Impoten : Ritual Bergairah

Impoten : Ritual Bergairah
Bab 52 - Mengenai Hak Asuh


__ADS_3

...༻◊༺...


Karena akan bercerai, Arga ingin membahas tentang hak asuh. Dia dan Agni sedang berada di luar rumah. Membicarakan semuanya di waktu makan siang.


"Aku ingin membicarakan perihal hak asuh. Menurutmu--"


"Aku akan mengalah!" potong Agni.


"Maksudmu?" Arga menuntut jawaban.


"Aku akan membiarkan Rasya dan anak kedua kita ikut denganmu," jelas Agni.


Pupil mata Arga membesar. Dia tahu kalau Agni tidak ahli mengurus anak, tetapi Arga tak menyangka istrinya itu membuat keputusan begitu. Entah ibu macam apa Agni. Sejak awal perempuan tersebut memang lebih mencintai karirnya. Tidak heran Arga menjadi orang yang lebih dekat dengan Rasya.


"Ternyata itu alasanmu ingin bercerai setelah melahirkan nanti?" tebak Arga.


"Aku tidak ahli mengurus anak. Rasya bahkan lebih dekat denganmu. Dia pasti akan memilihmu! Lagi pula aku bisa sesekali menemui mereka kan?" tanggap Agni.


Arga terdiam. "Aku tidak menyangka kita bisa mengatasi hak asuh semudah ini," komentarnya. Masih merasa tak percaya.


"Kau dokter kandungan. Aku yakin kau pasti lebih mengerti banyak tentang anak," sahut Agni. Dia tampak tenang menikmati hidangannya. Karena hamil tua, Agni selalu ingin banyak makan.


"Iya, aku memang dokter kandungan. Tapi kau ibu dari anak-anak kita. Setahuku, seorang ibu lebih dekat dengan anaknya dibanding siapapun," ungkap Arga.


"Kalau begitu dalam kasusku berbeda. Apa kau tahu seberapa keras aku mencoba dekat dengan Rasya? Dalam beberapa kesempatan aku berusaha bermain dengannya. Tapi dia tetap lebih menyukaimu!"

__ADS_1


"Itu karena kau meluangkan waktu sedikit untuknya. Andai kau melakukannya setiap hari, Rasya pasti akan merasa dekat denganmu."


"Sudahlah. Lebih baik kita melihat kenyataan. Faktanya Rasya lebih dekat denganmu. Jagalah dia dan adiknya sebaik mungkin. Kau tidak keberatan kan?" Agni berucap sambil memegangi perutnya.


"Aku sama sekali tidak masalah mendapat hak asuh kedua anak kita. Tapi aku ingin pastikan, kau tidak akan menyesali keputusanmu ini." Arga bicara dengan serius.


Agni tersenyum simpul. "Hal yang paling aku sesali adalah menghabiskan separuh hidupku bersamamu. Harusnya aku dulu tidak tergoda denganmu dan tetap menjadi wanita karir," imbuhnya.


Jleb!


Perkataan Agni menghantam perasaan Arga dengan kuat. Menyakitkan mendengar hal itu dari seseorang yang ingin dipercaya. Padahal selama ini Arga selalu menganggap Agni sebagai belahan jiwanya.


Arga hanya bisa membisu. Dia meredam amarahnya dengan baik. Arga menikmati makan siang agar bisa mengalihkan pikirannya.


...***...


Ada sesuatu yang mengganggu Arga di tengah malam. Yaitu jendela kamar yang terbuka.


Gorden jendela berkibar mengikuti arus angin malam yang masuk. Melihat itu, Arga bergegas menutup jendela. Atensinya harus tertuju pada sosok lelaki tidak asing yang berdiri di luar. Dia tidak lain adalah Senopati.


"Mbah?" Pupil mata Arga membesar.


"Turunlah! Kita harus bicara," kata Senopati pelan. Namun bisa didengar oleh Arga dengan jelas.


Arga lantas menurut. Dia segera menemui Senopati. Keduanya bicara di halaman belakang rumah. Tepatnya di bangku dekat pohon mangga.

__ADS_1


"Ada keperluan apa kau ke sini? Bukan kah aku dan Laras sudah membayarmu dengan rumah yang kau inginkan?" tanya Arga.


"Iya, kalian memang sudah membayarku. Tapi kalian berhenti melakukan ritual," ungkap Senopati. Dia sejak tadi memancarkan aura serius. Terus menatap ke arah depan.


"Kami berhenti karena sudah tidak ada gunanya melanjutkan. Rumah tanggaku dan Laras berantakan," jelas Arga.


"Aku tahu. Tapi salah satu dari kalian pergi dan melarikan diri dari konsekuensi!" kata Senopati


"Maksudmu?" Arga mengerutkan dahi.


Senopati akhirnya menatap Arga. "Laras pergi tanpa memberikan tumbal pengakhiran ritual padaku!" tegasnya.


"Tumbal pengakhiran ritual?" Arga menuntut jawaban.


"Bukan kah aku sudah mengatakan ini sebelumnya?!" Senopati melotot.


Arga akhirnya ingat dengan apa yang akan terjadi jika dirinya dan Laras berhenti melakukan ritual. Jika Arga kembali impoten, maka Laras otomatis kembali mandul. Hal tersebut juga mengartikan bahwa janin dalam kandungan Laras harus mati.


"Beritahu aku kemana Laras pergi? Dedemit telaga hitam sangat marah dan menginginkan janin dalam kandungan Laras secepatnya!" ucap Senopati.


Arga menggeleng. "Aku tidak tahu kemana dia pergi. Aku bahkan sudah lama tidak menghubunginya. Nomor Laras sudah tidak aktif lagi," tanggapnya.


"Sebaiknya kau cari tahu kemana dia pergi! Kalau tidak, maka anakmu lah yang akan jadi gantinya," ancam Senopati.


Mata Arga membulat sempurna. "Kenapa begitu, Mbah? Ini tidak adil! Jangan libatkan anakku!" tolaknya.

__ADS_1


"Kalau kau menemukan Laras. Bujuklah dia untuk kembali ke sini!" Senopati memerintah dengan paksaan.


"Tapi, Mbah--" perkataan Arga terhenti saat menengok ke arah Senopati. Dia kaget karena lelaki tua itu sudah menghilang.


__ADS_2