Impoten : Ritual Bergairah

Impoten : Ritual Bergairah
Bab 81 - Ingin Cepat-Cepat


__ADS_3

...༻◊༺...


Saat Agni dan Hery berjalan mendekati gubuk, Senopati malah beranjak masuk. Keduanya sontak heran. Itu semua terlihat dari dahi mereka yang berkerut dalam.


"Aku rasa dia ingin kita mengikutinya," kata Hery. Dia melangkah lebih dulu memasuki gubuk, lalu di iringi oleh Agni setelahnya.


Ketika sudah berada di dalam gubuk, pintu yang tadinya terbuka, perlahan tertutup sendiri. Itu sampai membuat Hery dan Agni tersentak kaget. Agni bahkan reflek memegang lengan Hery.


"Apa kau takut?" tanya Hery.


"Ti-tidak! Kenapa kau berpikir begitu?" balas Agni, tak terima dicap penakut oleh Hery.


"Duduklah! Kita bisa bicarakan semuanya." Suara Senopati terdengar. Agni dan Hery lantas mengikuti sumber suara. Mereka menyingkap sebuah tirai merah dimana siluet Senopati tampak jelas berada di baliknya.


Pemandangan Senopati yang duduk bersila menyambut. Dia duduk di depan meja yang dipenuhi dupa, bunga tujuh rupa, serta barang-barang tidak biasa lainnya.


"Selamat datang..." sambut Senopati.


"Kedatangan kami ke sini bukan untuk bertamu. Sebaiknya kau beritahu kami dimana Laras dan Arga berada. Kami tidak akan biarkan mereka mengorbankan anak yang tak bersalah lagi!" timpal Agni sambil melipat tangan di dada.


"Penumbalan yang terjadi berdasarkan keputusan Arga dan Laras. Itu adalah resiko yang harus mereka terima," sahut Senopati.


"Eh dukun edan! Tidak usah banyak bacot. Kau sebaiknya beritahu kami dimana Laras dan Arga!" tukas Hery.


Senopati justru tergelak. Dia berkomentar, "Kalian orang terbodoh yang pernah kutemui."

__ADS_1


"Dia mengejek kita," ucap Agni sembari melotot ke arah Senopati. Tanpa diduga, dengan beraninya di menendang meja. Hingga semua benda-benda keramat yang ada di sana berjatuhan. Sebuah kendi misterius bahkan pecah karena ulah Agni. Dari kendi tersebut, keluar cairan berwarna darah kental dan berbau anyir.


"Bajingan! Apa yang kau lakukan!" Senopati sontak marah. Meskipun begitu, dia lebih memilih mengurus barang-barang keramat yang sudah dijatuhkan Agni. Dipunguti Senopati benda-benda aneh itu dengan hati-hati.


Agni dan Hery menatap risih Senopati yang duduk bersimpuh hanya untuk menyelamatkan barang-barang keramat.


Senopati tampak ketakutan saat melihat kendi miliknya tak terselamatkan. Dia perlahan melirik tajam Agni.


"Kalian sudah membuat kesalahan besar!" ujar Senopati.


Agni dan Hery saling menatap bingung. Mereka tentu tidak mengerti apa yang dimaksud Senopati.


Hery malah tersenyum. "Makanya, seharusnya dari awal kau beritahu dimana Arga dan Laras. Sekarang sebaiknya kau beritahu kami!" ucapnya sambil berjongkok ke hadapan Senopati. Mereka tampak melakukan perang pelototan.


Senopati ingin sekali mengeluarkan semua kemarahannya. Akan tetapi dia terpikirkan cara lain untuk memberi pelajaran pada Agni dan Hery.


...***...


Setelah mengantar Rasya pergi ke sekolah, Arga langsung mendatangi beberapa rumah sakit terbaik. Karena ingin tinggal menetap, dia tentu berharap bisa memiliki pekerjaan tetap.


Satu per satu rumah sakit didatangi Arga. Namun kali ini semuanya tidak berjalan mulus seperti di Paris. Dia jadi sulit diterima bekerja karena durasi pekerjaannya di Paris terlalu cepat. Kebanyakan rumah sakit yang didatangi Arga juga tidak mempercayai alasan dirinya pindah tempat.


Arga mendengus kasar. Untuk pertama kalinya dia mengkhawatirkan masalah keuangan. Bagaimana dia bisa menikahi Laras jika tidak punya uang yang cukup? Belum lagi dengan urusan Rasya dan Adella. Membiayai anak tentu akan terus meningkat seiring bertambahnya usia.


"Berhentilah berpikir berlebihan, Ga. Aku yakin kau pasti dapat pekerjaan." Arga bermonolog pada dirinya sendiri. Dia menjadi tertekan karena ingin cepat-cepat menikahi Laras. Alhasil masalah kecil sedikit saja bisa menjadi beban pikiran baginya. Sesuatu yang dilakukan tergesa-gesa memang tidak baik.

__ADS_1


Berbeda dengan Arga, Laras lebih santai. Kini dia baru selesai berbenah. Ia mengajak Arga bertemu di mini market sore nanti. Laras juga tidak lupa menyuruh lelaki itu untuk mengajak Rasya. Dirinya berniat akan memulai pendekatannya dengan Rasya.


"Aku harus melakukannya senatural mungkin," gumam Laras seraya bercermin. Demi bisa dekat dengan Rasya, dia bahkan bergadang tadi malam. Laras membaca tips-tips di internet bagaimana cara menjadi ibu yang baik. Mengingat dia belum pernah menghadapi anak seumuran Rasya sebelumnya. Bagi Laras, itu termasuk tantangan yang cukup berat.


Saat sore tiba, bertemulah Arga dan Laras di mini market. Mereka melakukan pertemuan seolah seperti kebetulan. Semua itu keduanya lakukan untuk Rasya.


"Rasanya aneh sekali aku dan Papa selalu kebetulan bertemu Tante dan Adella," ungkap Rasya dengan wajah polosnya.


Arga dan Laras sontak saling lempar pandang. Ada ketakutan dalam diri Laras kalau Rasya bisa saja mengetahui rencananya dan Arga.


"Namanya juga kebetulan. Lagi pula kan baik kalau kita sering bertemu dengan orang dari warga negara yang sama dengan kita." Arga segera angkat bicara agar bisa mencegah pemikiran curiga dari Rasya.


"Benar juga ya, Pa. Andai aja Adella seumuran denganku. Pasti seru!" tanggap Rasya.


"Kau masih bisa berteman sama Adella kok, Sya. Coba bikin dia ketawa, rasanya menyenangkan loh!" Laras mendekatkan Adella ke hadapan Rasya. Anak lelaki tersebut lantas mencoba mengajak Adella bercanda.


Melihat pemandangan itu, Laras tersenyum senang. Dia perlahan menatap Arga. Namun lelaki tersebut tampak lelah dan tidak bersemangat seperti biasa.


"Kau tidak apa-apa?" tanya Laras.


"Aku hanya lelah. Ternyata mencari pekerjaan di sini cukup sulit," jawab Arga.


"Ayolah, Ga. Ini baru hari pertama. Aku yakin kau pasti dapat pekerjaan." Laras memberikan semangat.


"Kau benar." Arga mengiyakan saja. Walaupun begitu, dia masih merasa terganggu.

__ADS_1


Melihat Arga belum membaik, Laras segera mendekat. "Datanglah ke rumahku malam ini. Temani aku membuat kue..." bisiknya dengan senyuman menggoda.


__ADS_2