
...༻◊༺...
Arga mendatangi toko kue dimana Laras bekerja. Dia tersenyum saat melihat perempuan yang dicarinya memang ada di sana. Dengan langkah cepat Arga menghampiri.
Laras tampak berada di teras belakang toko. Dia menemani Adella untuk berjemur.
"Laras!" sapa Arga.
Laras langsung menoleh. Namun raut wajahnya begitu datar. Bahkan tak ada senyuman pun yang terukir di sana.
"Kau masih marah padaku?" tanya Arga baik-baik.
"Aku tidak marah. Aku hanya realistis. Aku tidak bisa berhubungan denganmu lagi kalau urusanmu dan Agni belum selesai," jawab Laras tanpa menatap lawan bicara.
"Dengar! Aku dan Agni sudah bercerai. Dia datang ke sini karena Rasya. Aku tak bisa apa-apa jika semuanya menyangkut anak," jelas Arga panjang lebar.
"Kalau begitu selesaikan lah dulu. Aku tak mau mengganggu," tanggap Laras datar.
"Tidak. Kau sama sekali tidak mengganggu. Aku dan Agni hanya menjalankan kewajiban sebagai orang tua, bukan pasangan." Arga berusaha keras meyakinkan Laras.
"Apa itu mengartikan kalau kalian akan terus bersama demi Rasya?" Laras memastikan.
"Bisa dibilang begitu. Aku dan Agni harus bersikap seolah baik-baik saja. Aku harap kau bisa memahaminya," ujar Arga.
"Tentu aku bisa memahaminya. Karena itulah aku ingin kau fokus pada Rasya. Kita tidak bisa egois, Ga. Rasya tidak bisa terus menjadi korban keegoisan kita," sahut Laras.
"Tapi bagaimana kalau orang yang sekarang egois itu adalah Agni? Aku rasa dia sengaja mempengaruhi Rasya agar bisa rujuk denganku." Arga mengungkapkan segala dugaannya.
"Ga, aku punya kehidupanku sendiri untuk di urus. Aku tak mau ikut campur dengan urusan keluargamu. Bisakah kau pergi sekarang?" pungkas Laras. Dia sepertinya bersikeras ingin menghindari Arga. Kehadiran Agni benar-benar mengganggunya.
Bersamaan dengan itu, ada pelanggan yang datang. Laras pun bergegas pergi meninggalkan Arga. Perempuan tersebut tak lupa membawa Adella bersamanya.
__ADS_1
"Laras, aku--" Arga jadi kesulitan bicara pada Laras. Dia mendengus kasar dan memilih menunggu. Arga tak mau bolos kerjanya menjadi sia-sia. Ia harus bisa meyakinkan Laras.
Kala itu Arga terus mencuri kesempatan untuk bicara pada Laras. Namun Laras tidak menghiraukan dan selalu saja sibuk dengan sesuatu. Perempuan tersebut bahkan menolak bantuan Arga yang ingin mengurus Adella untuk dirinya.
"Tidak usah! Aku sudah terbiasa mengurus Adella sambil bekerja," tegas Laras. Agar Arga tidak memaksa, dia buru-buru menggendong Adella.
Arga kembali duduk di salah satu kursi tunggu. Kehadirannya yang tak kunjung beranjak dari toko, membuat Erika curiga.
"Apa dia kenalanmu?" tanya Erika.
"Entahlah," jawab Laras singkat.
"Kenapa kau menyiksanya begini? Harusnya kau bicara dan selesaikan masalah kalian," saran Erika.
"Meski bicara sampai 24 jam, masalahnya tidak akan selesai," sahut Laras. "Ya sudah, aku akan membeli bahan-bahan ke super market. Aku akan membuat kuenya di rumah saja," sambungnya.
Erika memicingkan mata. "Kau pasti sengaja ingin cepat pergi karena lelaki itu. Apa dia mantan suamimu?" selidiknya.
"Bukan!" Laras kembali menjawab singkat. Dia langsung pergi sebelum Erika melontarkan pertanyaan lain.
"Kau mau kemana? Biar aku antarkan pakai mobil," tawar Arga.
"Tidak usah. Aku terbiasa jalan kaki," tolak Laras. Dia tiba-tiba berhenti melangkah dan memutar tubuh menghadap Arga. Dirinya mendapat ide untuk lari dari lelaki tersebut.
"Kau mau aku tetap bersamamu kan?" tanya Laras.
Arga mengangguk. "Aku akan melakukan apapun agar kau tetap di sisiku," katanya.
"Belikan aku minuman segar di cafe itu." Laras menunjuk sebuah cafe di seberang jalan.
"Hanya itu?" Arga sedikit kaget mendengar permintaan Laras yang begitu sederhana.
__ADS_1
"Iya. Aku kehausan," tanggap Laras.
"Baiklah. Aku akan segera kembali." Seperti kerbau yang di cucuk hidungnya, Arga segera menyeberang jalan dan masuk ke cafe yang ditunjuk Laras. Saat itulah Laras pergi meninggalkan Arga.
Kala itu cuaca sangat mendung. Laras yakin sebentar lagi hujan akan turun. Jika hujan turun, maka otomatis Arga tidak akan mengejarnya lagi. Laras yakin lelaki tersebut akan pulang.
Benar saja, hujan turun beberapa menit kemudian. Itu bertepatan saat Arga keluar dari cafe. Dia mengedarkan pandangan ke segala arah. Mencoba mencari keberadaan Laras.
Arga bisa saja kembali ke depan toko kue untuk mengambil mobil, namun dia merasa tidak akan bisa menemukan Laras. Dia pun menerobos hujan dan mencari Laras dengan berjalan kaki.
Nihil, Arga tidak bisa menemukan Laras dimana-mana. Dia yang lelah, duduk istirahat sebentar.
Puas beristirahat, Arga kembali mencari Laras. Dia juga tak lupa menghubungi perempuan tersebut dengan telepon. Tetapi nomor Laras dalam keadaan tidak aktif.
Arga melakukan pencarian sampai larut sore. Kira-kira sekitar tiga jam lamanya. Untung saja hujan tidak turun terlalu deras.
"Mungkinkah dia pulang?" gumam Arga. Dia terpikir begitu karena melihat gedung apartemen Laras dari kejauhan. Arga akhirnya memutuskan mendatangi kediaman Laras. Berharap perempuan itu ada di sana.
Bel pintu ditekan oleh Arga. Laras yang ternyata memang sudah pulang, bergegas menghampiri pintu. Ia bisa melihat Arga dari kamera interkom.
Laras memang mencoba menghindari Arga. Tetapi hatinya tak tega ketika melihat lelaki itu tampak menyedihkan. Arga terlihat basah kuyup sambil membawa minuman yang dibelikannya untuk Laras. Sepertinya apa yang dilakukan Arga sukses membuat hati Laras luluh.
Perlahan Laras buka pintu. Dia menatap Arga sembari menggelengkan kepala.
"Ini minumanmu," kata Arga sembari tersenyum. Dia menyodorkan minuman pembeliannya pada Laras.
"Kau membuatku kesulitan menolak," ungkap Laras.
"Perempuan yang aku inginkan sekarang hanyalah kau! Aku tidak hanya ingin membuktikan keseriusanku padamu, tapi aku juga ingin membuktikan bahwa hanya kau satu-satunya perempuan yang bisa membuat adikku sembuh," pungkas Arga.
"Adik?" Laras mengerutkan dahi.
__ADS_1
Arga tak menjawab dengan mulut. Dia menjawab dengan cara menatap ke bawah. Tepat ke arah organ intimnya.
"Ah... Itu..." Laras tergelak lepas.