Impoten : Ritual Bergairah

Impoten : Ritual Bergairah
Bab 55 - Pergi Jauh


__ADS_3

...༻◊༺...


Tangisan Arga membuat Rasya cemas. Anak itu mendekat dan menanyakan apa yang terjadi.


"Papa kenapa menangis?" tanya Rasya. Dia jadi ikut menangis karena melihat sang ayah terisak.


"Rasya!" Arga langsung memeluk Rasya. "Aku akan menyelamatkanmu. Aku berjanji demi apapun," ungkapnya.


"Ayo kita temui Mama kamu," ajak Arga. Sayangnya dia dan Rasya tidak bisa langsung menemui Agni. Mereka harus menunggu wanita itu siuman terlebih dahulu.


Ketika Agni terbangun. Dia justru melotot ke arah Arga. Tatapannya dipenuhi binar kebencian.


"Apa yang kau lakukan di sini?! Aku tidak mau melihat wajahmu lagi!" geram Agni.


"Agni, aku--"


"PERGI!!!" potong Agni yang nampak murka sekali. Arga benar-benar tak mengerti kenapa dia bersikap begitu.


"Mama! Jangan marahi, Papa. Dia sangat mengkhawatirkanmu." Rasya menghampiri Agni. Dia berusaha menenangkan ibunya.


Namun kepolosan Rasya justru dibalas dengan kebencian oleh Agni.


"Apapun yang terjadi, kau pasti akan memihak Papamu. Pergilah bersamanya dan jangan muncul lagi!" ujar Agni dengan gamblangnya. Akibat hal itu, Rasya menangis.


"Beraninya kau bicara begitu pada anakmu!" Arga langsung turun tangan untuk membela Rasya. Dia mencoba menenangkan putranya tersebut.

__ADS_1


"Hidupku jadi hancur karenamu, Arga! Sekarang gara-gara mengandung anakmu, tubuhku harus menderita dan sakit!" timpal Agni.


Arga menatap tak percaya. Ternyata itulah yang membuat Agni begitu marah kepadanya. Keinginan Arga untuk pergi jauh menjadi semakin kuat.


"Baiklah kalau kau mau aku pergi. Aku pastikan kau tidak bisa menemuiku dan Rasya lagi!" tegas Arga sembari menggendong Rasya. Dia beranjak dari ruangan Agni dengan langkah laju.


Tujuan Arga sekarang adalah pergi secepat mungkin. Dia berusaha mengurus kepindahannya terlebih dahulu. Arga bahkan tidak lupa mengurus perceraiannya dengan Agni. Ia menyerahkan urusan tersebut kepada pengacara terpercaya.


Sebelum pergi, Arga juga tak lupa berpamitan pada ibunya. Dia padahal mengajak sang ibu untuk ikut, tetapi ditolak. Alhasil Arga hanya pergi bersama Rasya.


Butuh waktu sekitar dua hari untuk mengurus semuanya. Hingga akhirnya Arga bisa benar-benar pergi. Kini dia dan Rasya ada di bandara.


"Apa kita akan pergi di waktu yang lama?" tanya Rasya.


"Mungkin begitu, Sya. Kau suka menggambar bukan? Paris adalah tempat yang cocok untukmu," kata Arga sembari merangkul Rasya. Dia memaksakan diri untuk tersenyum agar sang putra merasa lebih baik.


"Tentu saja. Ada banyak berbagai tipe gambaran di sana. Paris adalah tempat para seniman berkumpul," tanggap Arga.


Dari semua negara yang diketahui Arga, entah kenapa Paris menjadi pilihannya. Dia juga sengaja tidak memilih London karena tidak mau mengganggu Laras. Arga menganggap perempuan itu sudah tidak mau menemuinya lagi. Ia berpikir, lebih baik menjalani semuanya dari awal di tempat yang berbeda dengan Laras.


Alasan lain Arga memilih Paris, karena dia pernah sekali ke sana. Dia juga punya banyak teman yang melanjutkan pendidikan profesi di sana.


Tetapi siapa yang menduga? Tanpa sepengetahuan Arga, Laras juga tinggal di Paris. Mereka seolah memiliki telepati yang sulit dijelaskan.


...***...

__ADS_1


2 bulan berlalu. Laras baru selesai membuat kue. Dia tersenyum melihat hasil buatannya.


Sebenarnya sejak tadi Laras berusaha menahan sakit perutnya. Dia sesekali meringiskan wajah. Sampai tibalah saatnya rasa sakit Laras bertambah parah.


"Ugh!" Laras merintih sambil memegangi perut. Dia juga menopang tubuhnya ke meja.


"Laras!" seru Erika yang merupakan pemilik toko kue dimana Laras bekerja.


Karena sakitnya semakin bertambah, Laras pun dibawa ke rumah sakit. Dia dinyatakan sudah mengalami pembukaan ke tujuh.


Tahap demi tahap dilewati Laras. Dia tetap bertahan demi anak yang telah dinanti. Usahanya tidak sia-sia tatkala suara tangisan bayi terdengar.


Dengan keringat dan air mata, Laras menatap bayinya dengan penuh kekaguman. Dia merasa sangat bersyukur lebih dari apapun.


Tangisan Laras seketika berubah menjadi senyuman. Terutama saat melihat wajah bayinya. Dia mendapatkan seorang bayi perempuan.


Pasca melahirkan, Laras dibiarkan beristirahat. Dia ditemani oleh Linda dan Erika.


Di waktu yang sama, Arga ada di rumah sakit tempat Laras berada. Dia di sana hendak memenuhi panggilan wawancara. Arga mencalonkan diri untuk menjadi dokter di rumah sakit tersebut.


Dengan perasaan positif, Arga melakukan wawancara. Karena kepintaran dan keahliannya, dia diterima bekerja.


Hari itu Arga sangat senang sekali. Dia bisa mulai bekerja lusa nanti. Untuk sekarang, Arga ingin menjemput Rasya pulang sekolah.


Semenjak tiba di Paris, Arga memang fokus beradaptasi dan mencari pekerjaan. Dia juga tidak lupa mengajari Rasya untuk berbaur dengan orang sekitar. Mengingat mereka akan tinggal di sana cukup lama.

__ADS_1


Ketika berjalan melewati koridor rumah sakit, Arga tak sengaja melewati kamar inap Laras. Tetapi karena tidak tahu, dia terus melangkah maju begitu saja.


__ADS_2