
...༻◊༺...
Waktu menunjukkan jam 9 pagi. Arga dan Laras berjalan memasuki hutan. Keduanya saling berpegangan tangan melewati jalanan setapak yang dipenuhi rumput tinggi.
"Berhati-hatilah. Ada rumput yang bisa membuatmu terluka," kata Arga sembari memperhatikan Laras berjalan. Memastikan perempuan tersebut baik-baik saja.
Arga dan Laras pergi memeriksa perkembangan rumah Senopati. Itu adalah sesuatu yang harus mereka lakukan untuk membayar dukun tersebut.
Para tukang bangunan bekerja dengan baik. Rumah yang dibangun harus terbuat dari kayu jati. Arga dan Laras berharap rumahnya bisa rampung secepat mungkin.
"Gimana, Mas? Nggak ada halangan kan?" tanya Arga.
"Lancar, Tuan! Karena komponennya hanya kayu, jadi selesainya bisa lebih cepat," jawab Tarno. Salah satu tukang yang mengerjakan rumah Senopati.
"Mas, aku ingin semua ini dirahasiakan ya. Jangan sampai siapapun tahu," kata Laras. Dia mengambil amplop cokelat yang sudah di isi beberapa gepok uang. Laras memberikan uang tersebut pada Tarno.
"Iya, Nona, Tuan. Aku dan yang lain akan merahasiakan semua ini. Lagi pula, ini bukan pertama kalinya kami dibayar untuk melakukannya. Jadi kalian bisa tenang," tutur Tarno.
Laras dan Arga lantas berterima kasih. Keduanya membiarkan Tarno untuk bekerja kembali.
Kini Laras dan Arga kembali menyusuri jalanan setapak. Laras menggandeng lengan Arga. Ia meletakkan kepala ke pundak lelaki itu.
"Anehnya aku tidak merasakan mual sedikit pun saat bersamamu," ungkap Laras.
"Aku senang mendengarnya," tanggap Arga. Dia jadi terpikirkan mengenai bayi dalam kandungan Laras. "Jadi bagaimana keputusanmu? Apa yang akan kau lakukan pada bayimu?" tanyanya. Mengingat Laras sudah mengetahui perihal perselingkuhan Hery.
"Entahlah. Tapi sepertinya aku akan mempertahankannya. Bahkan jika aku dan Mas Hery harus berpisah," jawab Laras.
__ADS_1
"Apa kau akan berpisah dengan Hery?" Arga menatap Laras dengan sudut matanya.
"Aku tidak tahu. Aku hanya ingin melupakannya walau cuma sejenak." Laras mendengus kasar.
"Oke. Bagaimana kalau kita bersenang-senang untuk melupakan semuanya sejenak. Aku akan memesan wine dan daging untuk kita berdua," cetus Arga.
"Bagus juga. Tapi sambil menunggu itu, ayo kita membuat kue!" Laras setuju dan malah mengusulkan kegiatan menarik lain. Dia dan Arga segera kembali ke villa. Keduanya pergi ke toko terdekat untuk membeli bahan kue.
Setelah membeli bahan, Laras segera membuat kue di villa. Tanpa diduga Arga ikut bergabung bersamanya. Lelaki tersebut sudah siap dengan menggunakan celemek. Hal itu membuat Laras sedikit kaget.
"Biarkan aku membantumu," ujar Arga antusias.
Laras berkacak pinggang. "Apa kau pernah membuat kue, Tuan Dokter?" tukasnya.
"Tidak pernah. Tapi aku punya tangan ajaib yang bisa melakukan apapun," sahut Arga.
"Apa segini cukup?" Arga menuangkan tepung ke dalam wadah.
"Tambah lagi," kata Laras yang mengamati. Arga pun menurut dan menuang tepung lebih banyak. Akan tetapi karena kecerobohan, dia jadi menumpahkan tepung. Bahkan sampai menghantam sedikit wajahnya.
"Hahaha! Kau seperti memakai bedak!" Laras tertawa pecah melihatnya.
"Kalau begitu aku juga akan memakaikannya padamu!" Arga memberikan tepung ke wajah Laras. Kegiatan membuat kue seketika berubah menjadi perang tepung. Keduanya terus bercanda dan tertawa bersama. Ya, semakin akrab mereka, maka benih-benih cinta akan tumbuh tambah dalam.
Candaan berakhir saat Arga memeluk Laras dari belakang. Keduanya terpojok ke depan dinding.
Laras segera memutar tubuhnya menghadap Arga. Mereka saling memandang lamat-lamat.
__ADS_1
"Kau mampu merubah segalanya menjadi lebih baik," kata Arga.
"Aku harap waktu tidak cepat berlalu sekarang," balas Laras. Bibirnya dan bibir Arga segera bertautan. Mereka berciuman dengan romantis kali ini.
"Bagaimana kalau kita lebih sering menghabiskan waktu di sini? Kita jadikan villa ini markas kita," imbuh Arga. Tepat setelah melepas tautan bibirnya dari mulut Laras.
"Markas? Aku merasa seperti penjahat." Laras terkekeh.
Arga tertunduk sejenak. Dia menjawab dengan serius, "Kita memang seperti penjahat yang terus bersembunyi kan?"
Laras langsung berhenti tersenyum. Dia tidak bisa membantah pernyataan Arga itu. Laras tahu betul dirinya dan Arga melakukan kesalahan besar.
"Tapi tidak apa. Kau tidak sendiri." Arga menggendong Laras. Hingga kedua kaki perempuan itu melingkar erat di pinggulnya. Mereka kembali bercumbu. Kegiatan membuat kue seketika tidak jadi dilakukan.
Ponsel Arga dan Laras sama-sama kehabisan baterai. Mereka juga tidak mengisi daya ponsel karena kebetulan tak membawa alat pengisi daya sesuai ponsel masing-masing. Keduanya tidak tahu kalau pasangan mereka terus menghubungi.
"Sudahlah, Sayang. Mungkin selain mual melihatmu, dia juga tidak mau bicara denganmu," ujar Fita yang sejak tadi melihat Hery gelisah karena teleponnya tak kunjung dijawab Laras. Mereka sedang berada di balkon menikmati teh bersama.
"Aku hanya memastikan keadaannya. Dia sedang hamil sekarang," sahut Hery.
"Tapi aku juga sedang hamil! Dan aku sangat cemburu melihatmu lebih memperdulikan orang lain," sinis Fita.
"Orang lain kau bilang? Laras juga istriku!" tegas Hery.
"Aku juga istrimu!" Fita kesal. Dia melangkah cepat meninggalkan Hery dengan wajah cemberut.
Hery mendengus kasar. Dia duduk menghempas ke kursi. Dirinya memijit-mijit kepalanya karena merasa pusing dengan dua istri yang harus di urus. Karena mencemaskan Laras, Hery menelepon ke rumah. Ia menanyakan keadaan Laras melalui Bi Iyem.
__ADS_1
Hery bingung saat Bi Iyem mengatakan kalau sejak kemarin Laras tidak terlihat ada di rumah.