
...༻◊༺...
Mobil bergoyang akibat kegiatan intim yang dilakukan Arga dan Laras. Mereka sudah tidak tahu tempat dan suasana yang menggelap. Memang terkadang nafsu bisa semengerikan itu.
Setelah selesai, Arga dan Laras mengenakan pakaian masing-masing. Keduanya duduk menyandar di kursi mobil.
"Sepertinya aku tidak akan menutup mataku lagi saat ritual nanti," celetuk Laras.
"Aku juga tidak akan menyuruhmu memakai topeng," tanggap Arga sembari terkekeh.
Hening menyelimuti suasana. Laras dan Arga sama-sama memiliki pemikiran tersendiri.
"Aku tidak pernah melakukan hal segila ini dalam hidupku," ungkap Arga.
"Benarkah? Kalau begitu kita sangat mirip. Jujur saja, sejak kecil aku adalah anak yang disiplin," tanggap Laras.
"Sama! Aku juga begitu. Aku bahkan tidak pernah mencontek saat ujian," kata Arga.
"Wah! Apa kau serius? Tidak pernah mencontek? Kau lebih parah dariku," sahut Laras. Dia dan Arga sontak tergelak bersama. Selain nyaman dalam segi gairah, mereka juga mulai nyaman terhadap kepribadian satu sama lain.
"Mengenai rumah yang harus kita bangun untuk Mbah Seno, aku rasa kita harus mengurusnya secepat mungkin," imbuh Laras.
"Aku tahu. Nanti aku akan mengabarimu kalau sudah menemukan kuli bangunan," ucap Arga.
"Kau mencari orang di dekat lokasinya bukan?"
"Iya. Aku juga akan membeli villa di dekat sana agar bisa mengontrol semuanya. Aku akan mengambil cuti agar bisa tinggal di sana beberapa hari." Arga perlahan menjalankan mobil. Dia dan Laras menyusuri jalanan kembali.
__ADS_1
"Cuti? Kau akan bilang apa pada istrimu? Dia pasti akan curiga." Laras merasa cemas.
"Itu tidak masalah. Kebetulan dia sekarang sedang mengidam tidak ingin melihatku."
Pupil mata Laras membesar. "Aku juga merasa begitu saat melihat suamiku sekarang!" ujarnya.
"Benarkah? Berarti sekarang kau menyuruh Hery tidur jauh darimu?" tebak Arga.
"Iya. Aku merasa mual saat melihatnya. Itu aneh sekali bukan? Kau punya masalah apa dengan darah dagingmu," balas Laras seraya memegangi perut. Dia tertawa kecil.
"Mungkin semua anakku punya naluri waspada yang tinggi." Arga menanggapi sambil ikut terkekeh bersama Laras.
Tawa kecil Laras segera pudar ketika dirinya merasa aneh dengan suasana sekarang. Bisa-bisanya dia tertawa bersama lelaki yang menghamilinya tanpa ikatan. Sementara di sisi lain, suaminya begitu mengkhawatirkannya.
"Ngomong-ngomong, kau bisa sesekali memeriksa proses pembangunan rumah Mbah Seno. Aku akan mengirimkan alamat villaku nanti padamu," kata Arga.
Arga hanya mengantarkan Laras sampai kliniknya. Mengingat mobil perempuan itu terparkir di sana. Mereka tiba di kota saat subuh.
Laras pulang dengan mengemudi sendiri sampai ke rumah. Setibanya di rumah, dia tersenyum menyaksikan mobil Hery. Buru-buru Laras masuk ke rumah dan mencari sang suami.
Langkah Laras terhenti ketika mendengar Hery bicara di telepon. Dia memilih bersembunyi karena pembicaraan lelaki itu terdengar mencurigakan.
"Harus berapa kali aku bilang padamu untuk bersabar?! Aku berjanji akan memberitahu Laras saat dia melahirkan nanti!" ujar Hery. Dia sedang berdiri di teras kolam renang. Berdiri dengan semburat wajah cemberut.
Hery sebenarnya sedang bicara dengan Fita. Perempuan yang tidak lain adalah istri keduanya.
"Bukankah itu terlalu lama? Kau pikir aku tidak kena mental terus merahasiakan semua ini?!" sahut Fita dari seberang telepon.
__ADS_1
"Aku harap sekarang bisa melakukan apapun untukmu, agar kau berhenti merengek begini," ujar Hery. Dia berusaha membujuk Fita agar berhenti memprotes.
"Benarkah? Kau mau melakukan apapun? Kalau begitu bermalamlah besok selama tiga hari full bersamaku!" tantang Fita. Meski lebih diutamakan dibanding Laras, dia tentu tetap merasa kurang. Memiliki seseorang tanpa seutuhnya tidak akan pernah memuaskan setiap manusia.
"Itu..."
"Lihat! Kau bahkan ragu untuk hal sepele begitu. Aku--"
"Baiklah! Aku akan bersamamu selama tiga hari penuh! Apa kau puas?" Hery memilih menyanggupi permintaan Fita.
"Puas sekali. Kau bisa memberi alasan pada Laras kalau kau ada dinas keluar kota."
"Ya, tentu."
Pembicaraan Hery dan Fita berakhir. Laras yang sejak tadi menguping, hanya bisa mendengar perkataan Hery. Semua itu tentu masih ambigu baginya. Namun pembicaraan yang paling menarik perhatian Laras adalah tentang kepergian Hery selama tiga hari.
"Dia akan pergi kemana selama tiga hari?" gumam Laras pelan. Dia memilih akan memikirkannya nanti. Untuk sekarang, Laras segera menghampiri Hery dan menyembunyikan segala kecurigaan.
Rasa mual itu kembali tatkala Laras melihat Hery. Semuanya jadi tambah parah ketika lelaki tersebut mendekat.
"Sepertinya aku harus menutupi wajahku ketika berhadapan denganmu," kata Hery sembari mengambil sebuah buku. Lalu menggunakannya untuk menutupi wajah.
"Maafkan aku, Mas... Aku tidak tahu kenapa aku jadi begini," ucap Laras yang merasa tidak enak.
"Tidak tahu kau bilang? Jelas ini karena kehamilanmu. Aku akan mencoba memahaminya," tanggap Hery. "Oh iya, kebetulan besok aku ada dinas keluar kota. Sepertinya akan memakan waktu sekitar tiga harian. Lagi pula kau sedang tak ingin melihatku, pergi darimu sepertinya adalah pilihan yang bagus kan?" lanjutnya.
"Tiga hari?" Anehnya topik mengenai tiga hari tersebut sangat mengganggu Laras. Firasatnya mengatakan bahwa itu adalah hal buruk.
__ADS_1