Impoten : Ritual Bergairah

Impoten : Ritual Bergairah
Bab 44 - Perang Laras & Fita


__ADS_3

...༻◊༺...


'Andai aku dan Mas Hery punya anak, apa wajahnya akan seperti ini?' Laras masih sempat-sempatnya berandai dalam hati. Dia bahkan masih berpikir kalau perselingkuhan yang dilakukan Hery terjadi karena dirinya.


Rista hanya menatap Laras sejenak. Dia segera beranjak ke kamar. Namun Laras mencegatnya.


"Hei! Siapa namamu?" tanya Laras ramah.


"Rista. Tante siapa?" balas Rista dengan wajah polosnya.


"Aku..." Laras bingung harus mengakui dirinya siapa. Mengingat keadaan begitu sulit sekarang. "Aku seorang teman!" lanjutnya. Menjawab dengan ambigu.


"Teman?" Rista mengerutkan dahi sambil berpikir. "Temannya Mamah?" tebaknya.


Laras lantas mengangguk saja. Tak lama kemudian Fita datang sambil membawakan nampan berisi kopi pesanan Laras. Wanita itu menyuruh Rista masuk ke kamar. Sementara dirinya duduk ke sofa untuk menghadapi Laras.


"Kau sudah dapat minumanmu. Sekarang bisakah kau beritahu maksud kedatanganmu ke sini?" tanya Fita.


Laras tersenyum sambil memasukkan tangan ke dalam tas. Dia merekam pembicaraannya dan Fita.


"Aku ingin memastikan hubunganmu dan Mas Hery. Kalian--"


"Aku rasa semuanya sudah jelas. Kau bisa melihat foto pernikahan kami di dinding itu bukan?" potong Fita dengan senyuman angkuh.

__ADS_1


"Tentu saja. Tapi kapan kalian menikah?" balas Laras.


"Tujuh tahun yang lalu mungkin. Sebenarnya awalnya aku dan Mas Hery hanya bersenang-senang. Sampai akhirnya aku hamil," jelas Fita antusias.


Laras sudah mengangakan mulut karena hendak bicara. Namun didahului oleh Fita yang terus menceritakan kisah romantisnya dengan Hery.


"Apa kau tahu? Mas Hery tidak seperti lelaki lain. Dia malah bahagia mendengarku hamil! Lucu kan? Soalnya tidak semua lelaki bersikap begitu pada simpanannya. Mas Hery langsung menikahiku saat itu. Sepertinya dia sangat senang bisa punya anak," ujar Fita yang tak memperdulikan Laras sama sekali.


"Oh iya. Aku hamil anak kedua sekarang!" tambah Fita sambil memegangi perut.


Laras terdiam seribu bahasa. Dia hanya bisa meremas dressnya sekuat tenaga. Mencoba menahan amarah yang begitu melonjak. Ingin rasanya dia menjambak rambut dan menampar wajah Fita.


Laras menarik nafasnya dalam-dalam. Dia bersiap memberi tanggapan yang menohok.


"Aku senang mendengarnya. Rumah tangga kalian pasti begitu membahagiakan. Tapi sayang, kalian harus melakukannya secara sembunyi-sembunyi. Mas Hery menikahimu secara siri kan?" tukas Laras.


"Mas Hery akan segera mendaftarkan pernikahan kami ke negara! Toh kau sudah tahu tentang hubungan kami sekarang. Jadi kami tidak perlu sembunyi lagi," sahut Fita seraya menyilangkan tangan ke depan dada. "Jadi apa pilihanmu? Kau akan menceraikan Mas Hery kan?" timpalnya.


Laras membuang muka sejenak. Dia tidak menjawab pertanyaan Fita dan memilih merubah topik pembicaraan. "Aku penasaran dengan pandangan publik terhadap hubungan kalian," kata Laras sembari berdiri. Dia bersiap untuk pergi.


Fita tersenyum miring. "Harusnya kau mengkhawatirkan dirimu sendiri. Mas Hery selalu mengutamakanku. Kau harus tahu kalau lembur adalah alasannya untuk menemuiku," balasnya.


Laras tidak menanggapi. Dia mematikan rekaman dari ponselnya. Sebab ada sesuatu yang sejak tadi ingin Laras lakukan.

__ADS_1


"Aku kasihan padamu. Kata Mas Hery kau selalu menunggunya setiap hari sampai tidur di sofa." Fita kembali berimbuh.


"Ya, aku pasti terlihat bodoh sekali di matamu," sahut Laras. Dia mengambil kopi yang belum sempat disentuhnya.


"Aku tak bisa membantah. Kau memang bodoh sekali. Bagaimana bisa kau tidak mengetahui Mas Hery bermain di belakangmu selama bertahun-tahun?" Fita menggeleng sampai memperlihatkan deretan giginya. Sungguh, itu ekspresi yang sangat menyebalkan.


Laras mengeratkan rahangnya. Dia menyiram kopi tepat ke arah Fita. Sejak tadi Laras sengaja mendinginkan kopi tersebut agar tidak terlalu panas. Ya, setidaknya dia memiliki hati nurani.


"Aaaarkhh! Apa yang kau lakukan?!" geram Fita sambil menghentakkan sebelah kakinya.


"Maaf. Sejak awal kopi ini sebenarnya untukmu. Kau tadi bilang hidupku sekarang pahit kan? Setidaknya aku bisa memberitahumu rasanya," ujar Laras. Dia bergegas pergi meninggalkan kediaman Fita. Wanita itu kesal dan meneriakkan sumpah serapah sampai Laras beranjak dengan mobil.


Laras terlihat tangguh saat di hadapan Fita. Namun saat dia sudah jauh dari wanita itu, dirinya kembali rapuh. Laras bahkan menepikan mobilnya agar bisa menangis sepuas mungkin.


Hening menyelimuti suasana. Isakan tangis Laras yang membanjiri wajah, terus berderai. Dia tak menyangka, rumah tangganya akan menjadi berantakan seperti sekarang.


Di waktu yang sama, Agni mendatangi rumah Sari. Kedatangannya disambut oleh Rasya terlebih dahulu.


"Mama!" Rasya berseru senang. Anak kecil yang tak tahu apa-apa itu, mengira kedatangan ibunya adalah pertanda kalau dia dan keluarganya akan bersenang-senang.


"Rasya!" Agni segera memeluk Rasya.


Bersamaan dengan itu, Arga muncul. Dia dan Agni saling menatap datar.

__ADS_1


"Rasya! Ayo main pesawatan lagi. Papa sudah memperbaikinya untukmu," ujar Arga. Sengaja ingin memisahkan Rasya dari Agni. Putranya tersebut pun segera beranjak.


"Mas! Aku--" Agni hendak bicara pada Arga. Namun lelaki itu tidak menghiraukannya sama sekali. Dahi Agni berkerut heran.


__ADS_2