
...༻◊༺...
Saat asyik-asyiknya bermesraan, suara tangisan Adella terdengar. Laras pun bergegas beranjak dari ranjang. Dia tak lupa memungut pakaian yang ada di lantai.
"Apa kau punya bathrobe?" tanya Arga seraya ikut turun dari ranjang. Dia mengenakan celana dan menggendong Adella lebih dulu. Kebetulan ranjang kecil anak itu berada di kamar yang sama dengan tempat Laras dan Arga berada.
"Dasar mesum!" cibir Laras yang paham dengan maksud pertanyaan Arga.
Arga terkekeh. "Ayolah! Aku ingin terus melihat badan seksimu itu. Iyakan, Adella? Mamamu seksi kan?" ucapnya.
Laras geleng-geleng kepala. Meskipun begitu, dia menuruti keinginan Arga. Laras ambil bathrobe berbahan kain satin dari lemari, lalu dipakainya. Setelah itu, dia menatap Arga. Lelaki tersebut berhasil membuat Adella berhenti menangis. Laras dibuat terpaku olehnya.
"Sepertinya Adella tahu kalau kau adalah ayahnya," imbuh Laras sembari mendekat.
"Aku rasa ikatan batin akan selalu dimiliki seorang anak dan orang tua," tanggap Arga sambil menimang-nimang Adella dalam gendongannya. Dia dan Laras sama-sama memandangi Adella.
Saat itulah Arga terpikirkan sesuatu. Ia berucap, "Laras... Kita tidak bisa menjalani hubungan begini terus kan?"
"Maksudmu?" Laras tak mengerti.
"Maksudku hubungan tanpa ikatan. Bukankah rasanya tidak enak?" terang Arga.
"Apa kau membicarakan tentang pernikahan?" Laras menebak.
Arga segera mengangguk. "Ayo kita menikah!" ajaknya.
Semburat wajah Laras tampak sedikit terkejut. Dia tidak menyangka Arga akan membicarakan pernikahan secepat ini.
__ADS_1
"Bukankah terlalu cepat? Apalagi kau perlu persetujuan Rasya untuk melakukannya. Aku rasa dia akan sulit didekati karena kejadian kemarin," ucap Laras.
"Aku bisa membujuknya pelan-pelan. Aku juga akan membantumu dekat dengan Rasya." Arga meletakkan Adella ke ranjang. Anak itu sudah kembali tidur dengan cepat.
Laras terdiam seribu bahasa. Dia merasa tidak percaya diri bisa mendekati Rasya. Terlebih anak tersebut tampak sangat dekat dengan Agni.
"Laras, aku juga ingin merawat Adella bersamamu. Dia juga anakku," tutur Arga. Dia memegangi pundak Laras. Menatap perempuan itu dengan penuh cinta.
Laras pun tersenyum. Dia dapat melihat ketulusan Arga. Hal tersebut memberi keyakinan ke hatinya. Alhasil Laras menganggukkan kepala.
"Baiklah. Ayo kita lakukan!" kata Laras.
Arga ikut tersenyum. Dia sangat bahagia hingga senyumannya menunjukkan deretan giginya yang rapi. Arga langsung berpelukan dengan Laras.
"Kau sebaiknya pulang. Rasya pasti mencarimu," saran Laras.
"Oke. Sebentar lagi. Menghabiskan waktu denganmu rasanya tak ada habisnya," ungkap Arga.
"Sebelum pulang, aku mau mandi dulu bersamamu." Arga berucap begitu seraya menggendong Laras. Dia mengangkat perempuan itu ke pundak. Laras dibuat seperti karung beras olehnya.
"Arga!" Laras hanya bisa tertawa dengan ulah Arga. Apalagi saat lelaki itu iseng menepuk-nepuk pantatnya pelan. Mereka segera menghilang dari balik pintu kamar mandi. Keduanya lanjut bermesraan di pagi hari.
...***...
Setelah mendengar informasi dari Hery, Agni dibuat syok. Dia duduk mematung di sofa. Memikirkan segala apa yang sudah dilakukan Arga terhadapnya. Agni sampai tak bisa tidur semalaman karena memikirkannya.
"Tega sekali dia. Bisa-bisanya dia menumbalkan anak sendiri agar bisa sembuh!" gumam Agni penuh kekesalan. Dia memegangi perutnya. Mata Agni mulai berembun.
__ADS_1
Jujur saja, setelah Agni mengalami keguguran anak kedua, dia divonis tidak akan bisa hamil lagi. Itu karena keguguran yang dia alami cukup parah. Terlebih semuanya terjadi saat Agni hamil tua.
Agni yang tadinya ingin rujuk dengan Arga, mengurungkan niat. Ia bertekad akan membawa Rasya pergi bersamanya.
Buru-buru Agni mengambil tas dan memasukkannya ke mobil. Selanjutnya, dia mendatangi Rasya ke kamar. Agni membangunkan anak itu.
"Kenapa, Ma? Bukankah ini hari minggu?" ujar Rasya sembari mengucek matanya. Dia mengira Agni membangunkannya untuk sekolah.
"Nggak, Sya. Kau harus ikut Mama sekarang!" kata Agni. Dia memaksa Rasya turun dari ranjang, lalu memakaikannya jaket.
"Kita mau kemana?" tanya Rasya. Ia heran melihat Agni memasukkan pakaiannya ke dalam tas. Sang ibu seolah-olah akan membawanya pergi jauh.
"Kita akan pulang ke Indonesia. Kau pasti rindu dengan tanah kelahiranmu kan?" tanggap Agni.
"Benarkah? Kita akan kembali?" Rasya merasa bersemangat. Dia tentu menyukai tanah kelahirannya dibanding apapun. Rasya juga memiliki lebih banyak teman di sana.
"Iya!" Agni sudah selesai memasukkan pakaian Rasya ke tas. Dia segera menarik tangan sang putra agar bisa cepat-cepat pergi.
"Tapi apa aku bisa langsung pergi begini? Apa aku tidak perlu mandi?" tanya Rasya dengan polosnya. Walaupun begitu, dia berusaha mengikuti langkah cepat ibunya.
"Tidak perlu. Mama sudah terlanjur memesan tiket pesawat tercepat," kata Agni. Dia dan Rasya kini sudah masuk ke mobil.
Rasya yang sadar ayahnya tidak ada, sontak merasa heran. "Mana Papa? Dia ikut bersama kita kan?" tanyanya.
"Sya, ada sesuatu yang harus kau tahu tentang Papamu." Agni memutuskan fokus bicara dengan Rasya sebelum benar-benar pergi.
"Papa kenapa?" Rasya menuntut jawaban. Dia menatap cemas.
__ADS_1
Agni memecahkan tangis. Dia merasa sangat tersakiti dengan ulah Arga. Ya, setidaknya begitulah yang dirinya rasakan sekarang.
"Mama kenapa? Jangan menangis, Ma..." Rasya otomatis mengkhawatirkan Agni.