
...༻◊༺...
Laras melangkah mundur sambil menggeleng berulang kali. "Tidak mungkin! Pasti ada cara. Kau pasti berbohong!" ucapnya tak percaya, lalu bergegas meninggalkan Senopati.
"Semuanya akan berakhir jika Arga bercerai dengan istrinya! Kau akan kehilangan anak itu!" ujar Senopati.
Laras terus berjalan. Dia mengabaikan perkataan Senopati. Dirinya langsung menutup pintu saat sudah masuk ke villa. Laras mencoba menenangkan diri. Pertemuannya dengan Senopati membuatnya semakin banyak pikiran.
"Maafkan Mama, Sayang. Mama tidak boleh terlalu banyak bersedih sekarang." Laras berbicara sembari memegangi perut. Janin dalam kandungannya adalah satu-satunya teman yang menemani.
Laras mengambil ponsel. Dia terpikir untuk menghubungi Arga. Namun yang hanya bisa dirinya lakukan adalah memandangi nama kontak Arga di layar ponsel.
"Tidak! Aku tidak bisa mengganggunya lagi sekarang. Arga punya hak untuk mempertahankan keluarganya," gumam Laras. Dia membuka internet dan mencoba mencari orang pintar yang mungkin bisa membantunya.
Laras memang adalah tipe perempuan yang tidak mau menyerah. Baginya pasti selalu ada jalan menuju Roma. Lihat saja sekarang, dia bisa hamil walau dokter memvonisnya sebagai wanita mandul.
Atensi Laras tertuju pada artikel seorang cenayang yang dikenal Mama Rida. Cenayang tersebut diketahui sakti. Prediksinya tentang masa depan bahkan nyaris selalu benar.
Laras memeriksa alamat praktek Rida. Tak perlu waktu lama, dia akan berangkat besok menggunakan kereta.
Kediaman Rida berada di lokasi yang cukup jauh. Saat pagi hari, Laras sudah berangkat menggunakan kereta.
Sesampainya di tempat tujuan, Laras langsung dipersilahkan masuk oleh pelayan di rumah Rida. Dia disuruh menunggu di ruang tamu.
__ADS_1
Tak lama kemudian, Laras dipersilahkan masuk ke ruangan dimana Rida menunggu. Ketika sudah masuk ke sana, Laras duduk di depan Rida. Wanita tua itu memandanginya dengan serius.
"Kau membawa banyak kesialan dalam dirimu!" cetus Rida. Dia tidak perlu berbasa-basi untuk melakukan pekerjaannya.
"Ke-kesialan?" Laras menuntut jawaban.
Rida mengangguk. "Semuanya karena ritual yang kau lakukan. Nyawa janin dalam kandunganmu bahkan terancam karena itu," jelasnya.
"Apakah ada hal yang bisa kulakukan untuk mempertahankan janinku?" tanya Laras dengan tatapan penuh harap.
"Ada satu hal yang bisa kau lakukan. Yaitu pergi sejauh mungkin. Dedemit itu tidak akan mengikutimu jika kau pergi jauh. Kau dan anakmu bisa hidup aman di luar negeri," kata Rida. Dia membuka laci meja yang ada di dekatnya, lalu mengambil sebuah gelang manik hitam dari sana.
"Apapun akan aku lakukan agar bayiku bisa tetap hidup!" ungkap Laras.
"Apa ini?" tanya Laras.
"Itu gelang pelindung. Pakaikan pada anakmu saat lahir nanti. Gelang itu bisa menjaganya dari kematian."
"Kematian?" Laras kembali heran.
"Kematian akan terus mengejarnya saat kau berhenti melakukan ritual. Dukun jahat dan dedemitnya itu tidak akan membiarkan kalian lepas begitu saja. Tapi kau tenang saja, selama kau berada di tempat yang jauh, mereka tidak akan mengganggumu. Gelang itu juga tidak akan berfungsi. Gelangnya hanya akan berfungsi kalau anakmu tetap berada di sini. Aku memberikannya hanya untuk berjaga-jaga." Rida menerangkan panjang lebar.
"Terima kasih... Setidaknya aku memiliki kesempatan untuk hidup bersama anakku," ucap Laras sambil membungkuk beberapa kali kepada Rida.
__ADS_1
"Kau seharusnya tidak mempercayai dukun itu, Nak. Karma baikmu menghilang karena hal buruk yang sudah kau lakukan," tanggap Rida. Menatap kasihan pada Laras yang tampak putus asa.
"Aku tak punya pilihan... Aku melakukannya karena ingin membahagiakan suamiku... Tapi ternyata semuanya tidak berjalan baik..." Laras terisak. Dia sekarang benar-benar menyesali ritual bergairah yang dilakukannya bersama Arga.
"Sesuatu tidak akan berjalan baik jika di awali dengan hal yang buruk," tutur Rida.
"Aku menyesal..." ungkap Laras.
"Semuanya sudah terjadi, yang harus kau lakukan sekarang adalah tetap bertahan." Rida memberikan dorongan positif.
"Kau benar..." lirih Laras. Dia menatap Rida dengan penuh kekaguman. "Andai aku bertemu denganmu sejak awal," harapnya.
Rida tersenyum. "Tapi aku tidak sesakti itu untuk membuat seorang wanita mandul hamil," sahutnya.
Laras lantas ikut tersenyum. Dia membuka tas dan mengambil amplop berisi uang dari sana.
"Simpan saja uang itu. Menjadi cenayang bukan pekerjaan utamaku," imbuh Rida. Ia menyodorkan kartu nama pada Laras. Dari sana Laras dapat mengetahui bahwa pekerjaan utama Rida adalah menjadi psikiater.
"Kau ternyata seorang dokter. Bagaimana bisa kau..." Laras merasa kagum.
"Tidak semua dokter selalu mengandalkan logika," kata Rida.
Setelah bicara dengan Rida, Laras pulang. Tujuannya sekarang adalah rumah kedua orang tuanya. Dia akan bersiap untuk berangkat ke luar negeri.
__ADS_1
Nama Linda terlintas dalam pikiran Laras. Sahabat lamanya yang sudah pergi. Linda kebetulan sudah menetap di Paris.