Impoten : Ritual Bergairah

Impoten : Ritual Bergairah
Bab 35 - Menyadari Keanehan


__ADS_3

...༻◊༺...


Mata Agni membulat sempurna. Dia segera menyeret pemuda yang menyapanya ke tempat aman. Dimana Arga dan Rasya tak bisa menemukan.


"Sialan! Beraninya kau menyapaku di tempat umum!" geram Agni sembari mendorong kasar si pemuda. Pemuda itu memiliki nama samaran Virgo.


"Aku tidak akan melakukannya kalau kau tidak menghilang dariku," sahut Virgo. Dia menarik sudut bibirnya ke atas. "Apa kau ke sini bersama suamimu itu?" tukasnya.


"Iya. Kumohon jangan ganggu aku!" balas Agni.


"Tapi bukan berarti kau harus melupakan janjimu." Virgo masih saja membicarakan perihal janji.


"Janji apa? Aku tak mengerti!" Agni merasa tak pernah memberikan janji pada Virgo.


"Saat terakhir kali kau pernah bilang akan membelikanku apartemen kalau aku bisa memuaskanmu semalaman. Sekarang aku sudah siap untuk itu," kata Virgo.


Agni terperangah mendengarnya. Dia menggeleng sambil melangkah mundur. "Itu bukan janji. Lagi pula aku ingin berhenti berurusan dengan orang sepertimu!" tukasnya.


"Kalau begitu belikan saja aku apartemen." Virgo tersenyum licik.


"Enak saja! Kau pikir membeli apartemen itu seperti membeli singkong rebus?! Sebaiknya kau pergi sekarang!" hardik Agni. Dia segera beranjak meninggalkan Virgo.


"Apa kau tidak cemas aku akan mengatakan semuanya pada suamimu?!" ucap Virgo. Sukses membuat langkah kaki Agni terhenti. Perempuan itu terpaksa kembali menghampiri Virgo.


"Jangan coba-coba!" Agni menegaskan.


"Makanya lakukan sesuatu agar aku bisa menutup mulut." Virgo menggunakan kesempatan dengan baik.

__ADS_1


Agni diserang rasa panik. Setelah berpikir, dia akhirnya tak punya pilihan selain membayar uang tutup mulut Virgo dengan apartemen.


"Begitu dong dari tadi! Nanti aku akan beritahu apartemen mana yang ingin kubeli." Virgo puas bisa mendapatkan yang dirinya mau.


"Apa?! Kau akan memilih apartemenmu sendiri?" Agni terkejut.


"Tentu saja. Itu hakku bukan?" Virgo tersenyum menyebalkan sampai memperlihatkan deretan giginya.


Agni mengeratkan rahang kesal. Dia hanya bisa melampiaskan dengan cara mengepalkan tinju di kedua tangan. Mempelototi Virgo penuh amarah.


"Oh iya. Bagaimana kau bisa bertahan dengan suamimu yang impoten itu? Kau tidak--"


"Dia sudah sembuh! Aku juga sedang hamil anaknya!" potong Agni sembari memegangi perut. Tersenyum arogan.


"Benarkah? Kau yakin itu anaknya?" tanggap Virgo yang langsung membuat Agni kembali kesal. "Karena mungkin saja itu anakku, atau Ferry? Doni? Elang?" tambahnya.


Agni yang tak tahan, menampar keras wajah Virgo. "Tutup mulut busukmu itu!" geramnya.


"Aku hanya menyebutkan fakta kalau kau sudah pernah tidur dengan banyak pemuda. Tepat saat suamimu impoten." Virgo merasa menang. Dia memegang kotak pandora Agni.


"Bajingan!" Agni ingin memukuli Virgo lebih banyak dengan dua tangan. Tetapi pemuda itu sigap memegangi kedua tangannya.


"Oh iya, bicara mengenai suamimu. Bukankah kau pernah bilang kalau suamimu tidak bisa disembuhkan? Bagaimana dia bisa sembuh dari impoten?" selidik Virgo.


"Sehebat itulah suamiku! Aku akan setia padanya. Jadi jangan ganggu aku lagi setelah nanti apartemen yang kau inginkan sudah kuberikan!" Agni menghempaskan dua tangan Virgo.


Virgo tampak memiringkan kepala. Dia terpikirkan tentang sesuatu yang diketahuinya. "Aku pernah mendengar kalau di kampungku ada dukun yang bisa menyembuhkan impoten. Katanya banyak orang kaya yang meminta bantuan dukun itu. Mungkinkah suamimu juga mendapat bantuan dukun?" duganya.

__ADS_1


"Omong kosong! Suamiku dokter! Dia bahkan tak percaya hantu!" bantah Agni. Dia kali ini benar-benar pergi meninggalkan Virgo.


"Saranku kau harus mencari tahu! Banyak yang ketiban sial karena melakukan ritual dukun itu!" ujar Virgo. Memberitahu sebelum Agni benar-benar beranjak. Namun perempuan itu tak menghiraukan sama sekali.


Agni kembali ke dekat wahana bianglala. Dia melihat Arga dan Rasya sudah turun dari wahana.


"Kau kemana saja? Kami mencarimu!" ucap Arga.


"Iya. Kami pikir Mama hilang. Hampir saja aku sama Papa lapor ke pihak pengamanan," ungkap Rasya.


"Aku tadi ke toilet. Tiba-tiba sakit perut. Jadi nggak sempat bilang ke kalian," kilah Agni. "Ya sudah. Sebagai bayarannya, ayo kita makan malam! Mama yang traktir!" ajaknya. Dia, Arga, dan Rasya segera pergi ke restoran terdekat.


Sekarang Arga dan keluarga kecilnya menikmati makan malam. Ponselnya mendadak menderingkan notifikasi. Dia langsung memeriksa dan menemukan notifikasi bahwa bulan purnama akan terjadi lusa malam nanti.


Arga mendengus kasar. Dia sebenarnya ingin mengakhiri hubungan dengan Laras. Tetapi di sisi lain, dirinya masih membutuhkan perempuan itu agar bisa menjadi suami sempurna untuk Agni.


'Tidak apa-apa. Mungkin beberapa kali lagi tidak masalah,' batin Arga meyakinkan dirinya.


Di saat yang sama, Agni tenggelam memikirkan perkataan Virgo terakhir kali. Dia baru sadar kalau kesembuhan impoten Arga yang tiba-tiba memang terasa aneh. Sang suami bahkan tidak pernah bercerita tentang kesembuhannya.


"Mas!" panggil Agni sembari melirik Rasya. Memastikan anak itu asyik bermain ponsel.


"Iya?" Arga menatap Agni.


"Aku ingin bertanya tentang senjata pribadimu." Agni menunjuk organ intim Arga dengan matanya.


Arga melebarkan kelopak mata. "Kenapa? Punyaku tidak sedang mencuatkan?" tanyanya seraya mengamati alat vital sendiri.

__ADS_1


"Enggak. Aku cuman pengen bertanya bagaimana itu bisa sembuh?" tukas Agni.


__ADS_2