Impoten : Ritual Bergairah

Impoten : Ritual Bergairah
Bab 71 - Merelakan


__ADS_3

...༻◊༺...


"Kata Hery kau menumbalkan anak kedua kita. Sepertinya Hery akan ke sini untuk mencari Laras," cetus Agni.


Arga tidak menanggapi. Dia justru menjauh sambil mengambil ponsel ke saku celana. Dirinya menemukan pesan dari Laras. Dari sana Arga tahu kalau Hery sudah datang ke Paris.


Kening Agni mengernyit saat melihat gelagat Arga. "Ada apa? Kenapa kau tiba-tiba gelisah begitu?" selidiknya.


"Sepertinya dukun itu sengaja memanfaatkanmu dan Hery agar Rasya dan anaknya Laras kembali ke Indonesia! Aku tidak akan membiarkan ini. Kau sudah mempercayaiku kan?" tanggap Arga. Terlihat sekali kegelisahan dalam dirinya.


"Entahlah... Aku--"


"Kau tak mau Rasya celaka kan? Maka jangan bawa dia kembali. Kalau kau ingin bersamanya, kau bisa tinggal di sini juga," potong Arga. Dia memegangi salah satu tangan Agni. Berharap perempuan itu luluh dan dapat mempercayainya.


Agni menatap Arga dengan serius. Jujur saja, ingatan bagaimana rasa sakitnya ketika mengalami keguguran, tiba-tiba terlintas.


"Sebelum aku memutuskan, beritahu aku apakah kau memang menumbalkan anak kedua kita?" tanya Agni.


Wajah Arga seketika memucat. Dia menundukkan kepala. Mengingat kematian anak keduanya memang terjadi karena penumbalan.


"Kenapa wajahmu begitu? Apa itu benar?!" desak Agni dengan mata yang menyalang.


"I-itu kesalahan besar yang kulakukan. Aku sudah berusaha untuk menyelamatkan--"

__ADS_1


"Kau keterlaluan!! Tega sekali kau melakukan itu padaku dan anak kita!" Agni mendorong Arga menjauh dengan tatapan bergetar. Suaranya cukup lantang, sehingga menarik perhatian orang-orang sekitar.


"Agni! Kau pikir aku sengaja melakukannya?! Itu terjadi begitu saja!" Arga berusaha menenangkan. Namun dia mendapat penolakan dari Agni. Wanita tersebut menatapnya dengan kebencian dan rasa takut.


"Sepertinya aku tidak bisa mempercayaimu. Rasya harus ikut bersamaku!" kata Agni. Atensinya segera tertuju ke arah Rasya. Anak itu terlihat berjalan menuju ke tempat Agni dan Arga berada.


"Kau tidak bisa! Hak asuhnya masih ditanganku!" tegas Arga. "Lagi pula, bukankah awalnya kau tidak pernah menginginkan Rasya? Kenapa tiba-tiba kau bersikeras ingin bersamanya?"


"Itu tidak penting! Sebagai ibu, aku berhak untuk menjaganya. Aku akan mengajukan hak asuh ulang ke pengadilan!" sahut Agni.


"Kau yakin bisa menjaga Rasya? Untuk sekarang kau mungkin berhasil mengambil hatinya. Tapi tidak tahu nantinya. Apalagi kau selalu mengutamakan pekerjaanmu. Kau selalu sibuk!"


"Itu mudah! Jika terlalu sibuk, aku akan membayar seorang pengasuh untuk menjaga Rasya!"


"Apa kau tahu? Sesibuk apapun aku, aku tidak pernah membayar seseorang untuk mengasuh Rasya." Arga bicara dengan penuh keseriusan.


Arga mendengus kasar. Dia mencoba membujuk Rasya untuk ikut dengannya, tetapi anak itu tak mau. Alhasil dirinya terpaksa mengalah. Mengingat Arga sangat menyayangi Rasya lebih dari apapun. Orang tua sepertinya tak tega membuat anak tersebut sedih.


"Baiklah. Aku akan membiarkan Rasya bersamamu. Tapi berjanjilah kau tidak akan membawanya kembali ke Indonesia!" ujar Arga dengan penuh penekanan.


"Oke." Agni mengangguk. Dia puas bisa mengambil Rasya dari Arga. Setidaknya untuk sekarang.


Arga pun membiarkan Agni pergi bersama Rasya. Mereka akan menginap di hotel sebelum menemukan tempat tinggal untuk menetap.

__ADS_1


Kini Arga merasakan kekecewaan yang sangat mendalam. Dia bahkan berdiri mematung sambil menatap kepergian Rasya dengan nanar. Berharap anak tersebut berubah pikiran dan kembali kepadanya.


...***...


Linda menghentikan mobil tepat di depan gedung apartemen Laras. Kala itu dia tidak bisa mampir karena ada kesibukan.


Laras segera turun dari mobil sambil membawa Adella. Dia melangkah memasuki gedung apartemen. Saat itulah Hery bergerak untuk mengikuti.


Awalnya semuanya berjalan baik-baik saja. Sampai Laras tiba di unit apartemennya, bel pintu berbunyi.


Dengan dahi yang berkerut, Laras periksa kamera interkom sebelum membuka pintu. Betapa kagetnya dia saat melihat orang yang ada di depan pintu adalah Hery.


Laras memilih tidak membuka pintu. Sehingga Hery terus menekan bel tanpa henti.


Buru-buru Laras menghubungi Arga. Dia memberitahukan kedatangan Hery yang sekarang sudah berdiri di depan pintu apartemennya.


"Jangan buka pintunya! Aku akan segera ke sana!" ucap Arga.


Laras menuruti apa yang dikatakan Arga. Dia membiarkan Hery terus mengetuk pintu.


"Laras! Aku tahu kau ada di dalam! Buka pintunya!" pekik Hery dari luar. Suara berisik yang ditimbulkannya membuat Adella menangis histeris. Laras pun berusaha menenangkannya.


"Cepat buka! Kalau tidak, maka aku akan dobrak pintunya!" ancam Hery.

__ADS_1


Laras yang mendengar, merasa takut. Dia memeluk Adella dengan erat. Sungguh, dirinya takut Hery akan merebut anak itu darinya.


Sepuluh menit berjalan. Waktu itu terasa terlalu lama bagi Laras. Karena merasa tidak aman, dia akhirnya memutuskan menelepon satpam gedung apartemen. Laras mengadukan kalau ada seorang lelaki yang mengganggu.


__ADS_2