Impoten : Ritual Bergairah

Impoten : Ritual Bergairah
Bab 37 - Malam Purnama Kesekian


__ADS_3

...༻◊༺...


Satu hari sebelum bulan purnama, Laras mendapat telepon dari Arga. Lelaki itu merencanakan pertemuan untuk ritual selanjutnya.


"Kita bertemu di hotel sebelumnya saja," usul Laras. Wajahnya tampak pucat sekali.


"Baiklah..." sahut Arga. Untuk pertama kalinya, mereka bicara singkat.


Laras mendengus kasar saat panggilan telepon dimatikan oleh Arga. Dia semakin yakin kalau lelaki itu sepertinya akan fokus dengan rumah tangganya.


"Tidak masalah. Aku masih punya anak yang harus kujaga." Laras hanya bisa menyemangati dirinya sendiri.


Waktu menujukkan jam sepuluh pagi. Laras harus pergi ke pengadilan untuk mengurus perceraian.


"Jangan cemas, Kak. Aku bisa mengurusnya sendiri. Lagi pula aku tinggal tanda tangan kan?" Laras sedang bicara ditelepon dengan Rangga. Kakak lelakinya itu kebetulan sedang sibuk dan tidak bisa menemani Laras.


"Iya. Kau hanya perlu tanda tangan. Kalau ada apa-apa, hubungi aku," tanggap Rangga dari seberang telepon.


Laras segera mematikan telepon. Dia terus berjalan menuju kantor pengadilan. Namun langkahnya harus terhenti ketika menyaksikan Hery muncul.


"Aku mendengar kalau kau hari ini akan ke sini," ujar Hery.


"Lalu kau mau apa? Pikiranku tidak akan berubah!" sahut Laras ketus.


"Aku tahu. Tapi izinkan aku bertanya mengenai kepergianmu selama ini. Aku baru tahu kalau kau sudah beberapa kali membohongiku. Kau bilang orang tuamu sakit, tapi nyatanya tidak!" Hery menuntut penjelasan dari Laras.

__ADS_1


Laras terhenyak. Dia tidak menyangka Hery mengetahui perihal kebohongannya.


"Itu bukan urusanmu! Lagi pula sudah tidak ada artinya aku menjelaskan sekarang. Kita akan berpisah!" Laras berusaha beranjak meninggalkan Herry. Tetapi lelaki itu sigap mencegatnya.


"Apa kau menemui lelaki lain?" tanya Hery.


Laras menghempaskan tangan Hery. "Kalau iya, kenapa? Apa kau mau bekerjasama untuk mengurus perceraian kita? Kalau begitu, aku tidak perlu repot-repot mencari bukti," ujarnya.


"Tidak mungkin. Kau bukan tipe wanita yang punya teman lelaki." Sebagai orang yang mengenal Laras sejak SMA, Hery sangat tahu bagaimana kepribadian istrinya. Ia mengenal Laras sebagai perempuan yang tak bisa berteman dengan lelaki.


"Semua orang bisa berubah, Mas. Contohnya, lihat saja dirimu sendiri!" tukas Laras. Dia bergegas meninggalkan Hery. Lelaki itu tak lantas tak bisa menghentikan lagi.


Laras merasa lega saat bisa menghadapi dengan baik. Dia bahkan bisa memberikan jawaban atas pertanyaan Hery mengenai kebohongannya. Laras pergi dari kantor pengadilan setelah mengurus perihal perceraiannya.


...***...


Satu jam kemudian, Laras akhirnya datang. Arga menyambutnya dengan senyuman. Namun gadis itu tidak membalas senyumannya sama sekali.


Laras tampak sendu dan pucat. Dia tidak seperti biasanya. Perlahan Laras duduk ke sofa. Di sana dirinya meletakkan tas bahu.


"Kau baik-baik saja? Kau terlihat pucat sekali. Kau bisa beritahu aku apa yang terjadi," ucap Arga sembari duduk ke samping Laras.


"Sebaiknya kita tidak perlu menceritakan masalah pribadi. Kita langsung saja melakukan ritual," usul Laras. Dia berdiri dan melepas pakaiannya satu per satu. Setelah menanggalkan seluruh pakaian, Laras berjalan memasuki kamar mandi.


Arga terdiam seribu bahasa. Dia mencoba memaklumi sikap Laras dan menyusul ke kamar mandi.

__ADS_1


Kini Arga juga tidak mengenakan satu helai benang pun seperti Laras. Dia segera menghampiri perempuan yang sekarang berdiri di bawah shower tersebut.


"Laras... Aku--" Laras tak membiarkan Arga bicara. Dia langsung membekap bibir lelaki itu dengan ciuman. Keduanya lantas mulai saling mencumbu satu sama lain. Hingga ritual berjalan lancar sampai akhir.


Arga membiarkan Laras membersihkan diri lebih dulu. Dia sekarang sedang duduk di sofa. Mencemaskan keadaan Laras yang sepertinya sedang menghadapi masalah berat.


Pikiran Arga buyar tatkala Laras keluar dari kamar mandi. Perempuan itu ingin segera mengenakan pakaian.


"Apa yang terjadi padamu dengan Hery? Hery tidak menyakiti--"


"Arga! Sudah kubilang jangan membicarakan masalah pribadi kita! Kau sebaiknya fokus dengan rumah tanggamu sendiri!" potong Laras tegas. Dia bahkan menajamkan tatapannya. Membuat Arga sontak tak bisa berkata-kata.


Laras beranjak pergi setelah mengenakan pakaian. Namun saat hendak membuka pintu, dia mendadak tumbang ke lantai.


"Laras!" pekik Arga. Dia buru-buru menghampiri Laras. Perempuan tersebut jatuh pingsan. Arga segera membawa Laras telentang ke ranjang.


"Badannya tidak panas. Tapi terlihat lemas sekali. Kau pasti lelah sekali," imbuh Arga. Dia memutuskan menjaga Laras. Lelaki itu bahkan tak sengaja tertidur untuk menemaninya.


Dering ponsel yang terus berbunyi, membuat Laras dan Arga terbangun bersamaan. Dahi Laras berkerut ketika melihat Arga ada di sebelahnya.


Arga yang menyadari ponselnya berdering, memilih mendiamkan benda pipih itu.


"Kau seharusnya tidak perlu sampai berbuat begini padaku!" timpal Laras.


"Kau jatuh pingsan. Kau harus banyak istirahat," saran Arga yang tak peduli dengan peringatan Laras. Sungguh, dia sangat mencemaskan perempuan tersebut.

__ADS_1


"Kumohon! Berhentilah mencemaskanku!" pekik Laras sambil memecahkan tangis.


__ADS_2