten : Ritual Bergairah
Bab 78 - Michael


__ADS_3

...༻◊༺...


Dua hari berlalu. Tibalah Arga dan Laras harus pergi dari Paris. Mereka terpaksa datang terpisah ke bandara karena mengutamakan perasaan Rasya. Jadi bisa dibilang, Arga dan Laras akan membuat skenario kebetulan di hadapan anak itu.


Negara yang menjadi tujuan Arga dan Laras adalah Finlandia. Keberangkatan keduanya berjalan lancar. Mereka juga merahasiakan tempat tujuan sebenarnya dari siapapun. Bahkan teman dekat sekali pun.


Kini Arga dan Rasya sudah berada di ruang tunggu. Keduanya bertemu Laras dan Adella dalam selang beberapa menit kemudian.


"Wah! Tante Laras juga akan pergi?" tanya Rasya dengan kelopak mata yang melebar.


"Iya. Kebetulan sekali ya," sahut Laras sembari tersenyum. Dia juga tak lupa saling melirik dengan Arga.


Saat di pesawat Arga dan Laras duduk terpisah. Walaupun begitu, posisi mereka tidak terlalu jauh.


Butuh waktu sekitar 2 jam lebih untuk sampai ke Finlandia. Rasya tertidur ketika sudah satu jam di pesawat. Saat itulah Arga mencoba bicara dengan Laras. Lelaki tersebut tak berhenti mencuri pandang ke belakang. Tepat dimana Laras berada.


'Apa-apaan, Ga? Kenapa terus menatapku begitu? Apa ada sesuatu yang ingin kau katakan padaku?' Laras mengirim pesan pada Arga.


'Aku merindukanmu.' Arga membalas pesan Laras. Sesi balas pesan pun berlanjut di antara keduanya.


'Astaga... Bukankah hampir setiap hari kita bicara ditelepon? Kita juga sering berkirim pesan begini.'


'Kau pikir itu cukup bagiku?'

__ADS_1


'Kau rindu menghabiskan waktu bersamaku atau merindukan tubuhku?'


'Keduanya! Aku merindukan segala hal tentangmu. Jangan singgung tentang Michael. Dia harus berlatih agar bisa terbiasa. Apalagi sepertinya dia hanya mau aktif denganmu.'


'Michael?'


'Kau tahu apa itu. Bagian tubuh yang membuatku bertemu denganmu.'


Saat membaca pesan Arga itu, Laras tak bisa menahan tawa. Dia menutup mulut dengan tangannya agar tawanya tidak mengganggu orang lain. Bisa-bisanya Arga menamai organ itimnya dengan nama Michael.


Untuk sejenak, Laras dan Arga bisa melupakan masalah mereka. Itu semua karena kebersamaan keduanya yang begitu kuat.


Laras yang hendak buang air kecil, segera berdiri. Dia melangkah menuju toilet. Sambil berjalan melewati Arga, dia berucap, "Michael... Pffft..."


Ketika tiba di toilet, pintu tentu dalam keadaan tertutup. Arga pun tak punya pilihan selain menunggu. Ia menyandar ke dinding sambil melipat tangan di depan dada.


Pintu toilet akhirnya terbuka. Sosok Laras muncul dari sana. Buru-buru Arga membawa perempuan itu kembali masuk ke toilet. Untung saja keadaan di sana sedang sepi.


Mata Laras membulat karena terkejut dengan ulah Arga. Meskipun begitu, dia tidak melakukan perlawanan apapun.


Arga mengunci pintu saat dirinya dan Laras sudah berada di dalam toilet. Dia langsung memojokkan Laras ke dinding.


"Kau gila!" cibir Laras.

__ADS_1


"Rasya membuatku kelaparan!" ungkap Arga seraya membelenggu tangan Laras ke atas kepala.


"Ya, kau memang tampak kelaparan," tanggap Laras. "Tapi kita sekarang ada di tempat yang terbilang umum!" tambahnya memperingatkan.


"Sudah bukan tempat umum lagi karena kita hanya berdua di sini," sahut Arga. Dia mendekatkan wajahnya karena ingin segera mencium Laras. Akan tetapi perempuan itu langsung memalingkan wajah.


"Bisakah kau bersabar? Apa kau tidak merasa bersalah pada Rasya jika kita berbuat begini? Kau tahu dia sampai trauma karena melihat Agni dan Hery bercinta!" ujar Laras.


Arga menenggak salivanya sendiri. Walau hawa di pesawat terasa dingin, dia justru tampak berkeringat sekali. Peluh di area pelipisnya bahkan menetes demi tetes.


"Kau benar. Aku harus menahan diri. Hanya saja aku tidak yakin apakah Michael bisa menahannya," kata Arga. Membicarakan perihal senjata pribadinya yang telah aktif.


Mendengar nama Michael, Laras langsung melirik ke bagian bawah perut Arga. Benda dibalik resleting celana lelaki itu jelas tampak mencuat. Celana Arga jadi sesak dibuatnya.


Laras terkekeh. Namun itu tak berlangsung lama karena dia melihat Arga yang terkesan menderita menahannya.


"Aku sebaiknya kembali ke tempat duduk." Arga memilih menahan diri. Dia berusaha bersikap baik-baik saja. Padahal kekikukkannya tampak jelas di mata Laras.


"Kemarilah!" saat Arga hampir membuka pintu, Laras tarik kerah baju lelaki tersebut. Dia satukan bibirnya dengan mulut Arga. Lidah mereka lantas mulai bergelayut manja.


Merasa senang keinginannya dikabulkan Laras, Arga bergerak penuh semangat. Ia menggendong dan memojokkan Laras ke dinding.


Hanya dengan satu ciuman dari Laras, keliaran Arga langsung aktif. Michael miliknya memang sudah kelaparan.

__ADS_1


Sentuhan liar Arga, membuat nafas Laras mengalir cepat. Hawa panas perlahan menyelimuti. Mereka melakukan penyatuan saat sudah selesai pemanasan.


__ADS_2