
...༻◊༺...
Saat malam hari, Arga mengajak Rasya belajar bersamanya. Itu merupakan kebiasaan yang mereka lakukan setiap malam.
Pintu perlahan terbuka. Agni masuk dan bergabung. Rasya kegirangan dengan kedatangan Agni, namun Arga tidak. Lelaki tersebut hanya bisa tersenyum tipis dan terpaksa bersikap baik pada Agni.
Setelah selesai menemani Rasya, Arga menjadi orang yang lebih dulu beranjak dari kamar. Dia pergi ke dapur dan meminum segelas air putih.
Sejak tadi siang Arga tak berhenti memikirkan Laras. Dia sangat ingin menemui perempuan itu, tetapi harus bersabar menunggu besok. Mengingat dirinya harus menemani Rasya sekarang.
Arga menjadi semakin khawatir saat Laras tidak mengangkat telepon. Perempuan tersebut hanya membalas beberapa pesannya. Itu pun dia lakukan dengan balasan singkat dan dingin.
"Memikirkan kejadian tadi?" tegur Agni.
Arga meletakkan gelas ke meja dan menoleh ke arah Agni. "Menurutmu?" tanggapnya.
"Kalau boleh tahu, apa kau sudah sembuh dari impoten?" tanya Agni sembari berjalan mendekat.
"Kenapa? Apa itu penting bagimu?" balas Arga.
"Kau harus tahu, kedatanganku ke sini bukan hanya untuk Rasya. Tapi juga kau... Aku sadar kalau hidup sendirian itu lebih menyedihkan dari apapun. Apalagi aku sudah terbiasa dengan keberadaan kalian di sisiku," ungkap Agni panjang lebar. Dia semakin mendekat ke hadapan Arga. Sungguh, dirinya merindukan sentuhan lelaki itu.
__ADS_1
Arga menarik sudut bibirnya ke atas. "Bukankah sebelumnya kau pernah berjanji kalau kau tidak akan menyesali keputusanmu?" timpalnya.
"I-itu benar. Tapi kemarin aku dalam keadaan tidak terkendali. Aku tak seharusnya bersikap begitu. Maafkan aku, Ga..." Agni membantah, lalu memancarkan tatapan lekat. "Kembalilah padaku..." sambungnya. Ia perlahan mendekatkan mulut ke bibir Arga. Sementara satu tangannya mengarah ke alat vital lelaki tersebut.
Dengan cepat Arga menahan pergerakan tangan Agni. "Kita sudah berpisah! Kalau kau mau disentuh, cari saja pemuda di luar sana. Aku yakin kau pasti menyukai pemuda-pemuda Paris!" tukasnya, kemudian melangkah pergi dari hadapan Agni.
Agni tersenyum mendengar perkataan Arga. Dia jelas mendapatkan penolakan. Hal itu membuatnya merasa semakin termotivasi.
...***...
Demi menyegarkan pikirannya, Arga memilih mandi. Saat sudah selesai dan membuka pintu, Agni langsung menyambut. Perempuan itu duduk di tepi ranjang dengan hanya mengenakan bathrobe tipis. Ia segera membuka bathrobe tersebut dan memperlihatkan keadaan tubuhnya yang telanjang.
"Apa-apaan? Setelah Rasya, jadi sekarang kau menggodaku?" Arga tercengang akan sikap Agni. Dia tahu kalau perempuan itu sangat ambisius.
"Apa kau ingat dengan malam pertama kita melakukannya dulu?" desis Agni.
Arga justru melayangkan tatapan malas. Kini dia sedang dalam keadaan tidak ingin berhubungan intim. Tubuh bugil Agni bahkan tak cukup untuk merubah suasana hatinya. Terlebih wanita itu sudah banyak berbuat ulah hari ini.
"Maksudmu saat kau mengeluarkan aturan yang banyak untukku? Kalau boleh jujur, itu pengalaman bercinta terburuk dalam hidupku," ucap Arga. Dia ingat saat pertama kali bercinta dengan Agni, perempuan itu sangat mengatur sekali. Arga tidak boleh begini atau pun begitu.
"Arga, kau menghancurkan suasana. Apa kau tidak mau adikmu kumanjakan?" Agni menyurai rambutnya ke belakang. Berlagak seksi untuk Arga.
__ADS_1
Tanpa aba-aba, Agni langsung menyerang organ intim Arga. Dia memperlakukannya bak menikmati sebuah lolipop.
"Hentikan," ujar Arga. Sebab dia tidak merasakan sedikit pun gairah. Arga justru semakin kesal pada Agni. Namun perempuan itu malah semakin meliarkan layanannya.
"Agni!" pekik Arga. Dia mencoba mendorong Agni, tetapi perempuan tersebut bergeming.
"Aku akan membuatnya berdiri," ucap Agni bertekad.
Setengah jam berlalu. Arga merebahkan dirinya ke ranjang. Dia bisa saja memarahi atau mengusir Agni, namun dirinya sudah lelah melakukan itu. Arga sangat mengenal Agni, jika dia terus menolak, maka mantan istrinya itu akan semakin maju tak gentar.
Bukannya bergairah, Arga justru mengantuk. Dia pun memejamkan mata.
Hampir satu jam sudah Agni berusaha memancing alat vital Arga agar bisa aktif. Tetapi usahanya belum berhasil.
"Aneh sekali. Tadi aku jelas melihat kalau kau bisa melakukannya saat bersama Laras," kata Agni. Dia berhenti sejenak.
"Arga, apa kau--" Agni ingin bertanya pada Arga. Namun ucapannya harus terjeda karena melihat Arga yang sudah tidur.
"Sial!" umpat Agni sambil menghempaskan bantal ke lantai. Dia segera mengenakan bathrobe dan pergi.
Keesokan harinya, Arga terbangun ketika waktu menunjukkan jam tujuh pagi. Dia menemukan dirinya masih dalam keadaan bugil.
__ADS_1
Arga tertawa sendiri saat mengingat apa yang terjadi tadi malam. "Kerja bagus, Dek!" pujinya pada adik di bawah perutnya.
Arga bergegas membersihkan diri dan bersiap pergi. Dia sudah tidak sabar ingin bertemu Laras. Arga hari itu rela libur bekerja demi perempuan tersebut. Ia akan membuktikan bahwa cintanya untuk Laras serius.