
...༻◊༺...
Hery tersenyum miring. Dari jawaban Arga, dia bisa menebak sesuatu hal secara pasti.
"Wah! Apa kau membicarakan nafkah setelah perceraian? Bagaimana kau tahu kalau aku dan Laras akan bercerai? Apakah dia yang memberitahumu?" cecar Hery.
Arga mengerjapkan matanya dengan cepat. Dia kelepasan karena terlalu kesal pada Hery.
"Sepertinya kau dan Laras memang sangat dekat, sampai dia memberitahumu perihal masalah sepribadi itu," komentar Hery.
Arga berusaha tenang menghadapi Hery. Dia berucap, "Laras beberapa kali menemuiku sebagai pasien di klinik. Suatu hari dia datang sambil menangis. Dia datang padaku karena mempercayaiku."
"Jangan berbelit-belit. Akui saja kalau kau dan Laras berselingkuh!" desak Hery yang merasa semakin yakin.
"Sebelum kau menuduh orang, lebih baik berkaca dulu pada dirimu sendiri." Arga bangkit dari tempat duduk. "Membuang waktu saja," keluhnya.
Arga kemudian beranjak dari hadapan Hery. Ia tak lupa mengajak Rasya ikut bersamanya. Arga bahkan tak menoleh saat Hery memanggilnya berulang kali.
"Kau akan menyesal karena memilih pergi begitu saja. Aku akan mencari bukti yang pasti akan membuatmu mengaku!" seru Hery. Namun tak digubris oleh Arga sama sekali.
Kini Arga dan Rasya sudah berada di mobil. Rasya menatap Arga dengan penuh tanya.
"Siapa orang yang bicara sama Papa tadi?" tanya Rasya.
"Dia bukan siapa-siapa. Jangan dipikirkan ya," jawab Arga.
__ADS_1
"Bagaimana aku tidak kepikiran? Kau dan pria itu sepertinya sedang marahan."
"Itu bukan masalah besar. Papa akan mengurus semuanya. Oke?" Arga menanggapi sambil memeriksa ponsel. Di sana dia menemukan banyak panggilan dan pesan dari Laras. Tanpa pikir panjang, Arga baca salah satu pesan perempuan tersebut.
'Agni menemuiku! Dia menanyakan tentang hubungan kita secara blak-blakkan. Tapi kau tenang saja, aku menyembunyikan semuanya dengan baik. Kau harus meyakinkannya agar Agni tidak curiga lagi.' Begitulah pesan dari Laras. Dari sana Arga bisa menyimpulkan bahwa Hery dan Agni bekerjasama.
"Sekarang kita kemana?" Pertanyaan Rasya sukses membuyarkan pikiran Arga. Lelaki itu langsung menatap sang putra.
"Bagaimana kalau kita makan es krim?" usul Arga.
"Asyik! Aku mau sekali!" Sebagai pecinta es krim, Rasya langsung setuju.
Sebelum menjalankan mobil, Arga mengirim pesan pada Laras. Dia mengajak perempuan itu bertemu di toko es krim.
Setibanya di toko es krim, Arga membelikan Rasya es krim cokelat. Ia juga membiarkan anak itu bermain ponsel. Sekarang Rasya fokus bermain game di ponsel.
"Apa dia anakmu?" tanya Laras seraya menatap Rasya.
"Iya. Namanya Rasya," sahut Arga.
"Lalu apa kita akan membicarakan semuanya di hadapan dia?" Laras memastikan.
"Dia tidak akan mengerti. Lagi pula, Rasya akan fokus ke ponsel saat bermain game," terang Arga. Dia dan Laras segera bicara.
Arga memberitahukan kalau Hery menemuinya hari ini. Persis seperti yang dilakukan Agni terhadap Laras. Arga juga tak lupa memberitahu dugaannya mengenai bukti yang dicari Hery.
__ADS_1
"Aku yakin dia ingin mencari bukti agar tidak bisa memberikan nafkah anak kepadamu," ungkap Arga.
Laras mendengus kasar, lalu tersenyum tipis. Dia tidak menyangka Hery bisa berubah secepat itu. "Padahal beberapa hari yang lalu dia terus merengek kepadaku," imbuhnya.
"Hery awalnya tidak mau menceraikanmu?" tanya Arga.
Laras mengangguk. "Mungkin dia berubah pikiran secepat itu karena yakin aku berselingkuh. Tapi setidaknya dia tahu rasanya dikhianati," ucapnya.
"Kau harus yakinkan Agni. Jangan sampai rumah tanggamu hancur, Ga. Kasihan anakmu." Laras menatap Arga dengan kesungguhan.
"Aku tidak bisa, Laras. Karena aku baru mengetahui kelakuan buruk Agni," ujar Arga.
"Maksudmu?" Laras kaget sekaligus penasaran.
Arga segera menceritakan apa yang sudah dilakukan Agni di belakangnya. Dia juga menjelaskan alasan dirinya membawa Rasya pergi bersamanya sekarang.
"Aku tidak tahu harus berkata apa," tanggap Laras yang merasa ikut sedih.
"Untuk sekarang, sebaiknya kita berhenti bertemu. Jangan biarkan Hery dan Agni tahu semuanya. Kita harus menyerahkan bukti ke pengadilan sebelum mereka melakukannya lebih dulu," saran Arga. "Kau sudah menemukan bukti pasti kan?"
"Iya. Itu mudah. Aku hanya perlu mendatangi rumah wanita simpanan Hery," sahut Laras.
"Tuntutlah nafkah yang banyak pada Hery. Dia pantas mendapatkannya."
"Terima kasih sudah berpihak padaku. Tapi aku tidak seburuk itu, Ga. Meski aku tidak akan memberitahu Hery kalau anak dalam perutku bukan anaknya, aku tidak akan menuntut nafkah anak padanya," tutur Laras sembari memegangi perut.
__ADS_1
Arga terpaku menatap Laras. Entah kenapa kecantikan dan ketulusan perempuan itu membuatnya merasa lebih tenang. Kalau bisa, Arga ingin terus bersama Laras. Namun apalah daya, sekarang bukan waktu yang tepat untuk memenuhi keinginan tersebut.