
...༻◊༺...
"Aku akan ke sana sekarang, Pak. Aku akan jelaskan semuanya secara langsung!" Hery memutuskan panggilan setelah berucap begitu. Dia duduk sambil mengelus dada. Berusaha untuk tenang terlebih dahulu.
"Sayang? Kau baik-baik saja? Kenapa panik begitu?" tanya Fita yang bisa melihat kegelisahan di wajah Hery.
"Bapaknya Laras baru saja menelepon. Katanya Laras pulang dan menangis tersedu-sedu." Hery memberitahukan Fita semuanya.
"Ish! Dia kenapa?" Fita meringiskan wajah karena merasa risih dengan apa yang dilakukan Laras.
"Aku rasa Laras sudah tahu hubungan kita. Pas kemarin aku ke sini, dia ternyata mengikutiku," ungkap Hery.
"Benarkah?" Fita membulatkan mata. Setelah itu dia tersenyum seraya melipat tangan di depan dada. "Tuh! Apa aku bilang, harusnya kau memberitahunya lebih cepat. Sekarang begini kan jadinya? Laras jadi tahu sendiri," tukasnya.
Mendengar Fita berucap begitu, Hery cemberut. Dia menatap kesal perempuan itu. "Kalau kau mencintai suamimu, harusnya kau mengatakan sesuatu yang membuatku merasa lebih baik. Ini malah sebaliknya!" geramnya, lalu beranjak dari hadapan Fita. Hery ingin segera pergi ke rumah mertuanya.
Fita kali ini tidak menghentikan. Dia justru senang hubungannya dan Hery sudah diketahui Laras.
Perlu waktu sekitar satu jam lebih untuk sampai di tempat tujuan. Hery tiba di rumah orang tua Laras. Wajah sangar Dani langsung menyambut.
Meski takut, Hery berusaha bersikap sopan. Dia menyalami tangan Dani dan Wina secara bergantian.
"Mana Laras, Pak? Biarkan aku bicara padanya," ujar Hery.
"Tidak! Kau harus bicara dengan--"
__ADS_1
"Pak, sudah. Ini urusan rumah tangga Laras dan Hery. Biarkan mereka mengurusnya terlebih dahulu." Wina memotong ucapan Dani. Sebagai mertua, dia sangat tahu bagaimana harus bersikap.
"Pergilah ke kamar! Laras ada di sana. Selesaikan semua urusan kalian," ucap Wina. Walau membantu Hery dari omelan Dani, bukan berarti dia tidak kesal pada sang menantu. Raut wajah Wina sangat serius saat menatap Hery.
"Baik, Bu." Hery segera mendatangi Laras ke kamar. Kebetulan sekali pintunya tidak dikunci oleh Laras.
"Sayang?" panggil Hery.
Laras yang telentang, membelalakkan mata. Dia kaget menyaksikan kedatangan Hery.
"Mau apa kau ke sini?!" timpal Laras.
Hery langsung berlutut di depan Laras. Dia memegangi tangan perempuan itu.
"Maafkan aku... Aku harusnya mengatakan semuanya sejak awal..." lirih Hery penuh sesal. Perlahan air matanya berjatuhan.
"Apa kau memiliki anak bersama perempuan itu?" tanya Laras sambil memasang tatapan kosong.
Hery mengangguk dan berucap, "Maafkan aku..."
"Sudah berapa tahun anak perempuan itu?" Laras kembali bertanya.
Hery menatap Laras dengan nanar. Dia tak punya pilihan selain menjawab, "Dia berusia tujuh tahun..."
"Jadi selama tujuh tahun lebih kau menyimpan semuanya? Aku pasti terlihat bodoh sekali di matamu..." Dengan wajah datar, air mata Laras berjatuhan tetes demi tetes.
__ADS_1
"Semuanya terjadi begitu saja. Aku tetap bersamamu karena masih mencintaimu. Aku harap kau bersedia menerima semua ini. Kita bisa hidup bahagia bersama. Lagi pula aku juga harus merawat bayi dalam perutmu kan?" ujar Hery tak tahu malu. Sudah berbuat salah, dia sekarang meminta Laras setuju untuk dimadu.
Laras tergelak. Masalah yang ada sekarang, nyaris membuat dia gila. "Hidup bahagia kau bilang? Kau ingin aku tinggal bersama wanita itu?!" timpalnya.
"Ya, lagi pula kau juga membutuhkanku kan? Kau tidak bekerja dan hanya memiliki uang dari nafkah yang kuberikan." Hery merasa percaya diri berkata begitu. Mengingat dia mempunyai kekayaan yang mampu membuat Laras hidup enak sampai sekarang.
"Kau pikir uangmu bisa membuatku bahagia?" tanggap Laras. Dia menarik tangannya dari genggaman Hery, kemudian berdiri dan menjauh dari lelaki itu.
"Nggak! Aku lebih baik hidup sendiri dibanding harus tinggal bersamamu dan wanita itu!" tegas Laras.
"Jadi kau ingin menceraikanku?" Hery menyimpulkan.
"Awalnya aku sempat berpikir ingin memaafkanmu. Tapi mendengar kau mengatakan hal tidak tahu malu begini, aku harus berubah pikiran!" jelas Laras.
"Apa kau yakin? Bukan kah kita sudah hampir mewujudkan mimpi kita selama ini? Kau hamil sekarang! Hamil anakku!" balas Hery.
"Bagaimana kalau aku bilang ini bukanlah anakmu?" Entah kenapa Laras tiba-tiba berucap begitu.
"Aku tidak akan percaya! Kau mengatakan itu karena sedang marah sekarang." Hery ternyata tidak mempercayai pengakuan Laras. Dia mencoba mendekati Laras kembali. "Ayolah, Laras. Aku mencintaimu. Aku tidak ingin berpisah denganmu," mohonnya bersungguh-sungguh.
Meski tega berselingkuh dengan Fita, Hery mencintai Laras. Itulah alasan kenapa Hery masih mempertahankan Laras hingga sekarang. Kebaikan dan kelembutan hati Laras selalu membuat Hery merasa tenang. Sebenarnya dia terkadang menyesal karena sudah mengkhianati perempuan itu. Terlebih Fita memiliki mulut yang blak-blakkan. Sikap yang berbanding terbalik dengan Laras.
"Pergilah! Aku ingin sendiri sekarang!" usir Laras seraya membuang muka.
"Tapi aku--"
__ADS_1
"PERGI!!" tegas Laras dengan keadaan wajah yang memerah padam. Itu semua tentu karena perasaan marah yang menyesak di dada.
Hery lantas pergi dari kamar Laras. Saat itulah Laras runtuh ke lantai. Dia menangis sejadi-jadinya.