Impoten : Ritual Bergairah

Impoten : Ritual Bergairah
Bab 59 - Perkembangan Cinta Laras & Arga


__ADS_3

...༻◊༺...


Laras menghentikan cumbuan yang terjadi. Dia melakukannya karena ingin melepas pakaian. Laras juga tak lupa menanggalkan branya. Sekarang perempuan itu bertelanjang dada.


"Aku tahu kau tadi tergoda dengan ini," kata Laras.


"Kau tahu?" Arga terpaku. Dia telan ludah sambil menyentuh buah kembar Laras sekaligus.


"Berhati-hatilah! Kau tahu aku dalam masa menyusui," ujar Laras memperingatkan.


"Aku tahu..." Arga tersenyum, lalu perlahan mulai memagut salah satu buah dada Laras. Perempuan itu reflek mendongak dan memejamkan mata.


Lama-kelamaan, mulai terdengar suara nafas berat dari Arga dan Laras. Gairah keduanya mulai memuncak.


Dengan cepat, Laras melepas kemeja Arga. Ia ingin kulitnya bersentuhan dengan tubuh lelaki tersebut.


"Teruskan, Ga... Aku sangat merindukan momen ini darimu..." lirih Laras.


"Aku akan berusaha membuatmu puas," sahut Arga seraya merebahkan Laras ke sofa. Dia melepas seluruh pakaian perempuan itu hingga tak tersisa.


Laras menatap Arga dengan tatapan sayu. Dia membiarkan lelaki tersebut mencumbu setiap jengkal kulit putih bersihnya. Sambil melakukan itu, jari-jemari Arga bermain di bagian bawah perut Laras. Saat itulah Laras mulai melenguh.


Tubuh Laras menggelinjang ketika puncak kenikmatan merenggut seluruh badannya. Arga memang impoten, tetapi bukan berarti lelaki itu tak mampu memuaskan hasrat. Terlebih Laras mencintai Arga. Keadaan tersebut membuat Laras tak kesulitan menggapai puncak kepuasan.


"Biarkan aku menyentuh milikmu juga," imbuh Laras.


"Kau tidak bisa melakukan apa-apa. Milikku tidak akan bereaksi," sahut Arga. Dia tampak bermandikan keringat. Arga berusaha menahan siksaan gairah yang tak mampu dirinya lampiaskan.


"Aku tak peduli," ucap Laras seraya mengusap wajah Arga yang dipenuhi peluh. Ia bersikeras melepas seluruh celana lelaki tersebut. Mereka lanjut saling mencumbu.

__ADS_1


Malam itu adalah malam yang luar biasa bagi Laras. Dia menikmati kebersamaannya dengan Arga. Sekarang perempuan tersebut terkulai lemas di atas sofa.


Sementara Arga terlihat mengenakan pakaian. Dia harus pulang karena mengingat Rasya yang sendirian di rumah.


"Sampai jumpa besok," pamit Arga. Dia menutupi tubuh polos Laras dengan selimut.


"Andai kau bisa tinggal." Laras memegang lengan Arga.


"Aku harap begitu. Tapi nanti kalau Rasya tahu aku tidak pulang, dia pasti marah," tutur Arga.


Laras yang mengerti, menganggukkan kepala. Dia membiarkan Arga pergi dari apartemennya.


Dalam perjalanan pulang, Arga tak berhenti memikirkan Laras. Perasaannya campur aduk saat memikirkan perempuan tersebut. Ia tentu senang bisa menjalin hubungan dengan Laras, tetapi di sisi lain Arga takut gangguan impotennya akan mengganggu Laras suatu hari nanti.


Bukannya Arga tak mempercayai Laras, dia hanya sedih karena dirinya tak bisa memberikan kebahagiaan pada perempuan tersebut sepenuhnya.


Ponsel Arga tiba-iba bergetar. Dia mendapat pesan dari Laras.


Senyuman mengembang di wajah Arga. Dia lantas membuang segala kekhawatirannya.


"Sudahlah, Ga! Harusnya kau bersyukur Laras mau menerimamu. Kau pantas bahagia!" Arga bermonolog pada dirinya sendiri.


...***...


Satu malam berlalu. Tibalah hari ulang tahun Rasya. Arga sengaja mengundang teman-teman sekolah Rasya agar acara meriah.


Berbeda dengan Laras, Arga tinggal di sebuah rumah berukuran sedang. Rumah tersebut memiliki halaman luas yang ditumbuhi rumput hijau.


Semua dekorasi telah rampung. Hanya tinggal kue ulang tahun yang belum datang.

__ADS_1


"Kau dimana?" Arga menelepon Laras. Memastikan kuenya sudah siap atau tidak.


"Kau tenang saja, aku sedang di jalan. Maaf atas keterlambatanku. Sebentar lagi aku sampai," kata Laras dari seberang telepon.


Selang dua puluh menit kemudian, Laras akhirnya datang. Perempuan itu terlihat cantik sekali dengan make up tipis dan gaun berwarna merah. Laras bahkan memoles bibirnya dengan warna merah merona. Warna yang sangat jarang sekali digunakannya. Tetapi jujur saja, warna itu membuatnya dua kali lebih cantik dari biasanya.


Kue segera diletakkan di atas meja. Rasya yang sejak tadi menunggu, kegirangan menyaksikan kue ulang tahunnya.


Acara ulang tahun pun di mulai. Dari mulai meniup lilin, memotong kue, sampai acara pertunjukkan spesial. Di akhir, Rasya menghabiskan waktu untuk bermain dengan teman-temannya.


Cukup banyak tamu berdatangan. Bahkan rekan kerja Arga dari rumah sakit. Akibat hal itu, Arga jadi kesulitan berinteraksi dengan Laras.


Karena tak mau mengganggu acara Arga, Laras memutuskan untuk membantu beres-beres. Dia membawa piring dan gelas kotor ke wastafel agar bisa dicuci.


Satu per satu tamu Arga pulang. Saat suasana agak sepi, barulah Arga mencari Laras. Dia menemukan perempuan itu sibuk mencuci piring.


Arga berjalan mendekati Laras, lalu memeluknya dari belakang. "Kau cantik sekali hari ini," pujinya.


"Arga!" Laras kaget. Buru-buru dia mencuci dan mengelap tangannya, menghentikan sesi cuci piringnya.


"Aku memang sengaja terlihat cantik untuk menggodamu," sahut Laras.


"Benarkah? Apa itu alasan kau datang terlambat?" selidik Arga sembari memutar tubuh Laras dengan cepat menghadapnya.


"Iya. Kau pasti sangat tergoda kan?" Laras terkekeh. Tawanya makin gelak ketika Arga menghamburkan ciuman ke wajahnya.


"Kau benar! Aku sangat tergoda sekarang. Rasanya aku ingin dibuat mati karenanya," canda Arga yang masih terus menghujami Laras dengan ciuman. Suara kecupan bibirnya memecah kesunyian dalam ruangan.


Di luar, sebuah mobil berhenti di pekarangan rumah Arga. Sosok wanita tidak asing keluar dari sana.

__ADS_1


Rasya yang mengenal wanita itu lantas kegirangan. "Mama!" serunya.


Ya, wanita yang datang tidak lain adalah Agni.


__ADS_2