Impoten : Ritual Bergairah

Impoten : Ritual Bergairah
Bab 62 - Demi Anak


__ADS_3

...༻◊༺...


Arga terpaku melepas kepergian Laras. Padahal rencananya dia ingin mengajak perempuan itu bermain bersamanya dan Rasya. Arga berniat mendekatkan Laras dengan sang putra, akan tetapi semuanya tidak berjalan sesuai yang dirinya harapkan.


Dengan terpaksa Arga masuk ke rumah. Dia melihat Agni dan Rasya sedang mengobrol. Arga bergegas mendekat, sebab Agni terlihat terus mengatakan sesuatu pada Rasya.


"Rasya! Ayo kita buka hadiahnya!" Arga mendekat. Dia berusaha menarik putranya menjauh dari Agni. Namun Rasya tidak meraih uluran tangan Arga. Anak itu justru menatapnya dengan serius.


"Apa benar yang dikatakan Mama?" tanya Rasya.


Mendengar Rasya berucap begitu, Arga langsung menatap Agni. "Apa yang kau katakan padanya?" timpalnya.


"Aku hanya mengatakan yang seharusnya," tanggap Agni.


"Aku nggak mau Mama diganti sama orang asing! Aku nggak mau Mama baru!" pekik Rasya.


Mata Arga membulat sempurna. Sekarang dia tahu apa yang sudah dikatakan Agni pada Rasya. Jelas Agni membicarakan tentang Laras.


Arga ingin sekali memarahi Agni. Namun dia tentu tidak bisa melakukannya di hadapan Rasya. Terlebih putranya tersebut sudah termakan ucapan Agni. Arga memilih fokus menenangkan Rasya terlebih dahulu.


"Rasya... Kau bicara apa?" tanya Arga lembut, sambil memegangi pundak Rasya.


"Kata Mama, Papa akan menggantikan Mama sama Tante Laras! Aku nggak mau, Pa! Di dunia ini hanya satu Mama aku! Nggak ada satu pun yang bisa menggantikannya!" tegas Rasya.


"Sya... Kau sebaiknya tenang dahulu ya." Arga berusaha menenangkan. Namun tangannya dijauhkan oleh Rasya dengan kasar.


"Kenapa Papa nggak menjawab? Apa itu benar, Pa?!" tanya Rasya.


Arga ingin sekali menjawab. Tetapi posisinya sekarang seolah mengharuskannya untuk mengatakan kalau semuanya tidak benar. Jika Arga mengakui hubungannya dengan Laras, maka Rasya pasti akan semakin marah.

__ADS_1


"Tidak. Jangan berpikiran aneh-aneh. Yang jelas Papa nggak akan meninggalkan kamu." Arga berusaha memberikan jawaban terbaiknya. Untuk sekarang dia masih mampu menahan luapan amarah.


"Papa tetap tidak menjawabnya, Sya!" ucap Agni. Perkataannya itu seolah seperti menuang bensin ke kobaran api.


Mata Arga langsung melotot. Dia akhirnya tidak bisa lagi meredam pitamnya.


"TUTUP MULUTMU!" geram Arga. Rasya dan Agni dibuat tersentak kaget olehnya. Bagaimana tidak? Mereka tak pernah melihat Arga semurka itu.


"Arga!" Agni memekik. Menurutnya Arga berlebihan. Dia berdiri dan saling berhadapan dengan sang mantan suami.


"Kau sebaiknya pergi dari sini!! Kedatanganmu menghancurkan segalanya!" timpal Arga. Wajahnya memerah karena marah.


Agni terperangah. "Kau menganggapku begitu karena aku sudah menggganggu kegiatanmu dan Laras di dapur kan?! Senikmat itukah jallang itu? Sampai dia mampu membuatmu beringas begitu?!" balasnya.


"CUKUP! Jangan sampai tanganku melayang ke wajahmu!" pekik Arga.


Melihat Arga dan Agni bertengkar, Rasya menangis histeris. Anak kecil sepertinya tentu merasa takut saat melihat orang tuanya bertengkar. Apalagi itu pertama kalinya Rasya melihatnya.


"Rasya..." Arga dan Agni otomatis sama-sama cemas. Mereka mencoba mendekati Rasya, namun anak itu menggeleng dan langsung berlari ke kamar.


Bruk!


Saat masuk ke kamar, Rasya tak lupa menutup pintu. Arga dan Agni bergegas mengejarnya. Mereka mencoba membuka pintu, tetapi Rasya sudah menguncinya dari dalam.


"Rasya? Bisakah buka pintunya? Papa ingin bicara padamu," kata Arga sambil mengetuk beberapa kali. Namun tak ada jawaban sama sekali dari Rasya. Hanya ada suara raungan tangis dari anak tersebut.


"Sya? Mama sama Papa tadi melakukan kesalahan. Kami sudah berbaikan sekarang. Kami janji tidak akan begitu lagi," ujar Agni.


Hening menyelimuti suasana. Suara tangisan Rasya tak terdengar lagi. Tak lama kemudian, pintu dibuka oleh anak itu.

__ADS_1


"Kalian janji tidak akan bertengkar lagi?" tanya Rasya seraya mengucek mata. Wajahnya tampak memerah dan berlinang air mata.


"Iya, kami janji. Iyakan, Pa?" Agni meminta persetujuan Arga.


Dengan berat hati, Arga terpaksa mengangguk. Jika bukan karena Rasya, dia pasti sudah mengusir Agni sekarang.


Rasya akhirnya bisa tersenyum. Dia mengajak Arga dan Agni untuk membuka kado bersama. Untuk sementara, Arga harus berpura-pura dekat dengan Agni. Semuanya dia lakukan demi anak.


Usai bersenang-senang bersama, Rasya kelelahan dan tertidur pulas. Saat itulah Arga dan Agni bisa bicara.


"Aku minta maaf atas semuanya. Tapi untuk sekarang, kita harus berpura-pura berbaikan demi Rasya," cetus Agni.


"Apa kau sengaja melakukan ini? Kenapa kau kembali lagi pada kami?" tanggap Arga dengan tatapan getir.


"Aku ibunya Rasya. Wajar kalau aku merindukannya, dan setelah bertemu, aku jadi ingin selalu berada di sisinya." Agni menatap penuh harap pada Arga. Sebenarnya tujuan kedatangannya bukan hanya untuk Rasya, namun juga karena Arga.


"Jangan bilang kau ingin menuntut hak asuh padaku?" terka Arga penuh curiga.


"Entahlah. Tapi yang jelas aku akan mengurus kepindahanku ke sini," ungkap Agni. "Oh iya, untuk sementara aku akan menginap di sini. Aku sudah berjanji pada Rasya," tambahnya sembari tersenyum puas. Ia tampak beranjak ke kamar mandi.


Arga mengusap kasar wajahnya. Dia masuk ke kamar dengan tatapan kosong. Perlahan Arga ambruk dan terduduk ke lantai.


"Aaarghhh!!!" Arga menggeram kesal. Dia menyesali yang telah terjadi. Harusnya Arga mengenalkan Laras pada Rasya lebih cepat, dengan begitu keadaannya tidak akan seperti ini.


...____...


Catatan Author :


Untuk sekarang kita fokus menyelesaikan masalah keluarga dulu ya guys. Nanti konflik sama Senopati jadi konflik akhirnya. Makasih buat yang masih setia baca... 😘

__ADS_1


__ADS_2