Impoten : Ritual Bergairah

Impoten : Ritual Bergairah
Bab 50 - Bulan Purnama Tanpa Ritual


__ADS_3

...༻◊༺...


Arga tak bisa tidur semalaman. Dia hanya sibuk memikirkan tentang pilihannya. Mengingat jawaban Agni terakhir kali telah membuatnya ragu.


Ponsel diambil oleh Arga. Dia ingin menceritakan kekalutannya pada Laras. Namun yang hanya bisa dilakukannya adalah menatap nomor kontak perempuan tersebut.


"Dia sekarang sedang ingin sendiri. Aku tidak bisa mengganggunya," gumam Arga. Dia duduk ke tepi ranjang.


Sebuah ide terlintas dalam benak Arga. Mungkin sebaiknya dia memberi kesempatan pada Agni dalam beberapa waktu.


Hari demi hari berlalu. Arga dan Laras tidak pernah lagi saling menghubungi. Keduanya sibuk mengurus kehidupan masing-masing.


Kini Laras sedang berada di ruang sidang. Dia dan Hery memutuskan bercerai secara baik-baik.


Sidang perceraian berjalan dengan lancar. Hery tidak masalah dengan nafkah yang di inginkan Laras. Perempuan itu hanya meminta nafkah sebesar 20 juta rupiah saja. Itu pun tidak diminta Laras perbulan. Semuanya dia lakukan demi rencana kepergiannya ke Paris.


"Aku tidak menyangka kau meminta uang sekecil itu," tukas Hery. Dia bicara dengan Laras ketika sidang sudah selesai.


"Senang mengenalmu. Aku tidak menyangka kisah cinta kita berakhir begini," tanggap Laras sambil mengulurkan tangan.


"Aku juga." Hery menyambut tangan Laras. Jabat tangan yang mereka lakukan adalah salam perpisahan.


Usai bicara dengan Hery, Laras langsung pergi. Dia pulang ke rumah orang tuanya.


Dani dan Wina sama sekali tidak masalah dengan kepergian Laras. Keduanya mengerti Laras butuh tempat baru untuk menenangkan diri.


Dengan tenang Laras pergi meninggalkan negerinya tercinta. Dia berharap bisa memulai kehidupan baru bersama anaknya.

__ADS_1


Untuk kali pertama, satu bulan purnama terlewat tanpa dilakukannya ritual. Arga sebenarnya mencoba menghubungi Laras. Akan tetapi nomor perempuan itu sudah tidak aktif.


Karena ritual sudah tidak dilakukan, maka otomatis Arga kembali impoten. Meskipun begitu, dia menjalani kehidupannya seperti biasa. Rumah tangga Arga juga semakin membaik. Dia dan Agni perlahan melupakan kesalahan masing-masing.


Sampai di suatu malam, Agni mendatangi Arga. Dia menggoda sang suami untuk bercinta. Mengingat mereka tak pernah melakukannya lagi semenjak mengetahui kesalahan satu sama lain.


"Aku tidak bisa." Arga mencoba menghentikan Agni.


"Kenapa begitu? Aku yakin kau juga mau," goda Agni. Dia membuka kancing baju Arga, lalu memagut bibir lelaki itu.


Arga pun ikut bermain. Dia berusaha menjadi suami yang baik.


Sentuhan dilakukan semakin intens. Sampai Agni melepas seluruh pakaiannya. Dia telentang dan siap melakukan penyatuan.


"Ayo cepat lakukan, Mas..." pinta Agni yang telah terbangkit gairah.


Agni terkekeh. "Kau kenapa tidak melepas celanamu?" tanyanya.


Sejak tadi Arga hanya memasang raut wajah datar. Dia tahu alat vitalnya tidak bereaksi sedikit pun dengan pemanasan yang tadi dilakukan.


Untuk memberitahu Agni, Arga menarik tangan perempuan itu. Kemudian mengarahkannya ke organ intim.


Mengerti dengan maksud Arga, senyuman Agni seketika hilang. Dia paham kalau alat vital Arga tidak mengeras.


"Tidak mungkin! Kita pasti kurang melakukan pemanasan," duga Agni.


"Tidak. Aku benar-benar tidak bisa--"

__ADS_1


"Ayolah, Mas! Jangan pesimis begitu. Perasaan itulah yang membuatnya tidak bisa aktif!" potong Agni. Dia melepas seluruh celana Arga. "Aku akan memancingnya!"


Agni mendorong Arga hingga terduduk. Dia segera memanjakan organ intim sang suami.


Arga sebenarnya merasa bergairah. Namun alat vitalnya tidak bisa bekerja dengan normal. Arga selalu dibuat gila terhadap perasaan tersebut.


Sudah hampir setengah jam alat vital Arga tidak bereaksi. Agni yang lelah, lantas berhenti.


"Biarkan aku istirahat," ucap Agni.


"Sudah cukup! Ini tidak akan berhasil," sahut Arga yang segera beranjak dari ranjang. Dia mengambil celana dan memakainya.


"Mas! Ayolah! Aku--"


"Beginilah aku! Dan aku akan terus begini selamanya. Maaf kalau aku tidak bisa memuaskanmu sebagai suami!" pangkas Arga yang lelah dengan kegigihan Agni.


"Tapi kenapa? Bagaimana ini bisa terjadi lagi? Kau jelas-jelas sudah sembuh." Agni merasa bingung dengan apa yang menimpa Arga.


"Bukankah aku sudah membahas ini sebelumnya?" tanggap Arga. Kini dia sudah mengenakan pakaian.


"Aku kira kau hanya berandai!" sahut Agni.


"Sekarang semuanya benar-benar terjadi. Bagaimana? Apa kau bisa menerimaku begini selamanya?" Arga bertanya dengan serius.


"A-aku... Aku..." Agni tergagap. Dia bingung harus menjawab apa. Mengingat berhubungan intim adalah kebutuhan fisik yang ingin dilakukannya dalam rumah tangga. Jujur saja, bagi Agni itu adalah hal penting.


"Kau pasti tidak bisa. Kau pasti akan membayar jasa pemuda seperti Virgo lagi!" Arga bisa menyimpulkan dari reaksi Agni. "Kalau begini, sebaiknya kita berpisah. Kita tidak bisa membohongi perasaan satu sama lain selamanya," tambahnya.

__ADS_1


Agni terdiam seribu bahasa. Membiarkan Arga pergi keluar dari kamar. Dia menangis tersedu-sedu. Agni mencintai Arga, namun anehnya dirinya merasa sakit hati dengan kelainan yang kembali diderita lelaki tersebut.


__ADS_2