Impoten : Ritual Bergairah

Impoten : Ritual Bergairah
Bab 51 - Karma?


__ADS_3

...༻◊༺...


Setelah bercerai dengan Laras, Hery mencoba menjalani kehidupan barunya bersama Fita. Tetapi semuanya ternyata tidak semudah itu. Terlebih gosip tentang perselingkuhannya tersebar kemana-mana. Hery tidak menduga hal tersebut juga berdampak pada bisnisnya.


"Cepat lakukan sesuatu untuk menghapus semua berita buruk tentangku!" perintah Hery pada ketua Humas perusahaan. Hari itu dia sangat murka karena berita tentangnya sudah ditulis beberapa media internet. Hery tidak akan membiarkan itu terjadi.


"A-aku sudah mencoba, Bos! Tapi ini tidak semudah yang kau pikirkan. Beritanya terlanjur ada dimana-mana," sahut ketua humas dengan tergagap.


"Arrghhh!! Sialan!" umpat Hery sambil membanting ponsel ke lantai. Dia lalu duduk menghempas ke kursi. Hery mencengkeram kepalanya untuk menenangkan diri.


"Semua orang tidak tahu. Kalau mantan istriku lah yang berselingkuh," keluh Hery yang merasa frustasi. Dia kesal karena tidak sempat mencari bukti perselingkuhan Laras. Harusnya kemarin Hery tidak langsung setuju untuk bercerai secara baik-baik.


"Semuanya benar-benar kacau..." lirih Hery. Untuk pertama kalinya, hari itu dia harus lembur.


Ketika waktu menunjukkan jam 12 malam, barulah Hery pulang ke rumah. Fita langsung menyambutnya dengan wajah cemberut.


"Kau kemana saja, Mas?! Kenapa pesan dan teleponku tidak dijawab?" timpal Fita.


"Bisakah kita bicara nanti saja? Aku sangat lelah sekarang," sahut Hery. Dia mengabaikan Fita dan berjalan ke arah kamar.


Fita tercengang melihat sikap Hery. Dia menghentikan pergerakan lelaki itu.


"Kenapa kau pulang larut malam begini? Aku tidak makan malam karena menunggumu!" ujar Fita.


"Aku ada lembur. Keadaan perusahaanku sekarang sedang kacau. Sekarang biarkan aku istirahat!" kata Hery dengan dahi berkerut. Dia menarik tangannya dari cengkeraman Fita.


"Lembur? Mas pasti berbohong. Jangan bilang kau memiliki wanita lain selain aku?" duga Fita. Dia menghubungkan apa yang terjadi padanya sekarang dengan perlakuan Hery kepada Laras sebelumnya.


Hery memilih mengabaikan Fita. Dia terlalu lelah untuk berdebat sekarang. Dengan langkah gontai, dirinya menaiki tangga dan membuka pintu kamar.

__ADS_1


"Mas! Jawab aku! Apa itu benar?!" tanya Fita histeris. Dia menyusul Hery, lalu kembali mencegat pergerakan lelaki tersebut.


"Kau ini kenapa?! Lepaskan aku!" Hery berusaha melepaskan pegangan Fita.


"Enggak! Jawab dulu kemana kau pergi?!" desak Fita. Tanpa sadar, dia beradu kekuatan dengan suaminya sendiri.


"Aku sudah mengatakannya kepadamu! Kenapa kau tidak percaya, hah?!" tegas Hery.


"Aku tidak percaya! Kau bahkan tidak memberi kabar!" sahut Fita.


"Aaarghhh!!!" Hery sudah tidak tahan. Dia mengerahkan seluruh kekuatannya untuk lepas dari Fita. Perempuan itu terdorong dan jatuh menghantam meja. Tubuhnya terhempas kuat ke lantai.


Fita reflek memegangi perutnya. Terlihat cairan merah bercucuran di antara dua kakinya.


"Sayang!" seru Hery. Dia buru-buru menghampiri Fita.


...***...


"Baiklah. Ayo kita bercerai. Tapi setelah aku melahirkan," cetus Agni.


Arga mengangguk. "Itu tidak masalah. Lagi pula banyak yang harus kita urus sebelum melakukannya. Terutama menjelaskannya pada Rasya dan keluarga kita," jelasnya.


"Oke. Berjanjilah kita tidak mengatakan kesalahan satu sama lain," ujar Agni.


"Kau mengenalku. Aku tidak pernah melanggar janji," kata Arga.


Agni menarik sudut bibirnya ke atas. Seakan tidak mempercayai pernyataan Arga tersebut.


"Kenapa kau tersenyum?" selidik Arga.

__ADS_1


"Tidak apa-apa. Aku hanya lucu mendengarnya. Karena kau berselingkuh dariku," terang Agni.


"Jangan memancingku. Aku melakukannya karena..." Arga hampir saja keceplosan. Mengingat dia terpaksa bercinta dengan Laras hanya agar dapat sembuh dari impoten.


"Karena apa? Bosan denganku?" tebak Agni.


"Lupakan! Aku sekarang tidak ingin berdebat." Arga berjalan meninggalkan Agni. Dia kembali menemani Rasya bermain. Dirinya punya waktu sekitar tiga bulan lagi untuk bercerai.


Di waktu yang sama, Laras sedang berdiri di depan cermin. Dia merasa sangat senang karena apa yang dikatakan Rida sudah terbukti. Sampai sekarang, Laras dan janinnya masih sehat.


Bel pintu berbunyi. Laras segera membuka pintu. Sosok Linda menyambutnya.


"Lihat apa yang kubawa!" seru Linda sambil memamerkan belanjaannya. Dia membawa bahan makanan untuk dimasak.


"Ayo kita memasak!" ajak Laras antusias. Dia dan Linda segera pergi ke dapur. Di sana mereka memasak makan malam bersama.


Jujur saja, Laras merasa lebih baik sekarang. Apalagi saat memikirkan kelahiran anaknya nanti. Laras sudah tidak sabar ingin menjadi ibu. Itu adalah sesuatu yang sudah di impikannya sejak lama.


Keberadaan Linda sendiri sangat berarti bagi Laras. Teman lamanya itu membantu dia mendapatkan pekerjaan.


"Apa kau serius akan menetap di sini?" tanya Linda. Dia dan Laras sudah selesai memasak makan malam. Kini mereka menikmati makanan tersebut bersama.


"Iya. Bantu aku mengurus perubahan kewarganegaraan," pinta Laras. Pikirannya sudah bulat untuk menetap di Paris. Semua itu tentu dia lakukan demi buah hatinya. "Oh iya. Aku juga perlu bantuan mempelajari bahasa lokal," tambahnya.


Linda tersenyum tipis. "Tentu saja aku akan membantu. Kau bisa mengandalkanku. Aku senang jika pilihanmu ini bisa membuatmu merasa bahagia," tanggapnya.


"Aku tidak pernah merasa sebaik ini." Laras memegangi dadanya sambil memejamkan mata. Dia bersungguh-sungguh.


...____...

__ADS_1


Catatan Author :


Guys, misalkan nanti author tiba-tiba nggak update selama beberapa hari, itu berarti author lagi melahirkan. Soalnya bentar lagi meledak ini. Doakan aja supaya lancar ya... Hehe...


__ADS_2